Kajian Keislaman di UIN Lebih Bagus

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

159

Pada 8 Desember 2009, Direktur Senior dan Dekan MUIS Akademi Singapura Dr Albakri Ahmad mengunjungi UIN Jakarta. Kedatangan Albakri Ahmad ke UIN Jakarta untuk menindaklanjuti kerja sama dalam bidang pengembangan pendidikan Islam antara Majelis Ugama Islam Singapura (MUIS) dan Sekolah Pascasarjana (SPs) yang ditandatangani di Singapura dua tahun lalu. Berikut wawancara Nanang Syaikhu dengan Albakri Ahmad yang berlangsung di Ruang Rektor.

Apa saja kerja sama yang saat ini sedang dilakukan antara MUIS dan SPs UIN Jakarta?

Kerja sama MUIS dengan SPs UIN Jakarta sementara ini dalam bentuk pengiriman mahasiswa S2 yang sedang belajar di Singapura untuk menyelesaikan tesis mereka. Mereka di sini (SPs UIN, Red) belajar pada Program Magister dalam bidang kajian Islam antarabidang atau interdiciplinary studies. Tapi waktunya tak lama, hanya sekitar satu minggu. Sementara jumlah pelajar yang dikirim tak lebih dari 13 orang. Mereka adalah para guru agama dan pegawai-pegawai agama yang sarjana S1-nya berasal dari beberapa universitas di Timur Tengah. Jadi mereka belajar SPs UIN Jakarta terkait dengan penyelesaian proposal tesis mereka.

Program pengiriman sarjana Singapura untuk kembali belajar agama di SPs UIN Jakarta bertujuan untuk apa?

Program ini untuk menambah ilmu mereka dalam bidang keislaman. Tujuannya untuk melihat bagaimana Islam diamalkan dalam konteks kehidupan sehari-hari di tengah munculnya beragam isu kontemporer dan kompleks seperti saat ini. Karena itu mereka perlu memahami Islam secara mendalam dan memiliki kemampuan menganalisis baik dari aspek sosiologis maupun aspek historis.

Lantas, apa alasan MUIS sehingga memilih SPs UIN Jakarta?

Kami menganggap SPs UIN Jakarta merupakan satu satunya perguruan tinggi Islam yang memiliki sejumlah pakar keislaman kuat dan unggul dalam kajian Islam di Nusantara. Kami sendiri bangga dapat bekerja sama dengan SPs UIN Jakarta. Harapan kami tentunya para pegawai agama itu akan lebih memahami Islam secara luas. Selain itu, mereka juga diharapkan dapat memahami isu-isu sosio-relijius dalam kerangka pemikiran Islam yang lebih luas. Jadi program ini penting untuk memperkaya pengetahuan mereka mengenai keislaman sehingga kelak mereka menjadi pemimpin di masyarakat. Dengan pemahaman Islam yang benar, mereka diharapkan dapat menjawab atau mencari solusi atas berbagai permasalahan yang dihadapi masyarakat Singapura.

Mengapa MUIS begitu tertarik dengan Islam di Indonesia?

Islam dan kajian keislaman di Indonesia sudah lama dibangun, sementara di Singapura belum. Kami memiliki ketertarikan sosiologi agama, yakni bagaimana masyarakat berubah dengan pemahaman agama mereka. Selain itu, bagaimana pula masyarakat mampu hidup di Singapura, di tengah negara yang majemuk, sekuler, dan masyarakatnya nomaden tapi berpegang teguh kepada prinsip dan nilai-nilai agama tanpa mereka merasakan menggadaikan agama. Karena itu kajian-kajian sosiologi agama itu penting bagi kami, dan bagaimana kajian tersebut terlaksana dengan baik, serta bagimana bisa hidup misalnya dengan agama yang banyak. Di samping itu, bagimana kita menyumbangkan kepada agama dan juga pembangunan negara melaui agama sebagai suatu anasir atau pos yang positif.

Bagaimana kajian keislaman di Singapura sendiri?

Pada masa-masa lalu orientasinya memang masih sekitar segi-segi hukum Islam dan fiqih. Tapi sejak beberapa tahun belakangan, tepatnya sejak kembalinya para sarjana muslim Singapura dari berbagai negara, wacananya sudah berubah. Jelasnya kajian keislaman saat ini bagaimana kita memahami nilai-nilai Islam yang universal untuk diamalkan dalam masyarakat yang multi-agama dan multi-budaya.

Jadi sudah ada pergeseran dalam pemahaman keislaman?

Ya masyarakat Islam Singapura telah memahami beragam pemahaman agama. Hal itu tak perlu ditakuti dan dikhawatirkan. Pokoknya tentu ada upaya untuk saling menghormati yang berbeda pandangan di antara masyarakat Islam di sana. Dengan begitu kita tidak saling menuduh satu sama lain yang berbeda pandangan itu. Kita malah meramaikan keberagaman itu karena masing-masing memiliki dalil-dalil yang positif dan boleh dipakai, bahkan boleh dipelajari antar satu dengan yang lain.

Bagaimana hubungan antara Islam dan pemerintah di Singapura selama ini?

Hubungan antara agama dan masyarakat Islam di Singapura sangat baik, termasuk pembangunan lembaga-lembaga dakwah Islam. Malah ada seksi-seksi perencanaan dan juga pertemuan untuk memikirkan bagaimana negara Singapura dapat memperbaiki keadaan masyarakatnya melalui lembaga Islam bersama dengan lembaga-lembaga pemerintah yang ada serta agensi-agensi pemerintah.

Kajian Keislaman di UIN Lebih Bagus

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

159

Pada 8 Desember 2009, Direktur Senior dan Dekan MUIS Akademi Singapura Dr Albakri Ahmad mengunjungi UIN Jakarta. Kedatangan Albakri Ahmad ke UIN Jakarta untuk menindaklanjuti kerja sama dalam bidang pengembangan pendidikan Islam antara Majelis Ugama Islam Singapura (MUIS) dan Sekolah Pascasarjana (SPs) yang ditandatangani di Singapura dua tahun lalu. Berikut wawancara Nanang Syaikhu dengan Albakri Ahmad yang berlangsung di Ruang Rektor.

Apa saja kerja sama yang saat ini sedang dilakukan antara MUIS dan SPs UIN Jakarta?

Kerja sama MUIS dengan SPs UIN Jakarta sementara ini dalam bentuk pengiriman mahasiswa S2 yang sedang belajar di Singapura untuk menyelesaikan tesis mereka. Mereka di sini (SPs UIN, Red) belajar pada Program Magister dalam bidang kajian Islam antarabidang atau interdiciplinary studies. Tapi waktunya tak lama, hanya sekitar satu minggu. Sementara jumlah pelajar yang dikirim tak lebih dari 13 orang. Mereka adalah para guru agama dan pegawai-pegawai agama yang sarjana S1-nya berasal dari beberapa universitas di Timur Tengah. Jadi mereka belajar SPs UIN Jakarta terkait dengan penyelesaian proposal tesis mereka.

Program pengiriman sarjana Singapura untuk kembali belajar agama di SPs UIN Jakarta bertujuan untuk apa?

Program ini untuk menambah ilmu mereka dalam bidang keislaman. Tujuannya untuk melihat bagaimana Islam diamalkan dalam konteks kehidupan sehari-hari di tengah munculnya beragam isu kontemporer dan kompleks seperti saat ini. Karena itu mereka perlu memahami Islam secara mendalam dan memiliki kemampuan menganalisis baik dari aspek sosiologis maupun aspek historis.

Lantas, apa alasan MUIS sehingga memilih SPs UIN Jakarta?

Kami menganggap SPs UIN Jakarta merupakan satu satunya perguruan tinggi Islam yang memiliki sejumlah pakar keislaman kuat dan unggul dalam kajian Islam di Nusantara. Kami sendiri bangga dapat bekerja sama dengan SPs UIN Jakarta. Harapan kami tentunya para pegawai agama itu akan lebih memahami Islam secara luas. Selain itu, mereka juga diharapkan dapat memahami isu-isu sosio-relijius dalam kerangka pemikiran Islam yang lebih luas. Jadi program ini penting untuk memperkaya pengetahuan mereka mengenai keislaman sehingga kelak mereka menjadi pemimpin di masyarakat. Dengan pemahaman Islam yang benar, mereka diharapkan dapat menjawab atau mencari solusi atas berbagai permasalahan yang dihadapi masyarakat Singapura.

Mengapa MUIS begitu tertarik dengan Islam di Indonesia?

Islam dan kajian keislaman di Indonesia sudah lama dibangun, sementara di Singapura belum. Kami memiliki ketertarikan sosiologi agama, yakni bagaimana masyarakat berubah dengan pemahaman agama mereka. Selain itu, bagaimana pula masyarakat mampu hidup di Singapura, di tengah negara yang majemuk, sekuler, dan masyarakatnya nomaden tapi berpegang teguh kepada prinsip dan nilai-nilai agama tanpa mereka merasakan menggadaikan agama. Karena itu kajian-kajian sosiologi agama itu penting bagi kami, dan bagaimana kajian tersebut terlaksana dengan baik, serta bagimana bisa hidup misalnya dengan agama yang banyak. Di samping itu, bagimana kita menyumbangkan kepada agama dan juga pembangunan negara melaui agama sebagai suatu anasir atau pos yang positif.

Bagaimana kajian keislaman di Singapura sendiri?

Pada masa-masa lalu orientasinya memang masih sekitar segi-segi hukum Islam dan fiqih. Tapi sejak beberapa tahun belakangan, tepatnya sejak kembalinya para sarjana muslim Singapura dari berbagai negara, wacananya sudah berubah. Jelasnya kajian keislaman saat ini bagaimana kita memahami nilai-nilai Islam yang universal untuk diamalkan dalam masyarakat yang multi-agama dan multi-budaya.

Jadi sudah ada pergeseran dalam pemahaman keislaman?

Ya masyarakat Islam Singapura telah memahami beragam pemahaman agama. Hal itu tak perlu ditakuti dan dikhawatirkan. Pokoknya tentu ada upaya untuk saling menghormati yang berbeda pandangan di antara masyarakat Islam di sana. Dengan begitu kita tidak saling menuduh satu sama lain yang berbeda pandangan itu. Kita malah meramaikan keberagaman itu karena masing-masing memiliki dalil-dalil yang positif dan boleh dipakai, bahkan boleh dipelajari antar satu dengan yang lain.

Bagaimana hubungan antara Islam dan pemerintah di Singapura selama ini?

Hubungan antara agama dan masyarakat Islam di Singapura sangat baik, termasuk pembangunan lembaga-lembaga dakwah Islam. Malah ada seksi-seksi perencanaan dan juga pertemuan untuk memikirkan bagaimana negara Singapura dapat memperbaiki keadaan masyarakatnya melalui lembaga Islam bersama dengan lembaga-lembaga pemerintah yang ada serta agensi-agensi pemerintah.