It’s Easier to Build House than Home

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone
LEBIH mudah membangun rumah daripada rumah tangga. Tulisan ini terinspirasi acara gosip seputar kehidupan rumah tangga selebritas yang sering ribut dan sebagian berujung pada perceraian.

Mereka saling gugat, salah-menyalahkan, padahal dari segi materi sudah berlimpah. Rumah dan kendaraan mewah sudah mereka miliki, tetapi rupanya kehidupan keluarganya tidak tenteram, selalu ribut, yang berujung pada sidang perceraian di kantor urusan agama (KUA).

Siapa pun orangnya, perceraian adalah peristiwa yang pahit dan menyakitkan.Terlebih bagi pasangan yang telah memiliki anak, perceraian tidak selalu merupakan jalan keluar terbaik.Selalu saja ada pihak-pihak yang jadi korban dan menggoreskan luka seumur hidup.

Ada di antara anakanak yang tumbuh dengan pandangan pesimistis tentang keluarga karena menyimpan kenangan pahit setelah melihat dan merasakan akibat perceraian kedua orangtuanya. Memiliki dan membangun rumah jauh lebih gampang daripada membangun rumah tangga.

Terlebih untuk masyarakat yang tinggal di daerah tropis seperti Indonesia, pada dasarnya bangunan pokoknya sangat sederhana, tidak memerlukan tembok dan alat pemanas untuk menahan serangan musim dingin atau salju.Lihat saja bangunan rumah liar di berbagai kolong jembatan,pinggir-pinggir jalan,dan bantaran sungai,begitu sederhana bangunannya dan sudah cukup untuk berteduh dari sengatan matahari dan guyuran hujan.

Namun bagi mereka yang kaya raya,yang lebih penting bukannya memenuhi kebutuhan primer sebuah rumah, melainkan sudah sampai pada kebutuhan tertier,terutama menyangkut estetika dan kesan ”wah”-nya. Namun kalau disurvei lebih lanjut, benarkah mereka yang tinggal di rumah mewah kehidupan rumah tangganya lebih tenteram dan sehat lahir-batin ketimbang mereka yang tinggal di rumah sangat murah dan sederhana?

Saya merasa senang menyaksikan pengakuan beberapa selebritas yang pandai mensyukuri kesuksesan kariernya dan tetap peduli pada orang-orang miskin serta teman lamanya yang secara ekonomi kurang berhasil. Mereka setia membayar pajak, zakat, dan bahkan ada yang memiliki anakanak asuh untuk dibiayai pendidikannya.

Namun ada juga yang kemudian lupa diri, menutupi dan mengingkari masa lalunya serta melupakan orang-orang yang ikut berjasa mengantarkan kesuksesannya. Termasuk istri atau suaminya yang ikut berjasa mengantarkan dia ke puncak karier, tapi akhirnya berpisah.

Rumah Tangga Pangkal Kebahagiaan

Beberapa survei menyatakan, kehidupan rumah tangga yang solid, kokoh adalah modal utama untuk meraih kesuksesan dalam masyarakat dan menjadi sumber dan pilar kebahagiaan. Penjelasannya sangat mudah karena kita semua pasti memiliki pengalaman dan pengamatan betapa rumah tangga merupakan fondasi utama yang di atasnya akan dibangun berbagai karier dalam kehidupan seseorang.

Jika fondasi rapuh,bangunan di atasnya akan goyang dan mudah roboh. Coba amati. Hubungan dan interaksi yang paling terbuka dan sulit berpura-pura adalah dalam ranah rumah tangga.Keaslian sifat dan perilaku seseorang akan muncul dalam interaksi di lingkungan rumah.

Di luar rumah seseorang banyak berpurapura, memakai topeng, jaga penampilan, dan berbagai macam ucapan dan tindakan yang hanya sesaat ditampilkan untuk menarik simpati orang. Namun dalam kehidupan rumah tangga,sejak mau tidur, saat tidur, bangun tidur, dan seluruh waktunya seseorang akan tampil apa adanya. Wajah dan watak aslinya akan kelihatan.

Oleh karena itu, membangun rumah tangga sungguh tidak semudah membangun rumah. Bayangkan, ketika sepasang suami-istri usai melaksanakan akad nikah,sejak itu bertemulah dua orang yang datang dengan muatan memori, cita-cita, pengalaman hidup, serta pengasuhan berbeda lalu sepakat untuk menjadi satu selamanya.

Satu rumah, satu kamar, dan satu tempat tidur, satu meja makan, dan sekian aktivitas yang selalu berduaan dan menuntut kesetiaan.Padahal masing-masing memiliki memori, mimpi-mimpi,dan sifatsifat yang sangat mungkin berbenturan dan menimbulkan ledakan kalau beradu.

Oleh karena itu,tanpa kesediaan untuk saling belajar, saling memaafkan, saling mengisi, saling menahan diri,dan saling mencinta,bangunan rumah tangga sesungguhnya amat rentan sehingga mudah roboh dan pecah. Menjaga persahabatan antarteman saja kadang muncul benturan dan berakhir dengan perkelahian.

Terlebih menjalin rumah tangga yang dirancang untuk selamanya. Karena itu, dalam ajaran agama, rumah tangga tidak cukup dilandasi cinta dan saling pengertian, tapi mesti ada landasan dan ikatan iman.Bahwa berumah tangga itu ibadah, rumah tangga itu anugerah yang mesti disyukuri dan amanah yang mesti dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan.

Ikatan cinta kasih dan iman tidak saja berlaku selama di dunia, melainkan juga akan abadi sampai di akhirat.Keyakinan inilah yang kemudian menimbulkan perdebatan kalau ada orang yang menikah berbeda keyakinan agamanya. Sebuah rumah tangga yang baik adalah yang darinya lahir generasi unggul, yang akan menjunjung tinggi harkat dan martabat orang tua dan memajukan bangsa.

Sebaliknya,meski sebuah keluarga tergolong kaya raya, jika malah melahirkan generasi benalu yang merusak bangunan sosial dan bangsa, keluarga itu tergolong gagal. Kita prihatin, banyak orangtua yang sukses mencapai karier pendidikan, politik, dan ekonomi yang tinggi,tapi gagal melahirkan generasi penerus yang sama atau syukur-syukur lebih hebat dari orangtuanya.

Yang lebih memprihatinkan lagi, orangtuanya dikenal sebagai pembangun bangsa, anak-anaknya dikenal sebagai generasi perusak dan penghancur bangsa. Orangtua yang dulunya susah hidupnya, kemudian berhasil meraih kesuksesan, memiliki dua kemungkinan yang keduanya sangat berpengaruh pada kehidupan keluarganya.

Pertama, dia akan sangat memanjakan anak-anaknya, jangan sampai derita yang pernah dialami orangtua akan menimpa anak-anaknya. Sikap demikian ada benarnya, tetapi jangan-jangan lebih banyak negatifnya karena akan membuat anak-anaknya bermental lembek. Orangtua bermaksud memberi madu, tetapi sesungguhnya yang dia berikan adalah racun.

Kemungkinan kedua, orangtuaakanmendidikanakanaknya dengan menanamkan bahwa jalan kesuksesan itu terjal. Anak-anaknya mesti melaluinya agar kuat karena sukses itu bukan hadiah, melainkan mesti dijemput dan diraih sendiri melalui perjalanan panjang.Rumah tangga yang sukses biasanya menempuh jalan kedua.

Janganlah menjadikan anakanak kita bagaikan bonsai yang mestinya tumbuh besar dan mekar, lalu menjadi kerdil karena salah asuh dan salah didik yang dilakukan orangtua dan guru-guru di sekolah. Sekali lagi, sungguh memerlukan kerja keras,cerdas, dan ikhlas untuk membangun rumah tangga.

Terlebih rumah tangga dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Indonesia sudah lama meraih status merdeka. Yang mesti diperjuangkan terus adalah kondisi sejahtera, adil, makmur, dan beradab.(*)

 
Tulisan ini pernah dimuat di Seputar Indonesia, 13 Februari 2009

It’s Easier to Build House than Home

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone
LEBIH mudah membangun rumah daripada rumah tangga. Tulisan ini terinspirasi acara gosip seputar kehidupan rumah tangga selebritas yang sering ribut dan sebagian berujung pada perceraian.

Mereka saling gugat, salah-menyalahkan, padahal dari segi materi sudah berlimpah. Rumah dan kendaraan mewah sudah mereka miliki, tetapi rupanya kehidupan keluarganya tidak tenteram, selalu ribut, yang berujung pada sidang perceraian di kantor urusan agama (KUA).

Siapa pun orangnya, perceraian adalah peristiwa yang pahit dan menyakitkan.Terlebih bagi pasangan yang telah memiliki anak, perceraian tidak selalu merupakan jalan keluar terbaik.Selalu saja ada pihak-pihak yang jadi korban dan menggoreskan luka seumur hidup.

Ada di antara anakanak yang tumbuh dengan pandangan pesimistis tentang keluarga karena menyimpan kenangan pahit setelah melihat dan merasakan akibat perceraian kedua orangtuanya. Memiliki dan membangun rumah jauh lebih gampang daripada membangun rumah tangga.

Terlebih untuk masyarakat yang tinggal di daerah tropis seperti Indonesia, pada dasarnya bangunan pokoknya sangat sederhana, tidak memerlukan tembok dan alat pemanas untuk menahan serangan musim dingin atau salju.Lihat saja bangunan rumah liar di berbagai kolong jembatan,pinggir-pinggir jalan,dan bantaran sungai,begitu sederhana bangunannya dan sudah cukup untuk berteduh dari sengatan matahari dan guyuran hujan.

Namun bagi mereka yang kaya raya,yang lebih penting bukannya memenuhi kebutuhan primer sebuah rumah, melainkan sudah sampai pada kebutuhan tertier,terutama menyangkut estetika dan kesan ”wah”-nya. Namun kalau disurvei lebih lanjut, benarkah mereka yang tinggal di rumah mewah kehidupan rumah tangganya lebih tenteram dan sehat lahir-batin ketimbang mereka yang tinggal di rumah sangat murah dan sederhana?

Saya merasa senang menyaksikan pengakuan beberapa selebritas yang pandai mensyukuri kesuksesan kariernya dan tetap peduli pada orang-orang miskin serta teman lamanya yang secara ekonomi kurang berhasil. Mereka setia membayar pajak, zakat, dan bahkan ada yang memiliki anakanak asuh untuk dibiayai pendidikannya.

Namun ada juga yang kemudian lupa diri, menutupi dan mengingkari masa lalunya serta melupakan orang-orang yang ikut berjasa mengantarkan kesuksesannya. Termasuk istri atau suaminya yang ikut berjasa mengantarkan dia ke puncak karier, tapi akhirnya berpisah.

Rumah Tangga Pangkal Kebahagiaan

Beberapa survei menyatakan, kehidupan rumah tangga yang solid, kokoh adalah modal utama untuk meraih kesuksesan dalam masyarakat dan menjadi sumber dan pilar kebahagiaan. Penjelasannya sangat mudah karena kita semua pasti memiliki pengalaman dan pengamatan betapa rumah tangga merupakan fondasi utama yang di atasnya akan dibangun berbagai karier dalam kehidupan seseorang.

Jika fondasi rapuh,bangunan di atasnya akan goyang dan mudah roboh. Coba amati. Hubungan dan interaksi yang paling terbuka dan sulit berpura-pura adalah dalam ranah rumah tangga.Keaslian sifat dan perilaku seseorang akan muncul dalam interaksi di lingkungan rumah.

Di luar rumah seseorang banyak berpurapura, memakai topeng, jaga penampilan, dan berbagai macam ucapan dan tindakan yang hanya sesaat ditampilkan untuk menarik simpati orang. Namun dalam kehidupan rumah tangga,sejak mau tidur, saat tidur, bangun tidur, dan seluruh waktunya seseorang akan tampil apa adanya. Wajah dan watak aslinya akan kelihatan.

Oleh karena itu, membangun rumah tangga sungguh tidak semudah membangun rumah. Bayangkan, ketika sepasang suami-istri usai melaksanakan akad nikah,sejak itu bertemulah dua orang yang datang dengan muatan memori, cita-cita, pengalaman hidup, serta pengasuhan berbeda lalu sepakat untuk menjadi satu selamanya.

Satu rumah, satu kamar, dan satu tempat tidur, satu meja makan, dan sekian aktivitas yang selalu berduaan dan menuntut kesetiaan.Padahal masing-masing memiliki memori, mimpi-mimpi,dan sifatsifat yang sangat mungkin berbenturan dan menimbulkan ledakan kalau beradu.

Oleh karena itu,tanpa kesediaan untuk saling belajar, saling memaafkan, saling mengisi, saling menahan diri,dan saling mencinta,bangunan rumah tangga sesungguhnya amat rentan sehingga mudah roboh dan pecah. Menjaga persahabatan antarteman saja kadang muncul benturan dan berakhir dengan perkelahian.

Terlebih menjalin rumah tangga yang dirancang untuk selamanya. Karena itu, dalam ajaran agama, rumah tangga tidak cukup dilandasi cinta dan saling pengertian, tapi mesti ada landasan dan ikatan iman.Bahwa berumah tangga itu ibadah, rumah tangga itu anugerah yang mesti disyukuri dan amanah yang mesti dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan.

Ikatan cinta kasih dan iman tidak saja berlaku selama di dunia, melainkan juga akan abadi sampai di akhirat.Keyakinan inilah yang kemudian menimbulkan perdebatan kalau ada orang yang menikah berbeda keyakinan agamanya. Sebuah rumah tangga yang baik adalah yang darinya lahir generasi unggul, yang akan menjunjung tinggi harkat dan martabat orang tua dan memajukan bangsa.

Sebaliknya,meski sebuah keluarga tergolong kaya raya, jika malah melahirkan generasi benalu yang merusak bangunan sosial dan bangsa, keluarga itu tergolong gagal. Kita prihatin, banyak orangtua yang sukses mencapai karier pendidikan, politik, dan ekonomi yang tinggi,tapi gagal melahirkan generasi penerus yang sama atau syukur-syukur lebih hebat dari orangtuanya.

Yang lebih memprihatinkan lagi, orangtuanya dikenal sebagai pembangun bangsa, anak-anaknya dikenal sebagai generasi perusak dan penghancur bangsa. Orangtua yang dulunya susah hidupnya, kemudian berhasil meraih kesuksesan, memiliki dua kemungkinan yang keduanya sangat berpengaruh pada kehidupan keluarganya.

Pertama, dia akan sangat memanjakan anak-anaknya, jangan sampai derita yang pernah dialami orangtua akan menimpa anak-anaknya. Sikap demikian ada benarnya, tetapi jangan-jangan lebih banyak negatifnya karena akan membuat anak-anaknya bermental lembek. Orangtua bermaksud memberi madu, tetapi sesungguhnya yang dia berikan adalah racun.

Kemungkinan kedua, orangtuaakanmendidikanakanaknya dengan menanamkan bahwa jalan kesuksesan itu terjal. Anak-anaknya mesti melaluinya agar kuat karena sukses itu bukan hadiah, melainkan mesti dijemput dan diraih sendiri melalui perjalanan panjang.Rumah tangga yang sukses biasanya menempuh jalan kedua.

Janganlah menjadikan anakanak kita bagaikan bonsai yang mestinya tumbuh besar dan mekar, lalu menjadi kerdil karena salah asuh dan salah didik yang dilakukan orangtua dan guru-guru di sekolah. Sekali lagi, sungguh memerlukan kerja keras,cerdas, dan ikhlas untuk membangun rumah tangga.

Terlebih rumah tangga dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Indonesia sudah lama meraih status merdeka. Yang mesti diperjuangkan terus adalah kondisi sejahtera, adil, makmur, dan beradab.(*)

 
Tulisan ini pernah dimuat di Seputar Indonesia, 13 Februari 2009