Oleh: Prof Dr Komaruddin Hidayat*

Yang namanya hidup itu berarti selalu bergerak. Salah satunya adalah berjalan. Makanya kalau kita melihatsekeliling, pastiakanditemukan yang namanya jalan, entah jalan besar atau kecil, lurus atau berkelok, datar, naik atau turun.

Manusia selalu bergerak merupakan naluri bawaan. Selalu ingin melihat wilayah yang baru. Selalu ingin memperluas wawasan dan pengalaman hidupnya. Untuk memfasilitasi naluri sebagai peziarah ini, diciptakanlah sarana sejak dari sandal, sepatu, jalan, kendaraan hingga sekian peralatan lain agar perjalanan nyaman. Tak kalah penting, manusia juga membangun jembatan.

Tidak cukup melalui daratan, manusia juga berjalan dengan menggunakan jalur lautan dan udara. Lautan dan udara pun dikavling- kavling untuk lalu lintas kapal dan pesawat udara sehingga kemacetan tidak saja terjadi di daratan, tetapi sekarang jalan udara di atas Bandara Soekarno- Hatta Jakarta dan Adisutjipto Yogyakarta juga sering macet. Pesawat mesti antre untuk takeoff maupun landing.

Ketika perjalanan dan pengembaraan fisik untuk mengetahui luasnya dunia terhambat secara teknis, diciptakanlah internet dan teknologi fotografi serta televisi demi memenuhi dahaga berziarah berlanglang buana. Sekarang, dengan duduk di depan komputer atau televisi, kita bisa menjangkau dunia yang lebih luas dan warna-warni meskipun dalam sajian potongan-potongan gambar, rekaman video atau foto.

Orang bilang kita hidup di era visual age. Meskipun begitu, dorongan untuk melihat teritori, bukan sekadar peta, tak pernah mati. Makanya industri motor, mobil, dan pesawat selalu berkembang. Agen-agen travel pun bermunculan. Ketika realitas ini saya kaitkan dengan ajaran Islam, saya menemukan beberapa istilah konseptual di mana Islam juga sangat menekankan etos gerak.

Anda mungkin sangat akrab dengan istilah-istilah ini yang semuanya memiliki konotasi gerak dan jalan. Misalnya kata syariah, thariqah, sabilillah, hijrah, thawaf, madzhab, musafir, ziyarah, sa’i, isra’, mi’raj. Kata-kata itu semuanya mengandung makna berjalan atau bergerak baik pada level fisik maupun spiritual, berdimensi horizontal maupun vertikal. Kata syariah misalnya berasal dari sebuah jalan yang mendekatkan sumber mata air.

Oleh Islam lalu ditransendensikan sebagai jalan menuju kebahagiaan dan keselamatan dunia-akhirat. Jadi di situ Islam (dan agama pada umumnya) memberikan dimensi moral spiritual agar aktivitas hidup yang selalu ditandai dengan gerak itu memiliki tujuan yang lebih bermakna, bukan sekadar mobilitas fisik tanpa tujuan yang bersifat Ilahi. Ketika seseorang memiliki mobil, sebuah pertanyaan moral muncul.

Untuk bergerak ke mana dan untuk tujuan apa seseorang menjalankan mobilnya? Ketika kaki melangkah keluar rumah, ke mana dan untuk apa tubuh ini hendak dibawa? Semua aktivitas fisik dan intelektual yang kita lakukan ujungnya mesti mengundang pertanyaan moral, apa makna dan manfaat apa dari semua itu?

Mengabaikan pertanyaan moral sama saja menempatkan manusia tak ubahnya seperti hewan atau mesin. Pasalnya, salah satu dimensi dan misi manusia sebagai moral being adalah menegakkan nilai-nilai moral dalam kehidupannya di mana pun berada. Bayangkan saja, di mana pun pergi kita akan melihat sarana jalan dan teknologi yang mendukung agenda perjalanan manusia.

Mobilitas migrasi manusia semakin bertambah. Pergerakan manusia terjadi di sekeliling kita dan kita juga menjadi bagian dari gerak itu. Lagi-lagi, sesungguhnya apa agenda paling primer dari mobilitas ini semua? Bagi mereka yang tidak memiliki tujuan hidup mungkin saja tidak penting bertanya ke mana tubuh ini mau dibawa.

Tidak penting kaki akan berhenti di mana karena tidak memiliki tujuan. Bisa jadi yang primer adalah avoiding the pain, menghindari apa pun yang menyakitkan, lalu looking for the pleasure, mengejar apa pun yang dirasakan menyenangkan. Dalam konteks ini semua, hidup itu pun sebuah ziarah. Sebuah perjalanan. Kita tengah menelusuri lorong waktu yang kadang terasa pengap dan kadang menyegarkan.

Kadang terang dan lain kali remang-remang atau gelap. Faina tadzhabun? Ke mana engkau hendak pergi, tanya Allah dalam Alquran. Dalam perjalanan ini jika ditanyakan pada akal, ke mana ujungnya, tak lain adalah kematian.

Tapi kesadaran moral dan agama menyatakan bahwa di sana mesti ada jalan dan kehidupan lain mengingat banyak sekali utang-piutang moral seseorang yang belum lunas terbayar. Dan sungguh melukai rasa keadilan jika kematian yang menanti di pengujung jalan ini mengakhiri semua cerita dan drama kehidupan seseorang.

Penulis adalah Guru Besar Universitas Islam Negeri

Syarif Hidayatullah Jakarta

Artikel dimuat dalam Kolom Opini, Koran SINDO, Jumat 26 Juni 2015

Share This