Jihad Damai

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Ramadhan. Bulan suci untuk menjalankan ibadah puasa guna mencapai maqam takwa, terpelihara dirinya. Puasa adalah salah satu bentuk jihad, yang dalam satu hadis Nabi Muhammad disebut sebagai jihad akbar (jihad akbar)-jihad melawan hawa nafsu yang bisa berkobar-kobar dalam diri manusia. Jihad melawan hawa nafsu lebih besar nilainya daripada menghadapi musuh-musuh Islam di medan perang. Dan, perang merupakan jihad lebih kecil (jihad ashgar) karena perang menghadapi lawan yang terlihat jelas, sementara jihad akbar berlangsung melawan kekuatan hawa nafsu yang tersembunyi di dalam diri manusia, yang jika tidak dikendalikan dapat menjerumuskan orang yang bersangkutan ke dalam kesesatan dan kehinaan.

Jihad-berusaha sungguh-sungguh dengan segenap kemampuan-kini menjadi istilah yang sering disalahartikan, baik di kalangan Muslim sendiri dan apalagi di kalangan masyarakat Barat. Aksi dan tindakan kekerasan, termasuk terorisme, dijadikan identik dengan jihad. Bahkan, media Barat menyebut para pelakunya sebagai ‘jihadists‘. Karena realitas seperti itu, Syekh Yusuf Qardhawi dalam karya monumentalnya Fiqh Jihad (Bandung: Mizan, 2010), menyatakan bahwa umat telah melupakan jihad. Menurut dia, bahkan umat telah menggugurkan jihad dan program-programnya, baik dalam bentuk materi, jiwa, pemikiran, maupun kebudayaan.

Menurut Yusuf Qardhawi, termasuk kekeliruan dan kebodohan apabila jihad dipahami dengan pandangan keliru, dan diletakkan bukan pada tempatnya. “Akhirnya, atas nama jihad, darah, nyawa, kehormatan, harta, dan negeri yang suci serta tidak berdosa menjadi halal. Akhirnya, dengan jihad pula, umat dan agama Islam pun dituduh dengan kekerasan, terorisme, dan permusuhan; padahal Islam suci dari segala tuduhan tersebut. Inilah yang terjadi setelah tragedi 11 September 2001: Islam tertuduh sebagai agama yang menyebarkan kekerasan dan terorisme di dunia,” tulis Qardhawi.

Jihad jelas tidak sama, apalagi identik dengan terorisme yang dalam terminologi bahasa Arab disebut al-irhab. Terorisme adalah kekerasan tidak lazim untuk menciptakan ketakutan meluas dalam masyarakat karena mengorbankan orang-orang yang tidak berdosa dan tidak terkait dengan agenda dan tujuan pelaku terorisme. Berbagai bentuk terorisme jelas terlarang dalam Islam-dan karena itu tidak dapat disebut sebagai jihad.

Jihad jelas merupakan salah satu amal utama dalam Islam sejak dari melakukan ibadah puasa, naik haji, menuntut ilmu, menyantuni fakir-miskin, taushiyyah bil-haq (menyampaikan kebenaran), berbakti kepada orang tua dan juga perang melawan orang-orang atau kaum yang memusuhi dan menyerang umat Muslimin. Dengan demikian, cakupan jihad begitu luas dan kompleks.

Tetapi, seperti dikemukakan Ibn al-Qayyim al-Jauziyah, jihad terhadap diri sendiri harus lebih didahulukan daripada jihad-jihad lain, termasuk perang di jalan Allah (jihad fi sabilillah). Jihad melawan hawa nafsu yang ada dalam diri sendiri merupakan dasar bagi berbagai bentuk jihad lain. “Apabila seorang tidak berjihad melawan [hawa nafsu] dirinya sendiri dalam menaati perintah Allah dan meninggalkan apa yang dilarang-Nya dengan ikhlas karena-Nya, bagaimana mungkin dia bisa berjihad melawan [musuh-musuh Islam]. Tidak mungkin dia berangkat berjihad melawan musuh sampai dia mampu berjihad melawan hawa nafsunya sendiri,” tulis Ibn al-Qayyim.

Sekali lagi, bagi Ibn al-Qayyim, jihad yang sebenarnya adalah jihad yang dilakukan seorang hamba melawan hawa nafsunya. Dan puasa adalah salah satu amal ibadah utama dalam melawan hawa nafsu. Ibadah puasa sebagai jihad melawan hawa nafsu dengan menundukkan hati, lidah, dan fisik kepada Allah, sehingga sesuatunya dalam diri hamba tersebut hanyalah untuk Dia.

Untuk dapat melakukan jihad mengendalikan dan melawan hawa nafsu, setiap Muslim-Muslimat mesti melakukan jihad menuntut ilmu dan mempelajari kebaikan dan kebenaran. Karena, jika dia tidak berilmu dan mengetahui kebenaran, dia bakal tersesat dan akhirnya dikendalikan hawa nafsunya. Selanjutnya adalah berjihad mengamalkan ilmu dan kebenaran yang telah diketahui; sebab tanpa amal, ilmu dan kebenaran tersebut tidak fungsional bagi diri yang bersangkutan untuk menjadi seseorang yang lebih baik.

Jihad berikutnya adalah menyampaikan dan mengajarkan ilmu dan kebenaran tersebut kepada orang lain di sekitarnya. Dalam istilah lain, amal ini biasa disebut da’wah bil-haq atau tawshiyyah bil haq, yang tidak selalu mudah, karena terdapat banyak kesulitan dan tantangan, yang dapat mendatangkan kemarahan. Sebab, itulah jihad dalam hal ini memerlukan kesabaran-tawshiyyah bish-shabr. Dan sikap kesabaran jelas juga sangat ditekankan dalam amal ibadah jihad puasa.

Tulisan ini Pernah Dipublikasikan di Harian Republika, Kamis, 12 Agustus 2010

Penulis adalah Direktur Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Jihad Damai

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Ramadhan. Bulan suci untuk menjalankan ibadah puasa guna mencapai maqam takwa, terpelihara dirinya. Puasa adalah salah satu bentuk jihad, yang dalam satu hadis Nabi Muhammad disebut sebagai jihad akbar (jihad akbar)-jihad melawan hawa nafsu yang bisa berkobar-kobar dalam diri manusia. Jihad melawan hawa nafsu lebih besar nilainya daripada menghadapi musuh-musuh Islam di medan perang. Dan, perang merupakan jihad lebih kecil (jihad ashgar) karena perang menghadapi lawan yang terlihat jelas, sementara jihad akbar berlangsung melawan kekuatan hawa nafsu yang tersembunyi di dalam diri manusia, yang jika tidak dikendalikan dapat menjerumuskan orang yang bersangkutan ke dalam kesesatan dan kehinaan.

Jihad-berusaha sungguh-sungguh dengan segenap kemampuan-kini menjadi istilah yang sering disalahartikan, baik di kalangan Muslim sendiri dan apalagi di kalangan masyarakat Barat. Aksi dan tindakan kekerasan, termasuk terorisme, dijadikan identik dengan jihad. Bahkan, media Barat menyebut para pelakunya sebagai ‘jihadists‘. Karena realitas seperti itu, Syekh Yusuf Qardhawi dalam karya monumentalnya Fiqh Jihad (Bandung: Mizan, 2010), menyatakan bahwa umat telah melupakan jihad. Menurut dia, bahkan umat telah menggugurkan jihad dan program-programnya, baik dalam bentuk materi, jiwa, pemikiran, maupun kebudayaan.

Menurut Yusuf Qardhawi, termasuk kekeliruan dan kebodohan apabila jihad dipahami dengan pandangan keliru, dan diletakkan bukan pada tempatnya. “Akhirnya, atas nama jihad, darah, nyawa, kehormatan, harta, dan negeri yang suci serta tidak berdosa menjadi halal. Akhirnya, dengan jihad pula, umat dan agama Islam pun dituduh dengan kekerasan, terorisme, dan permusuhan; padahal Islam suci dari segala tuduhan tersebut. Inilah yang terjadi setelah tragedi 11 September 2001: Islam tertuduh sebagai agama yang menyebarkan kekerasan dan terorisme di dunia,” tulis Qardhawi.

Jihad jelas tidak sama, apalagi identik dengan terorisme yang dalam terminologi bahasa Arab disebut al-irhab. Terorisme adalah kekerasan tidak lazim untuk menciptakan ketakutan meluas dalam masyarakat karena mengorbankan orang-orang yang tidak berdosa dan tidak terkait dengan agenda dan tujuan pelaku terorisme. Berbagai bentuk terorisme jelas terlarang dalam Islam-dan karena itu tidak dapat disebut sebagai jihad.

Jihad jelas merupakan salah satu amal utama dalam Islam sejak dari melakukan ibadah puasa, naik haji, menuntut ilmu, menyantuni fakir-miskin, taushiyyah bil-haq (menyampaikan kebenaran), berbakti kepada orang tua dan juga perang melawan orang-orang atau kaum yang memusuhi dan menyerang umat Muslimin. Dengan demikian, cakupan jihad begitu luas dan kompleks.

Tetapi, seperti dikemukakan Ibn al-Qayyim al-Jauziyah, jihad terhadap diri sendiri harus lebih didahulukan daripada jihad-jihad lain, termasuk perang di jalan Allah (jihad fi sabilillah). Jihad melawan hawa nafsu yang ada dalam diri sendiri merupakan dasar bagi berbagai bentuk jihad lain. “Apabila seorang tidak berjihad melawan [hawa nafsu] dirinya sendiri dalam menaati perintah Allah dan meninggalkan apa yang dilarang-Nya dengan ikhlas karena-Nya, bagaimana mungkin dia bisa berjihad melawan [musuh-musuh Islam]. Tidak mungkin dia berangkat berjihad melawan musuh sampai dia mampu berjihad melawan hawa nafsunya sendiri,” tulis Ibn al-Qayyim.

Sekali lagi, bagi Ibn al-Qayyim, jihad yang sebenarnya adalah jihad yang dilakukan seorang hamba melawan hawa nafsunya. Dan puasa adalah salah satu amal ibadah utama dalam melawan hawa nafsu. Ibadah puasa sebagai jihad melawan hawa nafsu dengan menundukkan hati, lidah, dan fisik kepada Allah, sehingga sesuatunya dalam diri hamba tersebut hanyalah untuk Dia.

Untuk dapat melakukan jihad mengendalikan dan melawan hawa nafsu, setiap Muslim-Muslimat mesti melakukan jihad menuntut ilmu dan mempelajari kebaikan dan kebenaran. Karena, jika dia tidak berilmu dan mengetahui kebenaran, dia bakal tersesat dan akhirnya dikendalikan hawa nafsunya. Selanjutnya adalah berjihad mengamalkan ilmu dan kebenaran yang telah diketahui; sebab tanpa amal, ilmu dan kebenaran tersebut tidak fungsional bagi diri yang bersangkutan untuk menjadi seseorang yang lebih baik.

Jihad berikutnya adalah menyampaikan dan mengajarkan ilmu dan kebenaran tersebut kepada orang lain di sekitarnya. Dalam istilah lain, amal ini biasa disebut da’wah bil-haq atau tawshiyyah bil haq, yang tidak selalu mudah, karena terdapat banyak kesulitan dan tantangan, yang dapat mendatangkan kemarahan. Sebab, itulah jihad dalam hal ini memerlukan kesabaran-tawshiyyah bish-shabr. Dan sikap kesabaran jelas juga sangat ditekankan dalam amal ibadah jihad puasa.

Tulisan ini Pernah Dipublikasikan di Harian Republika, Kamis, 12 Agustus 2010

Penulis adalah Direktur Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta