Islam Jadi Ruh Seni Kebudayaan Tanah Air

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Auditorium Utama, BERITA UIN Online— Islam menjadi ruh pada segenap aktifitas seni kebudayaan di tanah air. Seni pewayangan, karya-karya sastra, dan film menjadi sarana penyampaian pesan sekaligus ekspresi nilai-nilai keislaman di kalangan masyarakat nusantara.

Demikian simpulan Seminar Nasional Wajah Seni Budaya Islam Indonesia di Auditorium Utama, Senin (26/10). Fachry Ali (Tokoh Nasional), Jamal D. Rahman (Sastrawan dan Pemimpin Redaksi Majalah Sastra Horison), dan Hanung Bramantyo (Sutradara Film) menjadi narasumber seminar yang merupakan rangkaian Festival Budaya dan Islam Indonesia (Fesbin), Fakultas Adab dan Humaniora (FAH) UIN Jakarta.

Dalam paparannya, Fachry mengungkapkan, salah satu produk seni kebudayaan tanah air yang menjadi medium penyampaian pesan dan ekspresi nilai keislaman tanah air adalah wayang. Wayang menjadi medium yang tepat karena selain hiburan rakyat, wayang merupakan hiburan kalangan istana.

“Dengan jangkauan demikian, wayang menjadi medium efektif dalam penyampaian pesan sekaligus mengekspresikan nilia-nilai keislaman,” katanya.

Selain wayang, Islam juga menjadi ruh dalam berbagai karya sastra yang dihasilkan para sastrawan tanah air. Salah satunya, novel Tenggelamnya Kapal Van Derwick (Hamka) yang belakangan diangkat menjadi film.

Sepintas, kata Jamal, novel ini mengangkat romansa percintaan anak muda. “Namun pada kenyataannya, novel ini berbicara tentang negosiasi Islam dan hukum adat,” ungkapnya.

Ditambahkan Jamal, ketika nilai-nilai keislaman masuk dalam karya sastra, maka karya-karya sastra pun menjadi sangat indah. Bahkan perpaduannya juga merefleksikan harmonitas Islam dengan kebudayaan setempat.

Dalam perkembangan kontemporer, Hanung mengungkapkan, produk seni kebudayaan yang menjadikan Islam sebagai ruh di dalamnya adalah film. Menurutnya, film bukan sekedar produk hiburan, melainkan juga sarana untuk menanamkan nilai-nilai bagi umat.

“Hakikat manusia adalah haus dengan cerita dan informasi yang dieksplorisasikan dalam sebuah karya. Film adalah sebuah medium untuk ditumpangi sebuah cerita dan informasi. Akan banyak pesan didalamnya ketika kita terus menggalinya,” ungkap Sutradara sekaligus Produser film Sang Pencerah ini. (Laporan Syarifaeni Fahdiah)