Guru Besar Komunikasi Gender IPB  Prof. D. Ir. Aida Vitalaya S. Hubies (duduk tengah, tiga dari kiri dan kanan)

Guru Besar Komunikasi Gender IPB Prof. D. Ir. Aida Vitalaya S. Hubies (duduk tengah, tiga dari kiri dan kanan)

Rg. BAAKK, Berita UIN Online— Perempuan harus meningkatkan kemampuan diri untuk turut serta dalam aktifitas sosial ekonomi dan politik di luar tugas-tugas kerumahtanggannya. Perempuan memiliki hak dan kewajiban setara dengan laki-laki.

Demikian disampaikan Pengamat Gender Prof. D. Ir. Aida Vitalaya S. Hubies dalam kuliah Kelas Gender dan Anak yang diselenggarakan Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA) UIN Jakarta di Ruang Rapat Biro Administrasi Akademik dan Kemahasiswaan (BAAKK), Jumat (09/10). Selain dosen, karyawan, kelas gender dan anak diikuti para mahasiswa.

“Perempuan harus bisa meningkatkan kemampuannya sehingga bisa turut serta dalam pembangunan (sosial ekonomi, red),” tandasnya.

Menurut Aida yang juga Guru Besar Komunikasi Gender IPB ini, banyak peran sosial ekonomi dan politik yang sebetulnya bisa dilakukan kaum perempuan. Dalam bidang ekonomi misalnya, perempuan berhak untuk masuk ke sektor usaha. Terlebih sektor usaha kecil merupakan bidang yang banyak melibatkan perempuan.

Di sebagian besar masyarakat, sambungnya, perempuan masih seringkali dibatasi untuk masuk dan terlibat dalam sektor-sektor tersebut. Pembatasan acapkali sudah menjadi pola pikir yang mengakar dalam masyarakat.

“Padahal perempuan juga harus memperoleh kesempatan yang sama dengan laki-laki, serta setara dalam memperoleh dan menikmati manfaat pembangunan,” tambahnya.

Hanya, sambung Aida, kesadaran gender yang memungkinkan perempuan mendapat peluang setara juga harus menjadi kesadaran seluruh masyarakat, termasuk kaum pria. Salah satunya dengan kesadaran masyarakat laki-laki untuk ikut serta dalam memahami isu-isu gender. “Banyak yang (masih, red.) bilang kalau gender itu urusan perempuan,” keluhnya.

Ketua PSGA UIN Jakarta Ir. Rahmi Purnomowati M.Si menambahkan, kesadaran gender tidak bermaksud untuk menyaingi atau melebihi posisi laki-laki. Namun penyadaran ini diperlukan agar perempuan juga dapat memikul tanggung jawab sama dalam memajukan bangsa.

Untuk itu, jelasnya, tidak ada alasan bahwa isu gender hanya kesadaran kaum perempuan. “Semua kalangan bisa menyuarakan kesetaraan gender,” tandasnya.

Sementara itu, staf PSGA Dra. Miftachur Rosyida berharap para dosen, karyawan atau mahasiswa bisa ikut serta dalam kegiatan kelas gender. Menurutnya, kelas gender diagendakan secara rutin oleh PSGA dan bisa diikuti dosen, karyawan, dan mahasiswa.

“Isu gender adalah isu semua, laki-laki maupun perempuan. Mudah-mudahan dengan mengikuti kegiatan, kita sama-sama memahami betapa pentingnya kesadaran gender dibangun di sekitar kita,” tambahnya. (FAH)

Share This