Jawi dan Pegon

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Oleh : Saiful Umam*

 

Bagi yang masih menolak atau ragu akan keberadaan Islam Nusantara, ada baiknya membaca kitab-kitab Jawi dan Pegon. Oleh para ilmuwan, kedua istilah tersebut dibedakan. Sementara Jawi adalah bahasa melayu dalam aksara Arab, Pegon adalah Jawa (dan juga Sunda). Dengan demikian, kitab Jawi adalah kitab berbahasa Melayu dan ditulis dengan aksara Arab, sementara yang berbahasa Jawa disebut kitab Pegon. Orang yang hanya paham bahasa Arab tapi tidak tahu bahasa Melayu atau Jawa, dijamin tidak bisa membaca kitab-kitab Jawi atau Pegon. Karya-karya ulama Nusantara yang terekam dalam kitab-kitab Jawi atau Pegon sangat banyak jumlahnya dan itu merupakan bagian dari kekayaan khas Islam Nusantara.

Kitab Jawi sudah ada paling tidak sejak abad ke-17. Nuruddin al-Raniri (w.1658) dan Abdurrauf Singkel (w.1693) adalah dua dari banyak nama yang telah menghasilkan naskah-naskah Islam dalam tulisan Jawi. Keduanya tokoh penting dalam Kesultanan Aceh yang menduduki jabatan tertinggi dalam urusan agama, Syakh al-Islam. Jika Nuruddin menduduki jabatan tersebut pada masa Sultan Iskandar Tsani, Abdurrauf menempatinya pada masa empat Sultanah (Safiyat al-Din, Naqiyat al-Din, Zakiyat al-Din, dan Kamalat al-Din) yang memerintah 1641-1699 M. Kedua ulama tersebut menghasilkan sejumlah kitab yang membahas berbagai aspek ilmu agama yang ditulis dengan Jawi. Salah satu hal menarik dari keduanya dan dapat dikategorikan sebagai bagian dari Islam Nusantara adalah dukungannya terhadap perempuan sebagai pemimpin kerajaan.

Meski Nuruddin terusir dari Aceh akibat perseteruannya dengan para pengikut Syamsudin al-Sumatrani, tidak diragukan bahwa dia adalah salah satu pendukung naiknya Safiyat al-Din menjadi Sultanah pertama di Aceh. Hal ini terekam dalam karyanya, Bus-tan al-Salatin. Bahkan perkembangan para Sultanah selanjutnya terus dicatat dengan baik dari kejauhan setelah dia tidak lagi tinggal di Aceh.

Sementara itu, Abdurrauf merupakan sosok penting di balik bertahannya empat Sultanah berturut-turut memimpin Kesultanan Aceh. Berbagai upaya untuk mendeligitimasi dan menurunkan Sultanah dari singasana dilakukan para elite politik saat itu. Namun upaya mereka tidak berhasil. Dalih agama yang mereka gunakan, bahwa perempuan tidak selayaknya menjadi pemimpin, ditolak Abdurrauf dalam berbagai karyanya, seperti Mir’at al-Tullab. Sekitar enam tahun setelah Nuruddin wafat, Sultanah Kamalat al-Din baru berhasil diturunkan di tengah jalan, pada 1699.

Berbagai pemikiran keagamaan kedua tokoh ulama tersebut di atas yang terekam dalam kitab-kitab Jawi yang ditulisnya adalah contoh konkret Islam Nusantara. Selain kedua ulama tadi, tentu saja masih banyak tokoh Islam Nusantara yang menulis kitab-kitab Jawi. Contohnya, Abd al-Samad al-Falimbani (w. 1789) dengan karya, antara lain, Sayr al-Salikin dan Arsyad al-Banjari (w. 1812) dengan salah satu kitabnya yang terkenal, Sabil al-Muhtadin.

Sementara itu, di Jawa, Pegon sebagai media untuk menulis juga sudah digunakan paling tidak pada abad ke-17. Hal ini dibuktikan dengan adanya manuskrip Mukhtashar Bafadhal yang diyakini ditulis pada abad tersebut dan sekarang tersimpan di The British Library. Dalam manuskrip tersebut, terdapat terjemahan antarbaris dan beberapa catatan di bagian tepi yang ditulis dalam Pegon. Memang dalam bentuk kitab utuh karya lokal sebagaimana contoh kitab Jawi di atas, kitab Pegon baru dijumpai pada abad ke-19, di mana Kiyai Ahmad Rifai Kalisalak (w. 1870) adalah orang yang sampai saat ini diketahui sebagai penulis pertama kitab Pegon.

Kemudian muncul Kiyai Salih ibn Umar al-Samarani, atau yang lebih dikenal dengan sebutan Kiyai Soleh Darat (w. 1903), ulama yang diyakini sebagai tokoh penting di balik perubahan sikap keagamaan RA Kartini. Dia juga diyakini sebagai guru dari dua tokoh pendiri ormas Islam terbesar di Indonesia, Kiyai Hasyim Asy’ari dan Kiyai Ahmad Dahlan.

Ahmad Rifai menulis berbagai bidang keagamaan (fiqh, tauhid, dan tasawuf) dan hampir semuanya dalam bentuk syair. Dijiwai semangat perlawanan terhadap kolonialisme, karya-karya Rifai sangat tegas menentang pemerintah Belanda dan mereka yang bekerja sama dengan penjajah. Sementara itu, Soleh Darat lebih menekankan pada pengajaran hal-hal yang bersifat praktis dalam kehidupan sehari-hari, seperti menjalankan ibadah-ibadah wajib, dan perbaikan akhlak di kalangan masyarakat Jawa.

Dalam karya yang seluruhnya berbentuk prosa, Soleh mengajarkan ilmu-ilmu agama kepada masyarakat yang membutuhkan. Mengingat sebagian besar masyarakat Jawa hanya paham bahasa Jawa, maka dia menulis kitab berbahasa Jawa. Tidak aneh jika ekspresi dalam kitab-kitabnya adalah ekspresi Jawa dari konsep-konsep Islam yang semula dalam bahasa Arab. Ngalap berkah, selametan, ngirim donga adalah beberapa istilah Jawa yang dapat dijumpai dalam kitab-kitab karangan Soleh, seperti Majmu’at al-Syari’ah al-Kafiyah li al-‘Awam, dan dapat dibenarkan menurut ajaran Islam.

Dengan melihat kembali kitab-kitab Jawi dan Pegon, kita akan banyak menemukan banyak konsep, ekspresi, adat, atau kebiasaan yang khas Nusantara, tapi kemudian menjadi bagian dari khazanah peradaban Islam. Adopsi tersebut dilakukan sepanjang tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip dasar ortodoksi Islam. Karena para penulisnya adalah ulama yang mendalam ilmunya setelah belajar dengan sejumlah tokoh, baik di Nusantara maupun di jazirah Arab, mereka paham betul nama yang dapat diadopsi dan mana yang yang tidak.

Dalam proses tersebut, tentu saja tidak ada semangat anti-Arab, sebagaimana dituduhkan oleh mereka yang tidak setuju terhadap konsep Islam Nusantara saat ini. Bahkan huruf yang dipakai untuk menulis kitab saja adalah huruf Arab.

Penulis adalah Direktur Eksekutif PPIM UIN Jakarta. Artikel dimuat dalam kolom opini Koran TEMPO, Selasa 28 Juli 2015.