Jangan Anggap Remeh Tuna Netra

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone
Reporter: Jaenuddin Ishaq

Gedung FDK, UINJKT Online – Kasubid Pelayanan Rehabilitasi Sosial dan Penyandang Cacat Departemen Sosial (Depsos) RI Drs Abd Choir Ghozali MSi mengatakan, penyandang cacat tuna netra memiliki daya pikir yang kuat dibanding penyandang cacat lainnya seperti tuna rungu. 

Demikian dikatakan Choir dalam Talk Show dengan tema “Dengan Kebersamaan Kita Menyongsong Masa Depan” yang diadakan Badan Eksekutif Mahasiswa Konsentrasi (BEM K) Kesejahteraan Sosial (Kesos) Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) di ruang teater, Rabu (27/5). 

Menurutnya, penyandang cacat tuna netra berbeda dengan penyandang cacat lainnya dalam bidang keilmuan. Ia mencontohkan, pennyandang cacat tuna netra sempat ada yang menyelesaikan pendidikan hingga ke-S3.

“Tinggal dikembangkan potensi-potensi yang mereka miliki. Karena itu, jangan anggap penyandang cacat tuna netra tidak memiliki kemampuan,” jelasnya.

Hal senada dikatakan Kabag Humas Yayasan Mitra Netra yang juga penyandang cacat netra Arya Indrawati SH. Baginya, meski penyandang cacat tuna netra mengalami gangguan pada penglihatan namun pada bagian tubuh lainnya tidak terganggu. 

“Penyandang cacat tuna netra juga membutuhkan dunia pendidikan. Dan ini tidak saja tanggung jawab Depsos, tapi masyarakat pada umumnya,” katanya. 

Dunia pendidikan, lanjut Arya, merupakan pilar penting. Dan ini berhak diterima oleh penyandang cacat seperti tuna netra. “Karena mereka juga memiliki potensi, dan itu harus dikembangkan,” jelasnya. []

Jangan Anggap Remeh Tuna Netra

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone
Reporter: Jaenuddin Ishaq

Gedung FDK, UINJKT Online – Kasubid Pelayanan Rehabilitasi Sosial dan Penyandang Cacat Departemen Sosial (Depsos) RI Drs Abd Choir Ghozali MSi mengatakan, penyandang cacat tuna netra memiliki daya pikir yang kuat dibanding penyandang cacat lainnya seperti tuna rungu. 

Demikian dikatakan Choir dalam Talk Show dengan tema “Dengan Kebersamaan Kita Menyongsong Masa Depan” yang diadakan Badan Eksekutif Mahasiswa Konsentrasi (BEM K) Kesejahteraan Sosial (Kesos) Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) di ruang teater, Rabu (27/5). 

Menurutnya, penyandang cacat tuna netra berbeda dengan penyandang cacat lainnya dalam bidang keilmuan. Ia mencontohkan, pennyandang cacat tuna netra sempat ada yang menyelesaikan pendidikan hingga ke-S3.

“Tinggal dikembangkan potensi-potensi yang mereka miliki. Karena itu, jangan anggap penyandang cacat tuna netra tidak memiliki kemampuan,” jelasnya.

Hal senada dikatakan Kabag Humas Yayasan Mitra Netra yang juga penyandang cacat netra Arya Indrawati SH. Baginya, meski penyandang cacat tuna netra mengalami gangguan pada penglihatan namun pada bagian tubuh lainnya tidak terganggu. 

“Penyandang cacat tuna netra juga membutuhkan dunia pendidikan. Dan ini tidak saja tanggung jawab Depsos, tapi masyarakat pada umumnya,” katanya. 

Dunia pendidikan, lanjut Arya, merupakan pilar penting. Dan ini berhak diterima oleh penyandang cacat seperti tuna netra. “Karena mereka juga memiliki potensi, dan itu harus dikembangkan,” jelasnya. []