Kartini-Kartini Muda di Puncak Gunung Pangrango

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone
SABTU (18/4), ketika matahari senja hendak beranjak ke tempat peraduannya, kawasan puncak Gunung Gede Pangrango, Bogor, Jawa Barat, diramaikan oleh kehadiran 12 wanita berpakaian kebaya ala suku Sunda yang dibalut jilbab. Keduabelas wanita itu tak lain adalah anggota kelompok pecinta alam (KPA) Arkadia UIN Jakarta yang tengah merayakan Hari Kartini di puncak Gunung Gede Pangrango. Pendakian mereka berlangsung selama tiga hari, 17-19 April.

Selain untuk memperingati hari Kartini, pendakian para wanita itu juga untuk melatih kemandirian. Di samping itu untuk menunjukkan bahwa wanita Indonesia sangat kuat dan berani menempuh rintangan sebagaimana pendakian yang mereka lakukan.

Selain membutuhkan banyak persiapan, mulai dari ketahanan fisik, kekompakkan, keberanian, hingga ilmu navigasi. Konon, untuk mempersiapkan semua itu, mereka sudah lakukan selama sekitar dua bulan sebelum pendakian. Misalnya untuk latihan fisik, secara rutin mereka push up, sit up dan berlari-lari kecil di sekitar kampus.

“Kami juga memperiapkan logistik dan peralatan lain yang diperlukan sebagai bekal selama pendakian,” ujar ketua tim pendakian, Fadlika Rahmah.

Selama berada di puncak, sebagai pencinta alam para Kartini muda ini melakukan kegiatan memungut sampah, diskusi tentang kewanitaan, rapat kerja, dan perkenalan antaranggota.

Kegiatan pendakian berlangsung ketika matahari mulai menyembul ke bumi, tepatnya setelah adzan shubuh berkumandang. Siangnya, mereka sudah sampai di Surya Kencana, sambil istirahat sejenak. Tiba di Pos Kandang Badak mereka shalat Dzuhur. ”Awal naik gunung kami bernyanyi-nyanyi sambil tertawa lepas,” katanya.

Sorenya, sampai di puncak gunung mereka langsung mengenakan kebaya yang menjadi tujuan mereka sejak awal pendakian. “Lucu juga waktu di puncak, pendaki lain banyak yang ngetawain kita. Sudah cewek semua, berisik ganti baju kebaya. Ternyata naik gunung tanpa ditemani cowok tidak sesulit yang dibayangin kok. Lebih terasa petualangannya. Tahun depan, pendakian Kartini harus diadakan lagi.” komentar salah satu anggota.

”Kami bersyukur pendakian perdana Arkadia tanpa didampingi pria ini dapat berjalan lancar. Kegiatan ini khusus untuk internal Arkadia dengan medan pendakian yang lumayan tidak ringan,” tutur dara cantik ini.

Puncak Gunung Gede Pangrango berada di ketinggian 2.958 meter di atas permukaan laut (dpl) dengan luas lahan 21.975 hektar. Gunung itu merupakan taman nasional sekaligus sebagai salah satu objek wisata di Jawa Barat.* (Hamzah Farihin)

 

Kartini-Kartini Muda di Puncak Gunung Pangrango

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone
SABTU (18/4), ketika matahari senja hendak beranjak ke tempat peraduannya, kawasan puncak Gunung Gede Pangrango, Bogor, Jawa Barat, diramaikan oleh kehadiran 12 wanita berpakaian kebaya ala suku Sunda yang dibalut jilbab. Keduabelas wanita itu tak lain adalah anggota kelompok pecinta alam (KPA) Arkadia UIN Jakarta yang tengah merayakan Hari Kartini di puncak Gunung Gede Pangrango. Pendakian mereka berlangsung selama tiga hari, 17-19 April.

Selain untuk memperingati hari Kartini, pendakian para wanita itu juga untuk melatih kemandirian. Di samping itu untuk menunjukkan bahwa wanita Indonesia sangat kuat dan berani menempuh rintangan sebagaimana pendakian yang mereka lakukan.

Selain membutuhkan banyak persiapan, mulai dari ketahanan fisik, kekompakkan, keberanian, hingga ilmu navigasi. Konon, untuk mempersiapkan semua itu, mereka sudah lakukan selama sekitar dua bulan sebelum pendakian. Misalnya untuk latihan fisik, secara rutin mereka push up, sit up dan berlari-lari kecil di sekitar kampus.

“Kami juga memperiapkan logistik dan peralatan lain yang diperlukan sebagai bekal selama pendakian,” ujar ketua tim pendakian, Fadlika Rahmah.

Selama berada di puncak, sebagai pencinta alam para Kartini muda ini melakukan kegiatan memungut sampah, diskusi tentang kewanitaan, rapat kerja, dan perkenalan antaranggota.

Kegiatan pendakian berlangsung ketika matahari mulai menyembul ke bumi, tepatnya setelah adzan shubuh berkumandang. Siangnya, mereka sudah sampai di Surya Kencana, sambil istirahat sejenak. Tiba di Pos Kandang Badak mereka shalat Dzuhur. ”Awal naik gunung kami bernyanyi-nyanyi sambil tertawa lepas,” katanya.

Sorenya, sampai di puncak gunung mereka langsung mengenakan kebaya yang menjadi tujuan mereka sejak awal pendakian. “Lucu juga waktu di puncak, pendaki lain banyak yang ngetawain kita. Sudah cewek semua, berisik ganti baju kebaya. Ternyata naik gunung tanpa ditemani cowok tidak sesulit yang dibayangin kok. Lebih terasa petualangannya. Tahun depan, pendakian Kartini harus diadakan lagi.” komentar salah satu anggota.

”Kami bersyukur pendakian perdana Arkadia tanpa didampingi pria ini dapat berjalan lancar. Kegiatan ini khusus untuk internal Arkadia dengan medan pendakian yang lumayan tidak ringan,” tutur dara cantik ini.

Puncak Gunung Gede Pangrango berada di ketinggian 2.958 meter di atas permukaan laut (dpl) dengan luas lahan 21.975 hektar. Gunung itu merupakan taman nasional sekaligus sebagai salah satu objek wisata di Jawa Barat.* (Hamzah Farihin)