Jangan Mencemari Agama Lain

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Dalam hitungan hari, dua peristiwa amuk massa yang dipicu sentimen agama meletus di negeri ini. Diawali bentrokan jemaat Ahmadiyah dengan warga di Cikeusik, Pandeglang, Banten, Ahad (6/2). Belum tuntas penanganan pemerintah terhadap bentrok tersebut, Selasa (7/2), pecah kerusuhan di kota Temanggung, Jawa Tengah, yang dipicu ketidakpuasan massa terhadap vonis terdakwa penistaan agama, Antonius Richmord Bawengan. Tiga gereja dan sejumlah kendaraan hangus dibakar. Cendekiawan Muslim, Azyumardi Azra, dalam wawancara dengan Republika, memberikan pandangannya terhadap peristiwa yang mengoyak kerukunan umat beragama tersebut.

Apa yang melatarbelakangi aksi-aksi pelecehan agama, misalnya terhadap Islam?

Yang saya ketahui, itu karena fundamentalisme Kristen. Karena pemahaman keagaman yang sempit dan fundamentalis, mengangggap semua orang harus dikristenkan. Itu model Amerika. Siapa saja, (yang jadi sasaran) tidak hanya Islam, tapi Katolik juga. Cuma, mestinya umat Islam jangan mudah cepat marah.

Bagaimana supaya misi penyebaran agama tidak menimbulkan konflik?

Saran saya, setiap kelompok keagamaan itu harus lebih sensitif terhadap kelompok lain. Kalau dia percaya agamanya paling benar, jangan menjelekan agama lain. Kalau menjalankan missi Kristen, ya harus memiliki sensitivitas, jangan mencemarkan agama orang lain, jangan melakukan berbagai cara yang tidak fair. Seperti di Bekasi juga begitu. Kelompok Kristen fundamentalis dari Amerika atau yang pusatnya di Amerika, itu begitu.

Yang diadili di Temanggung itu melakukan penodaan agama. Dia Kristen fundamentalis dari Amerika, dia menodai bukan hanya agama Islam, tapi juga Katolik. Dia bikin juga selebaran yang mencerca figur agama tertentu dalam Katolik. Cuma orang Katolik lebih sabar. Kita orang Islam jangan terlalu cepat marah. Kalau marah lalu mengamuk-amuk, kemudian citra Islam tercemar, dianggap suka kekerasan.

Jadi penting juga, orang Islam belajar bisa lebih sabar mengendalikan diri. Ngamuk-amuk itu seolah-olah tidak percaya dengan Allah, seolah-olah penghinaan terhadap Islam membuat riwayat Islam sudah habis. Padahal Islam mengajarkan sabar, berdoa agar yang menghina terbuka hatinya.

Bisa dijelaskan tentang fundamentalis Kristen dari Amerika itu, bagaimana gerakannya?

Itu panjang penjelasannya. Yang penting, mereka itu fundamentalisme Kristen. Mereka merasa terlahir kembali sebagi Kristen dan merasa punya kebenaran. Seperti Presiden Bush itu.

Sumber: Republika, 10 Februari 2011

Kenapa umat Islam sangat mudah marah jika agamanya dihina? Apakah karena ajarannya, pemuka agamanya, sosial ekonomi, atau budaya?

Itu bisa kombinasi. Ada juga ajaran Islam yang bisa cepat bikin marah. Jihad dalam menyikapi (serangan) orang kafir misalnya, kalau dipahami secara sempit dan sepotong-sepotong, itu bisa bikin marah. Namun, secara umum, Islam tidak mengajarkan kekerasan. Sifat dasar Islam itu damai.

Budaya juga ada pengaruhnya, seperti di Timur Tengah. Karena mereka biasa di padang pasir yang keras, jadi tidak mau mengalah.

Di Indonesia mungkin budayanya lebih tepo seliro, lebih mau mengalah. Cuma orang Indonesia, juga marahnya bisa jelek, ngamuk-amuk, sulit dikontrol.

Bagaimana Islam sendiri memandang perbedaan agama?

Secara umum, umat Islam sangat toleran. Orang Indonesia mayoritas penduduknya Islam, tapi Indonesia bukan negara Islam, Islam juga bukan dasar negara.

Di dalam Islam itu sendiri ada kelompok yang pemahaman keagamaannya keras, kurang akomodatif, kurang kompromi, suka menggunakan kekerasan. Oleh karena itu, tugas dari para ulama, pemimpin di tingkat desa, kecamatan, Kementerian Agama, untuk memberikan perspektif Islam dan perdamaian.

Sejauh mana kerusuhan di Temanggung dan bentrok di Cikeusik berpengaruh pada kerukunan umat beragama?

Itu jelas mengganggu kerukunan antaragama. Baik di antara intraumat Islam atau umat Islam dengan Ahmadiyah. Apapun alasannya tidak boleh menggunakan kekerasan, karena mencemarkan kita sebagai agama yang damai. Jalan damai yang diajarkan oleh Islam, misalnya secara hikmah, bijaksana, diskusi, dan berdebat dengan cara yang baik.

Bagaimana implikasinya ke depan?

Bagi orang yang tidak suka dengan Islam, bisa memperkuat anggapan kalau orang Islam tertentu suka melakukan kekerasan. Oleh karena itu saya kira tanggung jawab semua umat Islam untuk menampilkan perilaku yang damai.

Meskipun kita juga harus meminta kepada pemerintah dan kepolisian supaya lebih tegas. Karena toh, polisi sudah tahu beberapa hari sebelumnya ada pergerakan massa ke Cikeusik dan Temanggung. Polisi harusnya bisa mengantisipasi itu, memanggil mereka yang menjadai penggerak aksi massa seperti itu.

Polisi tahu bakal ada orang Ahmadiyah Jakarta ke Cikeusik. Polisi bisa menyetop mereka, menghentikan di jalan sebelum ke Cikuesik. Tapi itu tidak dilakukan oleh polisi. Polisi jangan menunggu sampai terjadi amuk massa.

Polisi juga tahu ada massa dari luar Temanggung sudah berkumpul di gereja. Kenapa tidak dibubarkan, kenapa tidak meminta bantuan TNI untuk mengisolasi mereka? Ini tidak dilakukan polisi.

Bagaimana sebenarnya konsep kerukunan umat beragama menurut Anda?

Sesama umat intra-Islam itu harus saling toleran. Menjalankan dakwah jangan agresif, setiap aliran jangan menganggap mereka sendiri yang paling benar. Harus saling menghormati.

Kalau dipahami secara benar, Islam itu mengajarkan perdamaian. Kalau sepotong-sepotong bisa jadi keras. Islam mengajarkan saling menghormati, saling toleran, lakum dinukum walyadin, jangan saling mengganggu. Untukmu agamamu dan untukku agamaku. Oleh karena itu, perlu pemahaman Islam yang lebih menyeluruh.

Antaragama juga harus lebih sensitif. Jangan bikin brosur yang menjelek-jelekan agama lain.

Sumber: Republika, 10 Februari 2011