Jangan Pernah Lelah Berantas Korupsi

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

 

SANGATwajar dan logis kalau rakyat gemas,geram,dan mungkin saja mendekati putus asa, mengapa korupsi di negeri ini masih saja fenomenal?

Tiada hari tanpa berita korupsi, tapi penyelesaiannya mengecewakan. Tingkat kepercayaan masyarakat terhadap aparat dan lembaga penegak hukum sangat rendah. Ini bisa kita dengarkan dalam obrolan harian di mana-mana, termasuk di warung kopi atau di warung tegal (warteg). Saya sebagai rektor, setiap menerima pesan singkat lewat handphonetentang pengaduan mahasiswa atau karyawan yang merasa dirugikan dan dizalimi haknya, langsung dada merasa sesak. Di lembaga dan komunitas mana pun penyimpangan dan korupsi selalu terjadi dengan volume dan daya rusaknya yang bervariasi. Ada yang besar, sedang, dan kecil.

Tapi penyimpangan dan korupsi tetap sebuah kejahatan yang membahayakan. Ibarat setitik api, kalau tidak dicegah, dapat menghanguskan seluruh hutan.Korupsi pun demikian. Jika dibiarkan akan melumpuhkan sebuah birokrasi, baik dalam skala kecil-lokal maupun nasional. Saya ingat pendapat seorang ahli sosiologi korupsi. Ibarat sebuah tubuh,virus korupsi kalau tidak dibasmi tuntas akan menggerogoti sendi-sendi tubuh sehingga akhirnya lemas, lunglai, hidup tidak produktif, tapi selalu memerlukan obat yang mahal. Atau ibarat ulat yang hinggap di pohon apel, kalau yang dimakan sekadar buah atau daunnya, korbannya mudah dipotong, diamputasi.

Namun bagaimana jadinya kalau yang dimakan itu batang tubuh dan akarakarnya? Maka pohon itu akan ambruk, mati. Begitulah halnya kalau virus korupsi sudah masuk ke tubuh birokrasi penegak hukum, tubuh pemerintahan sebuah negara akan keropos, tidak mampu bekerja dengan baik, bahkan lama-lama bangkrut dan dunia akan memberi label sebagai negara yang gagal (failed state). Maka sungguh tepat janji Pak SBY ketika kampanye calon presiden, salah satu program utamanya adalah memberantas korupsi. Catatan hitam yang melekat pada sejarah Orde Lama dan Orde Baru adalah penyakit korupsi, baik korupsi uang maupun kekuasaan.

Keduanya mesti turun dan diturunkan di tengah jalan.Rakyat selalu jadi korban. Sampai hari ini rakyat tak pernah lupa janji Presiden SBY dan media massa pun selalu mendukung upaya pemberantasan korupsi. Meski melelahkan hati, berbagai skandal korupsi selalu diberitakan media massa untuk memperingatkan dan mendukung janji Pak SBY serta mendorong rakyat agar jangan lelah memberantas korupsi. Negara dan bangsa mana pun pernah mengalami suatu masa dan situasi di mana korupsi sedemikian akut menyerang dan melilit sebuah pemerintahan dan kehidupan sosial yang ujung-ujungnya negara itu kacau, rakyat mengamuk.

Pelajaran dari sejarah itu begitu jelas. Bahkan pemerintahan China yang tidak beragama dan tidak memiliki Pancasila saja sangat serius memberantas korupsi sampaisampai memberlakukan hukuman mati. Lalu, bagaimana kita akan mempertanggungjawabkan secara moral, agama, dan politik kalau bangsa yang mengaku religius, Pancasilais, dan demokratis ini membiarkan korupsi tetap menggurita? Dalam konteks kehidupan berkeluarga, sentuhan moral secara lemah lembut cukup efektif untuk mengikis korupsi. Nasihat-nasihat orang tua cukup berwibawa bagi anggota keluarganya agar menjalani hidup dengan baik. Tapi sentuhan agama dan moral bagi perilaku korupsi dalam konteks bernegara tidaklah manjur.

Kurang apa lagi ceramah-ceramah agama lewat mimbar televisi, radio, dan mimbar keagamaan lain? Jadi, aparat dan lembaga penegak hukum mesti tegas, adil, dan tuntas agar bangsa ini selamat dan bermartabat. Mari kita dukung, jangan pernah lelah dan mundur untuk memberantas korupsi. Bagi para pejabat tinggi negara dan pengusaha yang setia membayar pajak, pasti mereka akan sakit hati melihat uang pajak dikorup. Kalau saja penegak hukum itu pembayar pajak cukup besar dan setia––semoga saja begitu––, mereka tak akan segan-segan menjatuhkan sanksi yang berat bagi pelaku-pelaku mafia perpajakan dan para koruptor.

Sungguh malu, apa yang akan kita banggakan kepada diri sendiri, keluarga, dan masyarakat kalau kita hidup mewah, tapi ternyata dari hasil buruan harta haram dan dengan menyengsarakan orang lain? Seorang pemimpin dan penguasa akan dihormati rakyat bukan karena jabatan dan kekayaannya, melainkan peninggalannya dalam memajukan negeri dan gigih membela kebenaran demi melindungi kepentingan orang banyak.(*)