ISRA Mikraj Nabi Mu­hammad SAW dari Masjidilharam ke Masjidilaqsha dan dari Masjidilaqsha menuju Sid­ratil Muntaha membawa pe­san utama berupa kewajiban sa­lat lima waktu dalam sehari se­ma­lam. Dari segi cara pe­n­e­tap­an syariat salat, yaitu dengan meng­audiensikan hamba-Nya, Mu­hammad SAW di Sidratil Mun­taha, salat merupakan iba­dah fisik, mental spiritual, dan mo­ral yang luar biasa signifikan ba­gi kehidupan muslim.

Sedemikian pentingnya sa­lat sehingga Nabi SAW me­n­e­gas­kan bahwa “Sesungguhnya amal hamba yang pertama kali akan dihisab pada hari kiamat ada­l­ah salatnya. Apabila sa­lat­nya baik, dia akan mendapatkan ke­ber­un­tung­an dan keselamatan. Apa­bila sa­latnya rusak, dia akan me­nyesal dan merugi.

Jika ada yang kurang da­ri salat wajibnya, Allah SWT me­ngatakan: “Li­hat­lah apakah pa­d­a hamba tersebut me­miliki amal­an salat sunah? Ma­ka salat sunah ter­sebut akan me­nyempurnakan sa­lat wajibnya yang kurang. Begitu ju­ga amalan lai­n­nya seperti itu.” (HR Abu Daud, Ahmad, al-Ha­kim, dan al-Baihaqi).

Apakah salat sudah menjadi stan­dar baik-buruknya kinerja hi­dup muslim? Bagaimana men­ja­dikan salat sebagai iba­dah bermakna: fungsional dan trans­formasional, dalam arti mem­buahkan kepribadian mu­lia, sehingga berfungsi mem­ben­tengi dan menjauhkan diri dari perbuatan keji dan mung­kar (QS al-’Ankabut [29]:45).

Asum­sinya, jika umat Islam suk­­ses dalam melakukan salat he­bat: salat khusyuk, ber­mak­na, fungsional, dan trans­for­ma­si­o­nal, niscaya perilaku ke­mak­sia­t­an, kemungkaran, kej­a­hat­an, korupsi, dan sebagainya da­pat dieliminasi dan dijauhkan da­ri kehidupan muslim?

Analisis Isi

Salat hebat itu bukan se­ka­dar ritual formal tanpa makna dan pesan substansial. Salat he­bat menghendaki pelakunya me­mahami, menyelami, meng­hayati, dan mengaktualisasi isi dan substansi salat. Gerakan, ba­ca­an, dan amalan dalam salat ti­dak sebatas dijalankan sesuai sya­rat dan rukunnya, tetapi ju­ga harus diterjemahkan dan di­trans­formasikan da­lam ke­hi­dup­an.

Sa­lat hebat itu me­nya­lat­kan ha­ti, pikiran, ge­rak­an, dan sistem ke­hi­dup­an. Rit­ua­li­tas salat di­integrasikan dengan ak­­tivitas kehidupan se­suai de­ngan pesan mo­ral salat itu sendiri. Salat hebat di­sya­rat­kan ber­wu­du, pe­nyu­ci­an diri (hati dan pi­kir­an), pakaian, dan tem­pat sa­lat, agar dapat meng­­gapai pen­dekatan di­ri kepada Allah Yang Ma­hasuci.

Jika di­ana­li­sis, sa­lat wajib lima wak­tu itu ter­nya­ta ber­isi 109 kali tak­bir  (ter­ma­suk takbiratul ih­r­am), 17 ra­kaat, 5 kali membaca doa iftitah  (pem­bu­ka­an), 17 membaca su­rah al-Fatihah  dan surah atau ayat se­lain al-Fatihah, 17 rukuk be­rikut doa­nya, 17 i’tidal  (be­r­di­ri tegak dan diam sejenak se­te­lah rukuk, be­rikut doanya, 34 su­jud be­ri­kut doanya, 9 kali ta­hi­yat  dan ta­sya­hud, dan 10 kali salam.

Apabila muslim melak­sa­na­kan salat sunah rawatib, dhuha, ta­h­ajjud, tahiyatul masjid, dan lain­nya, maka dapat dipastikan bah­wa frekuensi gerakan dan ba­caan tersebut akan semakin in­tens. Apa isi dan substansi yang dapat dimaknai dari g­e­r­ak­an dan bacaan salat? Analisis isi me­nunjukkan bahwa frekuensi ter­besar dari gerakan dan ba­ca­a­n salat adalah takbir.  Esensi tak­bir adalah deklarasi dan pe­ne­guhan hati bahwa Allah itu Ma­habesar.

Deklarasi ini m­e­ngan­dung makna bahwa ha­m­ba harus meng­agungkan-Nya, de­ngan m­e­rendahkan hati dan pi­kir­an­nya dalam beraudiensi de­ngan-Nya. Implikasinya, mu­s­ha­l­li  (pe­­la­ku salat) harus m­e­mi­liki akh­lak rendah hati, tidak som­­bong, ti­dak takabur, tidak aro­­gan, dan ti­dak otoriter atau me­­rasa pa­ling berkuasa.

Ge­ra­k­an dan ba­ca­an (doa) sujud me­nem­­­pati po­si­si kedua te­r­ba­nyak (34 kali). Hal ini me­nun­juk­kan ba­h­wa in­te­grasi takbir dan su­jud, sebagai ma­nifestasi pe­­ren­dah­an hati di ha­dapan ilahi, de­ngan mencium “ta­nah” ke­­hi­dup­an, agar benar-benar men­­ja­di hamba-Nya yang tu­n­duk dan patuh kepada-Nya.

S­u­jud da­lam salat itu mem­b­a­ngun lo­ya­litas dan keintiman spi­­ritual su­paya hamba tahu di­ri dan me­nunjukkan to­ta­li­tas ke­taa­t­an ke­p­ada-Nya. Lebih-le­bih da­­l­am s­a­lah sa­tu ba­caan (doa) if­ti­tah,  ham­ba di­la­tih mem­­bu­lat­kan te­kad bah­­wa sa­lat­ku, iba­dah­­ku, hi­dup dan ma­­tiku ha­nya ka­re­na meng­harap ri­da Allah, Tu­han semes­ta raya.

Be­be­ra­pa ri­set me­nun­juk­­kan bah­wa ane­ka ge­rak­an dan ba­­caan da­lam salat m­e­ru­pa­kan pe­me­nuh­an ke­butuhan jas­ma­ni dan rohani ham­ba. Gerakan ­tak­bir, ber­diri tegak lurus, ru­­kuk, i’tidal, su­jud, duduk ta­hi­yat,  dan salam dengan me­noleh ke kanan dan ke kiri meru­pa­kan re­pre­sen­ta­si “olahraga dan olah ji­wa” yang se­hat dan ber­mas­la­hat bagi ro­ta­si dan rutinitas ke­hi­dupan. Tan­pa salat, manusia bi­sa jadi ti­dak sehat jasmani dan r­o­ha­ni. Bahkan salat hebat itu se­ja­t­i­nya membuat hati dan pi­kir­an menjadi damai dan b­a­ha­gia la­hir dan batin.

Pesan Salat

Gerakan dan bacaan salat sa­­r­at dengan pesan moral. Da­lam sa­lat berjamaah terdapat pe­san kuat bahwa jamaah salat ha­rus ber­satu karena harus meng­­ingat Allah (dzikrullah) de­ngan meng­hadap pada kib­lat yang sa­ma, yaitu Kakbah (Bai­tullah). Sa­lat jamaah juga me­ngandung pe­san spiritual dan sosial be­ru­pa pentingnya ke­bersamaan, ke­taatan ke­pa­da imam salat, ke­su­cian hati dan pikiran, ke­di­si­p­lin­an, dan ke­seteraan. Siapa pun yang me­l­aksanakan salat ber­ja­maah sejatinya di hadapan Allah itu sama, tidak ada diskriminasi.

Selain merupakan tazkiyat an-nafs (penyucian diri), salat ju­ga sarat dengan pesan pend­i­dik­an mental spiritual dan mo­ral. Melalui salat, mushalli  di­edu­­ka­sikan untuk menjadi ham­­ba yang memiliki kecer­das­­an romantis dalam bentuk pen­­de­katan diri dengan Allah.

Ke­­cer­dasan romantis me­ru­pa­kan kun­ci kedekatan dan ko­mu­­ni­ka­si hamba dengan-Nya, se­suai de­ngan komitmen teo­lo­gis yang dinyatakan dalam su­rah al-Fatihah : “Hanya ke­pa­da Eng­ka­u­lah kami ber­iba­dah/me­nyem­bah dan hanya ke­pa­da Engkau pu­la­lah kami mo­hon pertolongan. Tun­jukilah ka­mi jalan yang lurus (be­nar).” (QS al-Fatihah [1]: 5-6).

Gerakan salat menunjukkan rit­me, irama, dan dinamika ke­hi­dupan yang sangat pro­por­sio­nal dan fenomenal, karena te­­r­buk­­ti semua gerakan itu me­nye­hat­kan dan membahagiakan. Ge­rakan rukuk, misalnya, da­pat memberikan peregangan sa­raf dan otot-otot pada lutut, ping­gul, punggung, dan leher, se­hingga memberikan efek r­e­lak­sasi.

Gerakan sujud me­m­buat kerja jantung rileks dan ri­ngan dalam memompakan da­rah ke semua jaringan dan aliran da­rah dalam tubuh. Oleh ka­re­na itu, Nabi SAW sangat me­ri­n­d­u­­kan gerakan sujud, dan mem­buat sujudnya lama, karena saat su­jud itulah Nabi SAW me­ra­sa­kan ketenteraman dan ke­da­mai­an hati di hadapan Tuhan. Sa­lat menjadi jembatan spi­ri­tual yang menghubungkan cin­ta hamba dengan Sang Khalik.

Bacaan dan doa dalam salat ju­ga menutrisi hati dan pikiran mu­s­halli dengan penguatan iman, peneguhan tauhid, pe­man­tapan disiplin waktu, pe­nguat­an ketaatan, totalitas peng­abdian, dan penyuburan harapan-harapan pascasalat. Se­mua doa dalam salat men­cer­min­kan optimisme hamba un­tuk memperoleh ampunan (magh­firah), kasih sayang, re­z­e­ki, keberkahan, dan kemuliaan hi­dup. Walhasil, salat hebat ideal­nya menjadi standar dan to­lok ukur kebaikan pribadi dan ke­luruhan akhlak hamba.

Di atas semua itu, ritualitas tak­bir,  rukuk, i’tidal, sujud, dan d­u­duk tahiyat  dan tasyahud  itu ha­rus diakhiri dengan salam yang mengandung pesan pe­r­da­mai­an. Salam di akhir salat yang di­s­imbolisasi dengan menoleh ke kanan dan ke kiri me­nun­juk­kan bahwa kesalehan personal da­ri salat harus ditindaklanjuti de­ngan kesalehan sosial dan mo­ral. Mushalli  yang hebat dan suk­ses pasti menjadi pelopor ke­­selamatan, kedamaian, dan ke­rukunan hidup ber­ma­sya­ra­kat, berbangsa, dan bernegara.

Pemimpin dan pejabat yang suk­ses melaksanakan salat he­bat idealnya tidak akan pernah ko­r­upsi, pembohongan publik de­ngan pencitraan palsu, pe­nya­lahgunaan kekuasaan, dan peng­khianatan terhadap ke­pen­tingan nasionalisme dan rak­y­at.

Karena itu, laksanakan dan disiplinkan diri dengan sa­lat hebat secara konsisten, agar ke­hidupan berubah menjadi le­bih baik dan bermartabat. Salat he­bat itu fungsional dan trans­for­masional bagi mushalli  da­lam mewujudkan pribadi ber­akh­lak mulia, melayani, meng­ins­pirasi, dan memajukan per­adab­an bangsa.

Muhbib A Wahab, Kepala Program Magister Pendidikan Bahasa Arab Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Jakarta. (Sumber: Koran Sindo, Jum’at, 13 April 2018 – 07:29 WIB) (mf)