Kaligrafi Dekatkan Manusia pada Tuhan

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

FAH, UINJKT Online – Ketua Jurusan Bahasa dan Sastra Arab (BSA) Drs Didin Sirajuddin AR MAg menilai, melalui seni kaligrafi seseorang dapat mengetahui hakekat yang maha kuasa, karena itu hendaknya umat Islam bercengkrama dengannya. Hal itu disampaikan dalam seminar “Pengembangan Kaligrafi Islam dalam Masyarakat Islam Indonesia” yang merupakan salah satu acara dari serangkaian kegiatan “Kampoeng Sastra Arab” yang digelar selama empat hari, (26-29/5) di Baseman Fakultas Adab dan Humaniora (FAH).

“Selain bernuansa mistis, kaligrafi juga banyak mengandung nilai sejarah, karena seni ini sudah berkembang sejak awal permulaan pemerintahan Islam, dari kejayaannya hingga kemundurannya,” papar Didin yang juga pendiri Lembaga Kaligrafi al-Qur’an (Lemka) ini.

Bahkan katanya, pada zaman dulu, terdapat bermacam-macam kaligrafi, namanya disesuaikan dengan nama kota, nama daun yang digunakan untuk menulis, nama orang yang membuatnya, bahkan ada yang namannya air minum.

Seminar tersebut merupakan bagian dari rangkaian acara yang bertema “Meretas Jalannya Kebudayaan dalam Mewujudkan Integritas Bangsa” yang digelar BEM Jurusan BSA. Selain seminar tersebut, acara juga menampilkan Bazar Buku, Pameran Kaligrafi dari Lemka, Lomba Membaca Puisi bahasa Indonesia dan bahasa Arab untuk tingkat Sekolah Menengah Umum (SMU) se-Jakarta, dan Lomba Mewarnai dan Fasion Show bagi Taman Kanak-kanak (TK) dan Sekolah Dasar (SD).

Menurut Ketua Panitia, Riki Mirsaputra, ketika ditemui UINJKT Online di sela-sela berlangsungnya acara, acara ini digelar untuk membangkitkan kembali kecintaan mahasiiswa terhadap sastra Arab, karena hal itu dinilainya saat ini sudah semakin terasing, bahkan bagi mahasiiswa BSA sendiri.

“Pelajaran-pelajaran seperti balagoh, filologi, itukan hanya orang-orang tertentu aja yang tau, bagi anak BSA-nya asing apalagi bagi yang lainya,” tukasnya.

“Acara ini juga digelar dengan memasukan anak-anak usia dini, tujuannya adalah untuk menumbuhkan kecintaan seni pada anak sedini mungkin,” katanya lagi.

Riki menambahkan, acara ini sengaja diselenggarakan di tempat terbuka, supaya tidak kelihatan ekslisif, karena harapan kami, acara ini juga dinikmati seluruh mahasiiswa pada umumnya. [Endah Salsabila/Nif/Ed]

Kaligrafi Dekatkan Manusia pada Tuhan

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

FAH, UINJKT Online – Ketua Jurusan Bahasa dan Sastra Arab (BSA) Drs Didin Sirajuddin AR MAg menilai, melalui seni kaligrafi seseorang dapat mengetahui hakekat yang maha kuasa, karena itu hendaknya umat Islam bercengkrama dengannya. Hal itu disampaikan dalam seminar “Pengembangan Kaligrafi Islam dalam Masyarakat Islam Indonesia” yang merupakan salah satu acara dari serangkaian kegiatan “Kampoeng Sastra Arab” yang digelar selama empat hari, (26-29/5) di Baseman Fakultas Adab dan Humaniora (FAH).

“Selain bernuansa mistis, kaligrafi juga banyak mengandung nilai sejarah, karena seni ini sudah berkembang sejak awal permulaan pemerintahan Islam, dari kejayaannya hingga kemundurannya,” papar Didin yang juga pendiri Lembaga Kaligrafi al-Qur’an (Lemka) ini.

Bahkan katanya, pada zaman dulu, terdapat bermacam-macam kaligrafi, namanya disesuaikan dengan nama kota, nama daun yang digunakan untuk menulis, nama orang yang membuatnya, bahkan ada yang namannya air minum.

Seminar tersebut merupakan bagian dari rangkaian acara yang bertema “Meretas Jalannya Kebudayaan dalam Mewujudkan Integritas Bangsa” yang digelar BEM Jurusan BSA. Selain seminar tersebut, acara juga menampilkan Bazar Buku, Pameran Kaligrafi dari Lemka, Lomba Membaca Puisi bahasa Indonesia dan bahasa Arab untuk tingkat Sekolah Menengah Umum (SMU) se-Jakarta, dan Lomba Mewarnai dan Fasion Show bagi Taman Kanak-kanak (TK) dan Sekolah Dasar (SD).

Menurut Ketua Panitia, Riki Mirsaputra, ketika ditemui UINJKT Online di sela-sela berlangsungnya acara, acara ini digelar untuk membangkitkan kembali kecintaan mahasiiswa terhadap sastra Arab, karena hal itu dinilainya saat ini sudah semakin terasing, bahkan bagi mahasiiswa BSA sendiri.

“Pelajaran-pelajaran seperti balagoh, filologi, itukan hanya orang-orang tertentu aja yang tau, bagi anak BSA-nya asing apalagi bagi yang lainya,” tukasnya.

“Acara ini juga digelar dengan memasukan anak-anak usia dini, tujuannya adalah untuk menumbuhkan kecintaan seni pada anak sedini mungkin,” katanya lagi.

Riki menambahkan, acara ini sengaja diselenggarakan di tempat terbuka, supaya tidak kelihatan ekslisif, karena harapan kami, acara ini juga dinikmati seluruh mahasiiswa pada umumnya. [Endah Salsabila/Nif/Ed]