Ithaf al-dzaki, Bukti Ulama Nusantara Terlibat Wacana Intelektual pada Abad ke-17

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Aula Student Center, BERITA UIN Online–Ulama Nusantara pada abad ke-17 telah aktif terlibat dalam wacana intelektaul dengan ulama-ulama Dunia. Hal tersebut dapat dilihat pada diskusi intensif antara Abdurrauf ibn ‘Ali al-Jawi al-Fansuri (w. 1693) dengan Syekh Ibr?h?m al-K?r?n? (w.1690), sufi terkemuka pada abad ke-17.

“Ithaf al-dhaki menjadi bukti kuat telah adanya keterlibatan ulama Nusantara dalam wacana intelektual di dunia Islam global sejak abad ke-17, sehingga wilayah ini patut dianggap sebagai bagian penting tak terpisahkan dari dunia Islam secara keseluruhan.,” ujar Dr Oman Fathurrahman pada peluncuran bukunya berjudul “Ithaf al-dhaki: Tafsir Wahdatul Wujud Muslim Nusantara” di Aula Student Center UIN Jakarta, Selasa (18/9).

Selain itu, It??f al-dhak? ini memiliki arti penting bagi masyarakat Indonesia karena merupakan jawaban Ibr?h?m al-K?r?n? atas pertanyaan dari sejumlah muridnya asal Nusantara, khususnya Abdurrauf ibn ‘Ali al-Jawi al-Fansuri (w. 1693) di Aceh, tentang ajaran kontroversial wahdatul wujud Ibn ‘Arab?.

It??f al-dhak? bisa disejajarkan dengan karya dari tokoh-tokoh besar sufi lainnya seperti ?adr al-D?n Q?naw?, Sa??d al-D?n al-Fargh?n?, dan ‘Abd al-Ra?m?n al-J?m??, yang selama ini dikenal sebagai penafsir ajaran falsafi Ibn ‘Arab?.

Menurutnya, buku ini  merupakan hasil telaah atas It??f al-dhak?, karya sufi terkemuka Ibr?h?m al-K?r?n?. Penulis mendasarkan kajian pada 17 dari 31 keseluruhan salinan manuskripnya di seluruh dunia.

Buku ini, aku Ketua Masyarakat Pernaskahan Nusantara itu, belum pernah diterbitkan di tempat lain, kecuali di Indonesia. “Ini untuk pertama kalinya diterbitkan di Indonesia,” imbuhnya.

Pada kesempatan yang sama, Direktur Sekolah Pascasarjana (SPs) Prof Dr Azyumardi Azra MA menyatakan, karya ini membuktikan, bahwa antara tasawwuf dengan fikih dapat dipadukan.

“Abad ke-17 ada kecenderungan penyatuan antara taswwuf dan syariah. Ini semacam neoaktivisme sufi,”katanya.

Ditegaskannya, adalah asumsi yang salah jika tasawuf atau sufi dianggap sebagai salah satu faktor utama kemunduran Dunia Islam. “Itu pendapat yang salah. Sebab, banyak tokoh sufi yang justru aktif di dunia pemerintahan dan sosial politik,”terang Guru Besar Sejarah Fakultas Adab dan Humaniora itu.

Misalnya, katanya, Abdul Rauf al-Singkili. Dia itu sufi besar dan menjadi penasehat istana. Demikian pula Sykeh Yusul al-Makassari. “Dia sufi dan terlibat dalam perlawanan terhadap penjajah,”tandasnya.

Acara tersebut terselanggara atas kerjasama Noura Books (Mizan Groups), dengan Pusat Pengakajian Islam dan Masyarakat (PPIM), Rumah Kitab, ISIF, dan Fakultas Adab dan Humaniora. (d antariksa/Saifudin)