Jurnalistik Bukan Sesuatu yang Sakral

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Reporter: Jamilah

Gedung FUF, UIN Online – Redaktur Opini Harian Seputar Indonesia, Pangeran Ahmad Nurdin mengatakan, jurnalistik jangan dijadikan sebagai sesuatu yang sakral karena karya jurnalistik juga dibuat oleh manusia. Oleh sebab itu, sebaiknya berita tidak hanya didapat dari satu media saja. Hal itu dikatakannya terkait pertanyaan mahasiswa mengenai  bagaimana agar pembaca tidak terjebak oleh pemberitaan media.

“Intinya jangan percaya jurnalistik itu sakral, karena yang membuatnya juga manusia,” katanya dalam workshop yang digelar dua hari di Ruang Rapat Fakultas Usuluddin dan Filsafat, Kamis (22/10).

Setiap media, tambahnya, memiliki persepsi dan pandangan masing-masing, sehingga dalam pemberitaannya media tersebut akan melakukan riset yang mendukung idiologi atau pandangan mereka.

Sementara itu, terkait motivasi mahasiswa dalam membuat artikel, Pemimpin Redaksi Berita UIN Nanang Syaikhu menyarankan agar mahasiswa tidak bosan mengirim artikel ke media, kendati atikel tersebut tidak dimuat. “Jangan putus asa, teruslah kirim sambil introspeksi dan evaluasi kelemahan dan kekurangannya. Jangan pernah bosan duduk dibangku dan kehilangan ide menulis. Jadikan kegagalan pertama sebagai kesuksesan untuk selamanya,” ujar dosen Ilmu Komunikasi Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN itu memotivasi.

 

 

Jurnalistik Bukan Sesuatu yang Sakral

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Reporter: Jamilah

Gedung FUF, UIN Online – Redaktur Opini Harian Seputar Indonesia, Pangeran Ahmad Nurdin mengatakan, jurnalistik jangan dijadikan sebagai sesuatu yang sakral karena karya jurnalistik juga dibuat oleh manusia. Oleh sebab itu, sebaiknya berita tidak hanya didapat dari satu media saja. Hal itu dikatakannya terkait pertanyaan mahasiswa mengenai  bagaimana agar pembaca tidak terjebak oleh pemberitaan media.

“Intinya jangan percaya jurnalistik itu sakral, karena yang membuatnya juga manusia,” katanya dalam workshop yang digelar dua hari di Ruang Rapat Fakultas Usuluddin dan Filsafat, Kamis (22/10).

Setiap media, tambahnya, memiliki persepsi dan pandangan masing-masing, sehingga dalam pemberitaannya media tersebut akan melakukan riset yang mendukung idiologi atau pandangan mereka.

Sementara itu, terkait motivasi mahasiswa dalam membuat artikel, Pemimpin Redaksi Berita UIN Nanang Syaikhu menyarankan agar mahasiswa tidak bosan mengirim artikel ke media, kendati atikel tersebut tidak dimuat. “Jangan putus asa, teruslah kirim sambil introspeksi dan evaluasi kelemahan dan kekurangannya. Jangan pernah bosan duduk dibangku dan kehilangan ide menulis. Jadikan kegagalan pertama sebagai kesuksesan untuk selamanya,” ujar dosen Ilmu Komunikasi Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN itu memotivasi.