Karya Sastra Sufi Belum Diposisikan sebagai Karya Sastra Umum

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Reporter: Amalia Larasati Oetomo

Gedung SPs, BERITA UIN Online – Masih menyerebaknya kontroversi karya sastra sufi Ibn Farid adalah salah satu bukti belum adanya pengakuan yang memosisikan karya sastra sufi sebagai karya sastra umum. Hal itu dikemukakan Hazbini ketika mempertahankan disertasi doktoralnya pada sidang promosi doktor di Auditorium Sekolah Pascasarjana (SPs), Selasa (14/3). Kesimpulan tersebut diperoleh berdasarkan hasil penelitian disertasinya yang berjudul Kontroversi Puisi Sufi: Struktur dan Resepsi Ibn Al-Farid.

Sidang yang berlangsung hampir satu setengah jam tersebut dipimpin Prof Dr Suwito yang merangkap sebagai penguji. Penguji lainnya adalah Prof Dr Azyumardi Azra, Prof Dr Yunasril Ali, dan Prof Dr Abdul Hadi WM. Sedangkan promotor adalah promotor guru besar Ilmu Sastra Universitas Paramadina, Prof Dr Partini Sardjono dan guru besar sastra Arab Fakultas Adab dan Humaniora UIN Jakarta Prof Dr Chotibul Umam.

Hazbini mengemukakan, kontroversi karya sastra sufi melahirkan dua kelompok, yaitu kelompok pendukung dan kelompok penentang. Kelompok pendukung terbagi dua, kelompok pendukung pertama adalah yang mendukung secara total atau apriori. Mereka berpendapat bahwa karya sastra yang diusung Ibn Farid sesuai dengan ajaran Islam. Sementara kelompok pendukung kedua adalah yang memosisikan karya sastra sufi sebagai bagian dari ilmu tasawuf.

Kelompok penentang di antaranya diusung oleh Ibnu Taimiya yang beralasan bahwa karya sastra sufi tidak sesuai dengan ajaran Islam, baik yang merujuk pada al-Qur’an maupun al-Hadis. “Namun sampai sekarang belum ada kelompok yang memosisikan karya sastra sufi Ibn Farid sebagai karya sastra umum,” kata Hazbini.

Menurutnya, perbedaan asumsi yang dikemukakan setiap pembaca karya sastra dipengaruhi oleh teori resepsi. Teori resepsi dilandasi oleh cakrawala harapan yang dipengaruhi perspektif pengetahuan dan pengalaman, serta apa yang menjadi acuan dalam referensi pembaca. Latarbelakang ideologis dan pengetahuan akan mempengaruhi tanggapan seseorang seusai membaca sebuah karya puisi.

Oleh karena itu, dalam disertasinya, Hazbini mengemukakan bahwa selayaknya diperlukan keilmuan yang memadai dalam menilai karya sastra sufi agar diposisikan terpisah dengan Islam.

Pada sidang Promosi Doktor ke-828 ini, Hazbini memperoleh IP Yudisium 3,49 atau amat baik. Hazbini kini tercatat sebagai dosen Sastra Universitas Padjadjaran Bandung.