Islam Harus Gantikan Peradaban Barat

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Auditorium, UIN Online – Mantan Menteri Pemberdayaan Perempuan era Presiden Soeharto Prof Dr Hj Tutty Alawiyah AS menilai, peradaban Barat pascamodernisme kini sedang berada di persimpangan jalan. Peradaban Barat yang cenderung materialistik, sekularistik, dan ateistik sehingga hanya absah secara metodologi tetapi miskin secara moral dan spiritual. Karena itu peradaban tersebut tak lagi sesuai sehingga harus digantikan dengan peradaban Islam yang lebih kosmopolit.

Tutty Alawiyah menyampaikan hal itu di depan para sarjana baru yang diwisuda pada Wisuda Sarjana ke-81 UIN Jakarta di Auditorium Prof Dr Harun Nasution, Sabtu (16/10). Pidato Rektor Universitas Islam As-Syafi’iyyah Jakarta tersebut disampaikan untuk mewakili para alumni dan peserta wisuda.

Menurut Tutty, yang mengutip pendapat pakar Islam Yusuf al-Qardhawi, peradaban Barat yang sekarang mendominasi dunia sebenarnya lahir dan berakar dari pemikiran Yunani dan Romawi. Ciri-ciri dalam peradaban tersebut di antaranya memiliki kekacauan pandangan mengenai ketuhanan (seperti cenderung ateistik), berbasis materialisme dengan mengingkari unsur-unsur rohani, cenderung sekularistik dengan memisahkan antara agama dan negara, serta diliputi kesombongan dan keangkuhan yang memunculkan konsep superioritas etnis atau ras yang satu atas yang lain.

“Pemikiran Barat itu tidak memiliki basis kedamaian (al-salam), ketenangan (al-thuma’ninah), dan cinta kasih (al-hubb). Bahkan mendorong benturan antarmanusia dengan jiwanya, antarmanusia dengan tabi’atnya, antarmanusia dengan manusia, serta antarmanusia dengan tuhannya,” paparnya.

Dengan watak dan pemikiran Barat seperti itu, Tutty mengharapkan ke depan umat Islam dapat mengambil peran untuk menggantikan peradaban lama, dan menggantinya dengan peradaban baru, yakni peradaban Islam. Sebab, berbeda dengan peradaban Barat, peradaban Islam memiliki ciri-ciri antara lain adanya konsep keseimbangan (al-tawazun) serta saling menyempurnakan (al-takamul).

“Keseimbangan dimaksud misalnya ketuhanan dan kemanusiaan, wahyu dan akal, rohani dan materi, serta ukhrawi dan duniawi. Sementara saling menyempurnakan di antaranya ilmu dan iman yang keduanya harus saling mengisi atau melengkapi,” ujar Presiden International Moslem Women Union periode 2007-2010 ini.

Untuk membangun peradaban Islam, menurut Tutty, maka dakwah dan pendidikan Islam harus mampu merekayasa masa depan. Beberapa cara dapat dilakukan, misalnya menjadikan agama dan nilai-nilai agama sebagai dasar serta landasan kultur peradaban Islam. Kemudian mendirikan dan memperkuat lembaga-lembaga pendidikan Islam mulai tingkat TK hingga perguruan tinggi lslam.

Namun, yang tak kalah pentingnya,  ilmuwan dan akademisi perlu memiliki mental keilmuan yang terbuka serta etos kerja ilmiah tinggi seperti yang telah diperlihatkan generasi Islam klasik pada zamannya. “Inilah awal sinar kebangkitan peradaban Islam pada era baru pascamodernisme,” katanya. (ns)