Kajian Filologi Belum Banyak Dilirik Masyarakat

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Reporter: Ana Sabhana Azmy

Auditorium SPs, UIN Online – Kajian filologi belum banyak dilirik khalayak, terutama dalam kajian Islam di Indonesia. Bahkan, hingga era 80-an, meski ada beberapa peneliti naskah, namun filologi sebagai sebuah kajian Islam juga belum berkembang dengan baik.

Hal itu dikatakan Direktur Sekolah Pascasarjana UIN Jakarta Prof Dr Azyumardi Azra dalam seminar tentang Filologi dan Penguatan Kajian Islam di Auditorium Sekolah Pascasarjana (SPs), Senin (19/07). Hadir pembicara lain Direktur Badan Litbang dan Keagamaan Kementerian Agama Prof Dr M Atho Mudzhar, sejarahwan Prof Dr Henri-Chambert Loir, dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia Dr Tommy Christommy, dan dosen Filologi Islam Fakultas Adab dan Humaniora UIN Jakarta Dr Oman Fathurrahman

“Selama ini kajian naskah belum banyak di lirik. Meskipun ada hal itu seringkali hanya dari satu aspek saja, misalnya fiqih. Bahasan tentang rujuk, nikah dan talak menjadi kajian naskah fiqih yang paling sering kita temui ketimbang mengkaji naskah,” ujar Azra.

Menurut Azra, naskah Islam Indonesia merupakan salah satu warisan Islam yang tidak ternilai di nusantara. Hanya sayang, bangsa Indonesia tidak tahu bagaimana menjaganya sejak zaman penjajahan. “Islam di Indonesia pada zaman Belanda dikatakan layaknya abu, yang jika digosok sedikit, maka ia akan hilang,” paparnya setengah kecewa.

Minimnya konsentrasi akan kajian filologi disebabkan oleh ketidaktahuan pengetahuan masyarakat Islam, termasuk mahasiswa UIN Jakarta terhadap pemikiran-pemikiran Islam pada masa dulu.

“Kajian naskah menjadi sangat penting, karena menjelaskan Islam itu harus dari dalam dan tetap dalam parameter keilmuan,” ujar mantan Rektor UIN Jakarta tersebut. Lebih lanjut ia menjelaskan, naskah tulisan tangan yang ada dalam sejarah Indonesia memang tidak dapat dipisahkan dari tradisi besar Islam yang sejak abad ke-7 secara perlahan sudah mulai masuk ke wilayah Melayu Nusantara. Begitu pentingnya kajian filologi,

Hal yang sama diakui Oman Fathurrahman yang mengatakan bahwa pada saat UIN Jakarta masih IAIN Jakarta, filologi baru diperkenalkan sebagai mata kuliah di Fakultas Adab dengan bobot 2 SKS tanpa mata kuliah penunjang lainnya. Ia juga memaparkan bahwa pendekatan filologi sebagai salah satu sarana untuk menggali khazanah pengatahuan lama dalam manuskrip, belum banyak dikembangkan di perguruan tinggi Islam, termasuk IAIN Jakarta yang waktu itu merupakan salah satu proyek percontohan perguruan tinggi Islam negeri.

“Naskah adalah salah satu elemen penting dalam upaya merekonstruksi berbagai pemikiran intelektual Islam, bahkan dalam aneka kehidupan sehari-hari,” kata Oman.

Seminar yang diadakan atas kerja sama SPs dan Puslitbang Lektur Keagamaan Badan Litbang dan Diklat Kementrian Agama ini berusaha untuk menumbuhkan kembali ketertarikan akan sebuah kajian filologi/naskah, terutama sebagai esensi dalam mengkaji Islam di Indonesia

Kajian Filologi Belum Banyak Dilirik Masyarakat

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Reporter: Ana Sabhana Azmy

Auditorium SPs, UIN Online – Kajian filologi belum banyak dilirik khalayak, terutama dalam kajian Islam di Indonesia. Bahkan, hingga era 80-an, meski ada beberapa peneliti naskah, namun filologi sebagai sebuah kajian Islam juga belum berkembang dengan baik.

Hal itu dikatakan Direktur Sekolah Pascasarjana UIN Jakarta Prof Dr Azyumardi Azra dalam seminar tentang Filologi dan Penguatan Kajian Islam di Auditorium Sekolah Pascasarjana (SPs), Senin (19/07). Hadir pembicara lain Direktur Badan Litbang dan Keagamaan Kementerian Agama Prof Dr M Atho Mudzhar, sejarahwan Prof Dr Henri-Chambert Loir, dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia Dr Tommy Christommy, dan dosen Filologi Islam Fakultas Adab dan Humaniora UIN Jakarta Dr Oman Fathurrahman

“Selama ini kajian naskah belum banyak di lirik. Meskipun ada hal itu seringkali hanya dari satu aspek saja, misalnya fiqih. Bahasan tentang rujuk, nikah dan talak menjadi kajian naskah fiqih yang paling sering kita temui ketimbang mengkaji naskah,” ujar Azra.

Menurut Azra, naskah Islam Indonesia merupakan salah satu warisan Islam yang tidak ternilai di nusantara. Hanya sayang, bangsa Indonesia tidak tahu bagaimana menjaganya sejak zaman penjajahan. “Islam di Indonesia pada zaman Belanda dikatakan layaknya abu, yang jika digosok sedikit, maka ia akan hilang,” paparnya setengah kecewa.

Minimnya konsentrasi akan kajian filologi disebabkan oleh ketidaktahuan pengetahuan masyarakat Islam, termasuk mahasiswa UIN Jakarta terhadap pemikiran-pemikiran Islam pada masa dulu.

“Kajian naskah menjadi sangat penting, karena menjelaskan Islam itu harus dari dalam dan tetap dalam parameter keilmuan,” ujar mantan Rektor UIN Jakarta tersebut. Lebih lanjut ia menjelaskan, naskah tulisan tangan yang ada dalam sejarah Indonesia memang tidak dapat dipisahkan dari tradisi besar Islam yang sejak abad ke-7 secara perlahan sudah mulai masuk ke wilayah Melayu Nusantara. Begitu pentingnya kajian filologi,

Hal yang sama diakui Oman Fathurrahman yang mengatakan bahwa pada saat UIN Jakarta masih IAIN Jakarta, filologi baru diperkenalkan sebagai mata kuliah di Fakultas Adab dengan bobot 2 SKS tanpa mata kuliah penunjang lainnya. Ia juga memaparkan bahwa pendekatan filologi sebagai salah satu sarana untuk menggali khazanah pengatahuan lama dalam manuskrip, belum banyak dikembangkan di perguruan tinggi Islam, termasuk IAIN Jakarta yang waktu itu merupakan salah satu proyek percontohan perguruan tinggi Islam negeri.

“Naskah adalah salah satu elemen penting dalam upaya merekonstruksi berbagai pemikiran intelektual Islam, bahkan dalam aneka kehidupan sehari-hari,” kata Oman.

Seminar yang diadakan atas kerja sama SPs dan Puslitbang Lektur Keagamaan Badan Litbang dan Diklat Kementrian Agama ini berusaha untuk menumbuhkan kembali ketertarikan akan sebuah kajian filologi/naskah, terutama sebagai esensi dalam mengkaji Islam di Indonesia