Kebangkitan Agama di Rusia

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

 

Sejak menggulirnya perestroika dan glasnost tahun 1991 yang juga ditandai dengan bubarnya Uni Soviet, kehidupan agama di Rusia menemukan momentum baru.Kehidupan agama yang semua selalu ditekan di bawah pemerintahan komunis, sekarang bagaikan rerumputan kering yang memperoleh siraman hujan,bermunculan ke permukaan sosial dengan penuh antusias.

Masyarakat tidak lagi takut- takut mengenalkan afiliasi serta identitas etnis dan agama secara terbuka. Negara Federasi Rusia dengan penduduk sekitar 140 juta, terdiri atas 71,8% Kristen Ortodoks,18% Islam, 1,8% Katolik, 0,7% Protestan, 0,6% Buddha, 0,3% Yahudi, 0,9% beragam sekte, sisanya tanpa agama. Dari segi etnis, yang terbesar tentu saja Rusia, sekitar 79,8%.

Kantong-kantong Islam ada di Moskow, Negara Bagian Tatarstan, Dagestan, Chechnya, dan Ingushetia.Pemeluk Islam juga tersebar di semua negara bagian Rusia dan berkembang bak jamur pada musim dingin. Salah satu kantong terbesar umat Islam adalah Republik Tatarstan dengan ibu kota Kazan, yang berpenduduk sekitar 4 juta, di mana 50% penduduknya adalah muslim.

Meski sudah tiga kali jalan-jalan ke Rusia, baru kali ini saya sempat ke Kazan, menghadiri Interfaith Dialogue dan bertemu langsung dengan beberapa tokoh agama di sana, baik dari kalangan muslim, Kristen Ortodoks,Yahudi, maupun Katolik serta intelektual muslim di sana. Di samping untuk menghadiri seminar,kepergian saya ke sana untuk mendorong kerja sama antara Universitas Islam Rusia dan Universitas Islam Negeri (UIN) di Indonesia.

Dinamika perkembangan Islam sangat terasa di wilayah ini. Tidak hanya bangunan masjid yang bermunculan, gerejagereja yang semasa kejayaan komunis ditutup pun, kini ramai dikunjungi orang dan bangunannya pun direnovasi sehingga kelihatan segar, tidak lagi kusam.Di samping Republik Tatarstan, Republik Bakortostan dan wilayah regional Kaukasus Utara, Chechnya, Dagestan, dan Ingushetia, juga merupakan kantong-kantong umat Islam.

Bahkan, tiga provinsi terakhir tersebut di atas sampai sekarang masih tetap berusaha untuk membebaskan diri dari Federasi Rusia, ingin merdeka sebagai negara tersendiri. Sejak tahun 1995, terjadi 23 serangan kelompok separatis terhadap pemerintah pusat yang muncul dari tiga wilayah tersebut, utamanya dari pejuang Chechnya.

Para pengamat meramalkan bahwa dalam waktu 50 tahun ke depan, umat Islam di Rusia akan mencapai separuh penduduk, mengingat tingkat pertumbuhannya sangat pesat dibandingkan pemeluk agama lain, yang bahkan di bawah zero growth. Mengapa demikian? Karena umat Islam umumnya bukanlah imigran (penduduk asli). Mereka menetap di wilayahnya sendiri dengan tingkat ekonominya yang baik, sehingga tidak merasa repot atau khawatir dengan tradisi keluarga besar.

Sekarang pun dinamika umat Islam di sana sangat mudah diamati.Hampir tiap bulan berdiri masjid baru. Berbagai lembaga pendidikan sejak SD sampai universitas didirikan secara swadaya oleh umat Islam di sana. Di Tatarstan, misalnya,terdapat sekitar dua juta umat Islam dan memiliki Universitas Islam Rusia. Di wilayah ini juga dikenal sebagai pusat produksi pesawat tempur, helikopter, yang diekspor ke luar negeri, termasuk Indonesia.

Juga produsen truktruk besar dengan merek Kamaz. Dan, ternyata yang membuat adalah juga tenaga-tenaga ahli dari kalangan umat Islam. Jadi, sejak bergulir glasnost dan perestroika awal dekade ‘90- an, bermunculanlah kelas menengah baru yang kreatif dan mendorong negara untuk semakin terbuka.Dengan bubarnya Uni Soviet, beban negara semakin ringan sehingga roda ekonomi kian menggeliat.

Uni Soviet yang semula berpenduduk 220 juta, kini tinggal 143 juta. Bahkan,Rusia saat ini merupakan produsen minyak terbesar, menghasilkan 11 juta barel/ hari ,mengalahkan Arab Saudi yang hanya 9 juta barel/hari. Lebih dari itu, Siberia juga merupakan sumber cadangan minyak terbesar di dunia. Dari sisi ideologi, pemerintah Federasi Rusia saat ini tidak lagi jelas setelah kejayaan komunisme berakhir.

Orang berpikir pragmatis. Pemerintah Rusia sedang berjuang menemukan identitas dan ideologi bangsanya sebagai pengikat dan sumber  etos baru untuk membangun kembali citra dan peran dirinya sebagai sebuah negara besar yang mesti diperhitungkan dunia. Korupsi pun tergolong tinggi.

Namun, setidaknya bahasa dan ikatan kewargaan masih kuat sebagai sebuah warga dan bangsa Rusia, meskipun di dalamnya terdapat puluhan etnis sebagaimana Indonesia. Revolusi Bolshevik tahun 1917 yang mengusung agenda komunisme sebagai kekuatan dunia yang berpusat di Moskow ternyata tidak sampai satu abad telah gulung tikar. Kedigdayaan dan daya pikat paham komunisme telah usai.

Generasi muda tidak lagi kenal apa itu komunisme. Paham kapitalisme dan liberalisme Barat lebih menarik bagi anak-anak muda. Menurut Dubes Indonesia di Moskow, Dr Hamid Awaluddin, Rusia saat ini mirip kondisi Indonesia tahun ‘50-an. Ideologi bangsa dan negara belum kuat, yang mengemuka adalah identitas etnis dan agama.

Jika di Indonesia reformasi yang terjadi pada tataran sistem bernegara, di Rusia yang terjadi adalah perubahan ideologi negara sehingga suasananya cair, tanpa ideologi bangsa sebagai pengikat,identitas,dan kompas perubahan bangsa dan masyarakat yang berlangsung sedemikian cepat.

Dengan kata lain,Rusia hari ini tengah mengalami disorientasi, tengah berlangsung pergulatan sejarah baru untuk menemukan jati diri dan titik ekuilibrium baru. Dalam suasana pencarian ini, Gorbachev oleh angkatan tua dianggap sebagai pecundang yang menghancurkan kebesaran Uni Soviet. Namun, sangat bisa jadi untuk masa depan akan dikenang sebagai Bapak Rusia yang mengantarkan lahirnya Rusia baru yang demokratis.

Yang menarik dari perbincangan dengan beberapa intelektual muslim di sana, mereka tertarik untuk menjalin kerja sama pendidikan Islam dengan Indonesia karena keduanya sama- sama sebagai masyarakat majemuk. Beberapa alumni yang kuliah di Arab Saudi, misalnya, ketika pulang kurang bisa mengapresiasi kondisi sosialnya sebagai masyarakat majemuk.
Bahkan, mereka memiliki konotasi negatif dengan paham dan gerakan Wahabi yang dinilai tidak toleran, kurang bisa mengakomodasi aspirasi dan tradisi lokal yang demikian kaya. Atas dasar pertimbangan itulah,mereka tahun ini akan mengirimkan mahasiswanya untuk studi Islam ke Indonesia.

Di samping ke UIN,mereka akan mengirimkan ke Pondok Pesantren Gontor Ponorogo. Bahkan, sekarang ini sudah ada 10 yang belajar pada level magister di UIN Malang.