Kalimat Thayyibah Membentuk Kepribadian Seorang Muslim

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Reporter: Muhammad Nurdin

Gedung FITK, BERITA UIN OnlineKalimat thayyibah merupakan amalan yang baik dan mampu membentuk pribadi seorang muslim yang selalu ingat dan berhubungan dengan Allah SWT.

“Dalam kehidupan sehari-hari alangkah baiknya kita membentuk budaya mengucapkan kalimat thoyibah,” kata Dosen Tamu dari Mesir Dr Muhamed Ali Abdel Azeem pada acara Tadribat Khithobah Walughowiyah yang diselenggarakan Prodi Pendidikan Bahasa Arab FITK UIN Jakarta di Ruang Teater lantai 3, Jum’at (29/04). Turut hadir Kajur PBA Dr Ahmad Dardiri, dan Sekjur Maswani MA.

Menurutnya, pribadi seseorang tergantung dari ucapanya. Jika ucapannya baik maka perbuatannya juga baik. Ia melanjutkan, kalimat  thayyibah terbagi dua macam yaitu kalimat thayyibah tauhid dan kalimat thayyibah tahiyyah (salam).

Kalimat tauhid merupakan kalimat yang sangat mendasar dan urgen pada setiap muslim. Jika kalimat ini hilang maka ketauhidan atau keyakinan seseorang akan hilang. Sedangkan kalimat salam itu berdimensi pada nilai-nilai kemanusiaan seperti berbuat baik, berkata baik, shadaqoh, dan mempunyai toleransi yang tinggi.

“Berbuat baik kepada orang lain itu termasuk kalimat thayyibah, apalagi berbuat baik kepada kedua orang tua yang telah mengandung, membesarkan, dan mendidik  kita,” kata Dosen Tamu dari Mesir itu.

Menurutnya, kalimat yang baik mempunyai dimensi yang sangat luas, dimensi sosial, dimensi akademis, dan dimensi keberagamaan.  Dimensi-dimensi ini harus saling berkaitan satu sama lain, sehingga kesuksesan dalam hidup dapat tercapai.

Ia menambahkan, indikator kalimat baik tercermin dalam sebuah kedamaian dan toleransi pada diri seseorang dan masyarakat. Menurutnya, kata-kata yang baik dapat diamalkan kapan dan di mana saja baik di universitas, rumah sakit, bandara, bahkan di jalan raya sekalipun.

Acara Tadribat Khithobah Walughowiyah di Jurusan PBA ini merupakan yang pertama kali. Menurut Sekjur PBA Masnawi MA, kegiatan ini bagi mahasiswa semester dua hingga enam.  Tujuannya agar mahasiswa PBA terbiasa dengan lahjah-lahjah Arab sebab masih sedikit mahasiswa yang memahami lahjah ini.

“Insyaallah, kegiatan ini akan dilaksanakan sepekan sekali setiap Jum’at hingga akhir semester genap ini,” tambahnya. []