Isu Lingkungan Tak Lagi Marjinal

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Reporter: Putri Kartika Utami

Student Center, UIN Online – Aktivis lingkungan hidup dari Insitut Hijau Indonesia  Slamet Daroyni  mengatakan, isu-isu lingkungan seperti banjir, longsor, kebakaran hutan, dan bencana alam lainnya, kini tidak lagi menjadi isu marjinal untuk diperbincangkan. Berbagai teguran alam itu, sudah sewajarnya menyadarkan tiap individu untuk menjaga kelestarian bumi. Karena itu, jangan sekadar menjadi penikmat alam, jadilah pecinta alam.

Pernyataan tersebut disampaikan Slamet dalam seminar lingkungan hidup yang diselenggarakan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Kelompok Pecinta Alam (KPA) Arkadia UIN Jakarta di Aula Student Center, Kamis (10/6).

Imbauan ini dilakukan akibat kekhawatiran Slamet terhadap isu kerusakan lingkungan, khususnya yang terjadi di Indonesia. “Banyak bencana alam yang belakangan terjadi akibat ulah tangan manusia. Bahkan saya berani berkata sekitar 80 persen musibah yang terjadi akibat ketikpedulian dan keserakahan manusia dalam mengeksploitasi alam,” kata Slamet.

Kendati pemerintah dan masyarakat telah berupaya memulihkan lingkungan, namun menurut Slamet hal itu belum sebanding dengan kerusakan yang ditimbulkan. Meski demikian, aksi individu untuk menyelematkan lingkungan tak bisa dipandang remah.

Seminar yang diselenggarakan untuk memperingati hari lingkungan hidup yang jatuh setiap 5 Juni itu, dihadiri Pembantu Rektor Bidang Administrasi Umum Prof Dr Amsal Bakhtiar dan perwakilan dari Kementrian Lingkungan Hidup Dida Gardera M.Sc. Di akhir acara, panitia membagikan bibit pohon kepada peserta seminar sebagai cendramata. []

Isu Lingkungan Tak Lagi Marjinal

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Reporter: Putri Kartika Utami

Student Center, UIN Online – Aktivis lingkungan hidup dari Insitut Hijau Indonesia  Slamet Daroyni  mengatakan, isu-isu lingkungan seperti banjir, longsor, kebakaran hutan, dan bencana alam lainnya, kini tidak lagi menjadi isu marjinal untuk diperbincangkan. Berbagai teguran alam itu, sudah sewajarnya menyadarkan tiap individu untuk menjaga kelestarian bumi. Karena itu, jangan sekadar menjadi penikmat alam, jadilah pecinta alam.

Pernyataan tersebut disampaikan Slamet dalam seminar lingkungan hidup yang diselenggarakan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Kelompok Pecinta Alam (KPA) Arkadia UIN Jakarta di Aula Student Center, Kamis (10/6).

Imbauan ini dilakukan akibat kekhawatiran Slamet terhadap isu kerusakan lingkungan, khususnya yang terjadi di Indonesia. “Banyak bencana alam yang belakangan terjadi akibat ulah tangan manusia. Bahkan saya berani berkata sekitar 80 persen musibah yang terjadi akibat ketikpedulian dan keserakahan manusia dalam mengeksploitasi alam,” kata Slamet.

Kendati pemerintah dan masyarakat telah berupaya memulihkan lingkungan, namun menurut Slamet hal itu belum sebanding dengan kerusakan yang ditimbulkan. Meski demikian, aksi individu untuk menyelematkan lingkungan tak bisa dipandang remah.

Seminar yang diselenggarakan untuk memperingati hari lingkungan hidup yang jatuh setiap 5 Juni itu, dihadiri Pembantu Rektor Bidang Administrasi Umum Prof Dr Amsal Bakhtiar dan perwakilan dari Kementrian Lingkungan Hidup Dida Gardera M.Sc. Di akhir acara, panitia membagikan bibit pohon kepada peserta seminar sebagai cendramata. []