Jurnalisme Profetik Selalu Menghindari Kedengkian

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

 

Reporter: Hilda Savitri

Gedung NICT, BERITA UIN Online – Jurnalisme Islam tak lain adalah jurnalisme yang mempraktikkan keempat akhlak mulia Rasulullah, yakni shidiq, amanah, tabligh, dan fathanah. Jurnalisme tersebut selain lebih bermanfaat bagi masyarakat penyajiannya juga tidak terpengaruh oleh berbagai bias politik yang mengandung  kedengkian.

Demikin benang merah yang mengemuka pada seminar nasional bertajuk “Mencari Akar Islam dalam Tradisi Jurnalisme di Indonesia”, di Gedung National Information and Communication Technology (NICT), Selasa (23/10). Seminar di antaranya menghadirkan narasumber tokoh pers nasional dan mantan Direktur RRI Parni Hadi, mantan Direktur LKBN Antrara Mohammad Sobari, Dekan Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi (Fidikom) Dr Arif Subhan, dan guru besar Fidikom Prof Dr Andi Faisal Bhakti.

Menurut penggagas jurnalisme profetik Parni Hadi, sekalipun suatu media mengusung panji-panji Islam, tetapi jika tidak banyak bermanfaat praktik jurnalisme semacam itu belum Islami.

Jurnalisme, lanjut Parni, yang berdasar cinta dan diabdikan untuk kepentingan orang banyak dapat juga disebut dengan jurnalisme kenabian atau jurnalisme profetik. Wartawan yang mengemban jurnalisme profetik adalah wartawan yang berani mengambil resiko demi mempertahankan keyakinannya akan suatu kebenaran tanpa memandang ras, suku, negara, maupun agama.

“Persyaratan dasar menjadi wartawan profetik adalah memiliki kepedulian terhadap kebaikan orang banyak yang didasarkan cinta,” ujarnya.

Sementara itu, mantan Direktur LKBN Antara Mohammad Sobari mengatakan, jika seorang wartawan mengkhianati kebenaran, maka intelektualitas wartawan tersebut akan gugur seketika. Namun, disisi lain seorang wartawan juga harus bersikap bijaksana  dalam memilih berita yang akan disajikan kepada masyarakat.

“Juga tidak baik menyajikan berita yanng terlalu apa adanya dalam berita-berita tertentu,” kata Sobari.

Arif Subhan menambahkan, pers merupakan bagian dari jihad. Jihad di sini bukan berarti teroris, melainkan usaha untuk mempertahankan kebenaran. “Jihad tidak hanya berarti perang, namun dapat diartikan untuk memperjuangkan keadilan dan kebenaran,” tandasnya.

Seminar yang menghadirkan Wakil Menteri Kementerian Agama RI Nazaruddin Umar sebagai pembicara kunci ini berlangsung selama dua hari. Juga hadir Kepala Litbang dan SDM Kemenkominfo RI Aizirman Djusan.