Auditorim SPs, Berita UIN Online— Shamsi Ali, Imam Islamic Cultural Center, New York, Amerika Serikat, dinilai mampu mendorong tumbuhnya Islam yang rahmatan lil Alamin di tengah-tengah masyarakat negeri Paman Sam tersebut. Selain itu, model dakwah yang dilakukannya dinilai baru sehingga menjadi kontribusi penting bagi pengembangan teori dakwah keagamaan masa kini.
Demikian disampaikan Hannas, mahasiswa Program Doktor Sekolah Pascasarjana (SPs) UIN Jakarta dalam sidang terbuka promosi doktornya di Auditorium SPs UIN Jakarta, Jumat (28/7/2017). Dalam sidang itu, Hannas berhasil mempertahankan disertasinya Islam Rahmatan Li Al-Alamin: Studi tentang Pemikiran dan Kiprah Dakwah Muhammad Shamsi Ali di New York.
Hadir sebagai penguji Direktur SPs Prof Dr Masykuri Abdillah, Prof Dr H.M. Ridwan Lubis, Prof Dr Iik Arifin Mansurnoor MA, dan Prof. Dr. Didin Saepudin, MA. Selain itu, hadir juga Prof Dr M. Atho Mudzhar MSPD dan Prof Dr Azyumardi Azra selaku penguji sekaligus promotor.
Riset Hannas mencatat, kiprah dakwah Islam lelaki kelahiran Bulukumba, Sulawesi Selatan, pada 5 Oktober 1967 lalu cukup berhasil dengan mendorong pengejawantahan Islam rahmatan lil Alamin di tengah-tengah masyarakat Amerika Serikat. Menurutnya, hal demikian tidak lepas dari dua metode dakwah yang digunakan Shamsi Ali sekaligus menjadi pembeda dirinya dengan para pendakwah lain.
Keduanya, yakni inclusive preaching model dan open preaching model. Model pertama berkaitan dengan cara Shamsi Ali mengajak pemuka agama lain untuk bersama-sama mendakwahkan ajaran kasih masing-masing. Adapun model kedua tidak lepas dari keterbukaan Shamsi Ali untuk mendiskusikan ulang materi yang telah disampaikan bersama para jamaahnya.
Hannas memaparkan, kiprah dakwah Muhammad Shamsi Ali di New York diejawantahkan melalui dakwah bi al-lisan, dakwah bi al-qalam dan dakwah bi al-hal dengan cara menggabungkan berbagai model dakwah yang juga dikenal dalam misionari Kristen. Diantaranya spiritual grow preaching model atau model khutbah meningkatkan kerohanian, educational preaching model atau model khutbah yang sifatnya mendidik, inclusive preaching model atau model khutbah inklusif dan open preaching model atau model khutbah terbuka.
“Dua model dakwah yang terakhir, inclusive preaching model dan open preaching model, tidak dikenal dalam literatur teori misionari Kristen dan sekaligus menjadi kontribusi Shamsi Ali dalam pengembangan teori dakwah,” papar pria kelahiran Gunung Seteleng, 8 Juni 1973 ini.
Hannas menambahkan bahwa pada tataran konseptual, Islam rahmatan li al-alamin Shamsi Ali memberikan sumbangsih berupa memperluas penekanan aspek-aspek ajaran Islam yang pro kemanusiaan secara universal. Sumbangsih ini juga yang menjadikan dakwah Shamsi Ali cukup popular di AS.
“Penekanan pada aspek-aspek kemanusiaan ini dijabarkan ke dalam tujuh karakter Islam rahmatan li al-alamin, yaitu kemaslahatan bersama, kerjasama dengan semua orang, positif dan optimis, sikap hidup yang kontributif, tawakal, dakwah tanpa memaksa dan menghargai pluralisme,” terang suami Rinawaty sekaligus bapak dua anak ini.
Melalui risetnya ini, Hannas berhasil menjadi doktor SPs UIN Jakarta ke-1057 dengan IPK 3,56 dan dengan predikat sangat memuaskan. Raihan ini sekaligus mengantar Hannas sebagai pendeta yang berhasil menamatkan pendidikan tinggi di perguruan tinggi Islam setelah sebelumnya, Rabu (24/05/2017), seorang Romo Katolik, Greg Sutomo, meraih gelar serupa setelah mempertahankan disertasi berjudul Bahasa, Kekuasaan, dan Sejarah: Historiografi Islam Marshall G.S Hudgson dalam Perspektif Kajian Postsrukturalisme Michel Foucault.
Sebagai informasi, Hannas merupakan pendeta Kristen Protestan di International Full Gospel Fellowship (IFGF) sekaligus dosen di Sekolah Tinggi Teologia Internasional Harvest. Sebelum di SPs UIN Jakarta, Hannas telah meraih gelar doktor teologi (Dr.Th) di almamater tempat ia mengajar pada tahun 2012. (Farah NH/wildan/zm)

Share This