Kebanggaan Keluarga Runtuh

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

KORUPSI itu virus ganas yang tidak saja menggerogoti kehidupan bernegara, melainkan juga merusak ketenteraman, kebanggaan, dan kebahagiaan hidup rumah tangga.

Hanya mereka yang mentalnya sakit merasa bangga atas kekayaan dan kemewahan hidup dari hasil korupsi. Saya selalu sedih, kecewa, tercenung, dan campur marah setiap mendengar berita ada sosok pejabat negara yang notabene adalah pilar dan kebanggaan keluarga terjerat korupsi sehingga berurusan dengan pengadilan serta rumah tahanan.Orang boleh saja bilang, korupsi telah membudaya dan oleh karenanya masuk tahanan gara-gara korupsi tidak mengagetkan masyarakat.

Namun, bagi saya terjerat korupsi dan masuk tahanan tetap merupakan peristiwa besar, sebuah skandal yang amat memalukan dan menghancurkan ketenteraman rumah tangga. Bukan rahasia lagi jika pejabat diberitakan berurusan dengan polisi dan pengadilan karena korupsi, serangkaian peristiwa akan menyusul.

Pertama, keluarganya merasa malu sekali dengan tetangganya sehingga mereka pindah secara diam-diam entah ke mana,rumah dikosongkan.Kedua,foto sang ayah,keluarga,dan rumahnya masuk berita televisi dan surat kabar sehingga sanak keluarga dan teman jauh yang semula tidak tahu menjadi tahu.

Ketiga, penampilan koruptor itu lalu berubah dan terkesan menjadi religius baik dalam berpakaian maupun aktivitasnya selama dalam tahanan. Mereka yang belum masuk tahanan biasanya buruburu pergi umrah. Keempat, ketika ditetapkan menjadi tersangka,muncullah sederet advokat yang menjadi pembela dan penguasa hukumnya, entah berapa biaya yang dikeluarkan untuk honor mereka itu.

Kelima, ketika dalam proses pengadilan, biasanya keluarga di rumah rajin mengadakan tahlilan dan doa bersama semoga terjadi keajaiban hukum atau setidaknya Tuhan memberi kekuatan lahirbatin. Keenam,jika yang tersangka tadi seorang ayah yang telah memiliki anak, ada di antara anak-anaknya yang malu masuk sekolah lalu mogok.Ada lagi anaknya yang kemudian memutuskan ikatan dengan pacarnya karena malu.

Demikianlah, berbagai implikasi pahit tersebut masih dapat diperpanjang lagi.Satu hal yang pasti, ibarat gelas kaca,keindahan dan ketenteraman rumah tangga itu sudah tergores.Coba saja bayangkan, bagaimana pilu hati seorang anak ketika menonton televisi melihat wajah ayahnya dalam pemberitaan sebagai koruptor yang dikutuk masyarakat. Bagaimana pula komunikasi antara suami-istri yang semula hangat dan lugas tiba-tiba diinterupsi oleh tuduhan dan anggapan bahwa orang terdekatnya adalah koruptor yang telah ikut menyengsarakan rakyat.

Pandangan orang tua, mertua, tetangga, dan teman dekat pasti akan berubah setelah tahu dia seorang koruptor.Orang yang kelihatannya mewah, kaya, glamor, ternyata mentalnya miskin, rakus,dan busuk. Ibarat atap sebuah bangunan rumah, ketika seorang kepala rumah tangga melakukan korupsi dan disiarkan media massa, ambruklah atap itu menimpa seluruh penghuni rumah.Semua kaget,hatinya menjerit pilu.

Kebanggaan sebagai seorang ayah runtuh seketika. Butuh waktu lama untuk membangun kembali. Kalaupun korupsinya tidak terendus penyidik dan media massa, secara moral dan rohani, harta hasil korupsi itu akan mengundang barisan setan untuk berkerumun di situ. Oleh karena itu,orang tua yang benar-benar sayang terhadap keluarganya akan berjuang seoptimal mungkin agar tidak mengumpulkan dan membawa barang haram ke rumah.

Sebaliknya, dia akan berusaha membangun dan menjaga nama baik seluruh keluarganya. Menurut keyakinan kalangan sufi, harta haram yang masuk ke aliran darah akan mengundang setan sehingga pada urutannya semua gerak, ucapan, pikiran,dan tindakan akan dipengaruhi oleh nafsu setan. Jadi, jika kita semua menginginkan tumbuhnya generasi baru yang unggul dan memiliki integritas tinggi, sebagai orang tua mesti memberi makanan yang halal dan bergizi.

Baik dalam hal pendidikan maupun apa pun yang dikonsumsi anak-anak kita. Hindarkan memberi uang dan harta haram kepada anak-anak agar nantinya tumbuh menjadi pribadi unggul yang berkarakter. Kasihanilah anak-anak kita. Mereka sudah cukup berat menghadapi pelajaran sekolah, lingkungan pergaulan dan sosial yang tidak sehat, serta sekian banyak godaan lain yang dirasakan amat berat bagi anak-anak kita.

Kalau problem dan beban itu ditambah lagi dengan asupan harta haram, saya khawatir anak-anak kita akan mudah sekali jebol pertahanannya sehingga hancur masa depan mereka. Alih-alih tumbuh menjadi pembela bangsa dan agama,banyak remaja yang kemudian menjadi beban keluarga dan masyarakat.

Semoga saja berbagai peristiwa terbongkarnya jaringan koruptor akhir-akhir ini akan menyadarkan kita semua, terutama orang tua yang berkecimpung dengan harta dan memiliki peluang korupsi, buktikan bahwa kita sayang kepada diri sendiri, kepada keluarga, dan kepada bangsa sehingga berjuang sekuat tenaga untuk tidak melakukan korupsi.(*)

 

 

Kebanggaan Keluarga Runtuh

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

KORUPSI itu virus ganas yang tidak saja menggerogoti kehidupan bernegara, melainkan juga merusak ketenteraman, kebanggaan, dan kebahagiaan hidup rumah tangga.

Hanya mereka yang mentalnya sakit merasa bangga atas kekayaan dan kemewahan hidup dari hasil korupsi. Saya selalu sedih, kecewa, tercenung, dan campur marah setiap mendengar berita ada sosok pejabat negara yang notabene adalah pilar dan kebanggaan keluarga terjerat korupsi sehingga berurusan dengan pengadilan serta rumah tahanan.Orang boleh saja bilang, korupsi telah membudaya dan oleh karenanya masuk tahanan gara-gara korupsi tidak mengagetkan masyarakat.

Namun, bagi saya terjerat korupsi dan masuk tahanan tetap merupakan peristiwa besar, sebuah skandal yang amat memalukan dan menghancurkan ketenteraman rumah tangga. Bukan rahasia lagi jika pejabat diberitakan berurusan dengan polisi dan pengadilan karena korupsi, serangkaian peristiwa akan menyusul.

Pertama, keluarganya merasa malu sekali dengan tetangganya sehingga mereka pindah secara diam-diam entah ke mana,rumah dikosongkan.Kedua,foto sang ayah,keluarga,dan rumahnya masuk berita televisi dan surat kabar sehingga sanak keluarga dan teman jauh yang semula tidak tahu menjadi tahu.

Ketiga, penampilan koruptor itu lalu berubah dan terkesan menjadi religius baik dalam berpakaian maupun aktivitasnya selama dalam tahanan. Mereka yang belum masuk tahanan biasanya buruburu pergi umrah. Keempat, ketika ditetapkan menjadi tersangka,muncullah sederet advokat yang menjadi pembela dan penguasa hukumnya, entah berapa biaya yang dikeluarkan untuk honor mereka itu.

Kelima, ketika dalam proses pengadilan, biasanya keluarga di rumah rajin mengadakan tahlilan dan doa bersama semoga terjadi keajaiban hukum atau setidaknya Tuhan memberi kekuatan lahirbatin. Keenam,jika yang tersangka tadi seorang ayah yang telah memiliki anak, ada di antara anak-anaknya yang malu masuk sekolah lalu mogok.Ada lagi anaknya yang kemudian memutuskan ikatan dengan pacarnya karena malu.

Demikianlah, berbagai implikasi pahit tersebut masih dapat diperpanjang lagi.Satu hal yang pasti, ibarat gelas kaca,keindahan dan ketenteraman rumah tangga itu sudah tergores.Coba saja bayangkan, bagaimana pilu hati seorang anak ketika menonton televisi melihat wajah ayahnya dalam pemberitaan sebagai koruptor yang dikutuk masyarakat. Bagaimana pula komunikasi antara suami-istri yang semula hangat dan lugas tiba-tiba diinterupsi oleh tuduhan dan anggapan bahwa orang terdekatnya adalah koruptor yang telah ikut menyengsarakan rakyat.

Pandangan orang tua, mertua, tetangga, dan teman dekat pasti akan berubah setelah tahu dia seorang koruptor.Orang yang kelihatannya mewah, kaya, glamor, ternyata mentalnya miskin, rakus,dan busuk. Ibarat atap sebuah bangunan rumah, ketika seorang kepala rumah tangga melakukan korupsi dan disiarkan media massa, ambruklah atap itu menimpa seluruh penghuni rumah.Semua kaget,hatinya menjerit pilu.

Kebanggaan sebagai seorang ayah runtuh seketika. Butuh waktu lama untuk membangun kembali. Kalaupun korupsinya tidak terendus penyidik dan media massa, secara moral dan rohani, harta hasil korupsi itu akan mengundang barisan setan untuk berkerumun di situ. Oleh karena itu,orang tua yang benar-benar sayang terhadap keluarganya akan berjuang seoptimal mungkin agar tidak mengumpulkan dan membawa barang haram ke rumah.

Sebaliknya, dia akan berusaha membangun dan menjaga nama baik seluruh keluarganya. Menurut keyakinan kalangan sufi, harta haram yang masuk ke aliran darah akan mengundang setan sehingga pada urutannya semua gerak, ucapan, pikiran,dan tindakan akan dipengaruhi oleh nafsu setan. Jadi, jika kita semua menginginkan tumbuhnya generasi baru yang unggul dan memiliki integritas tinggi, sebagai orang tua mesti memberi makanan yang halal dan bergizi.

Baik dalam hal pendidikan maupun apa pun yang dikonsumsi anak-anak kita. Hindarkan memberi uang dan harta haram kepada anak-anak agar nantinya tumbuh menjadi pribadi unggul yang berkarakter. Kasihanilah anak-anak kita. Mereka sudah cukup berat menghadapi pelajaran sekolah, lingkungan pergaulan dan sosial yang tidak sehat, serta sekian banyak godaan lain yang dirasakan amat berat bagi anak-anak kita.

Kalau problem dan beban itu ditambah lagi dengan asupan harta haram, saya khawatir anak-anak kita akan mudah sekali jebol pertahanannya sehingga hancur masa depan mereka. Alih-alih tumbuh menjadi pembela bangsa dan agama,banyak remaja yang kemudian menjadi beban keluarga dan masyarakat.

Semoga saja berbagai peristiwa terbongkarnya jaringan koruptor akhir-akhir ini akan menyadarkan kita semua, terutama orang tua yang berkecimpung dengan harta dan memiliki peluang korupsi, buktikan bahwa kita sayang kepada diri sendiri, kepada keluarga, dan kepada bangsa sehingga berjuang sekuat tenaga untuk tidak melakukan korupsi.(*)