Irjen Kemenag: Rendah, Profesionalitas Manusia Indonesia

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Auditorium Prof. Dr. Harun Nasution, BERITA UIN Online—Indeks Pembangunan Manusia Indonesia tergolong rendah. Ini artinya tingkat profesinalitas dan integritas Sumber Daya Manusia (SDM) Indonesia juga  rendah.

Demikian Inspektur Jenderal (Irjen) Inspektorat Jenderal Kementerian Agama (Kemenag) RI Dr. M. Yasin, MM dalam seminar sehari bertajuk “Menjadi Insan Profesional-Islami Bersama FEB” di Auditorium Prof. Dr. Harun Nasution, Selasa (4/6/2013).

Menurutnya, indeks SDM bangsa Indonesia dapat dilihat pada Indeks Pembangunan Manusia-nya. Selama dua tahun terakhir, posisi Indonesia masih berada di rangking buncit. “Tahun 2011 Indeks Manusia Indonesia berada pada posisi 127 dari 169 negara dan tahun berikutnya pada posisi 120 dari 164 negara,” ujarnya.

Untuk meningkatkan profesionalitas DSM Indonesia, kata  mantan komisioner Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) itu, maka perlu perbaikan pendidikan.

Pada kesempatan yang sama, Irjen Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Prof. Dr. Haryono Umar, MSc Ak, menyatakan, mahasiswa sebagai generasi penerus bangsa mesti memiliki integritas dan profesionalitas.

“Integritas dan profesionalitas harus dimiliki mahasiswa. Sikap tersebut tidak saja mencegah seseorang berbuat korupsi dan kejahatan lainnya, tapi juga meningkatkan produktifitas bangsa,” katanya.

Haryono, yang juga mantan komisioner KPK ini menambahkan,  profesionalitas dan integritas merupakan etika dan moral yang orang beragama. Karena itu nilai-nilai tersebut harus dijaga sebagai bagian dari sikap orang beragama.

Sementara Rektor Prof. Komaruddin Hidayat menyatakan, secara normatif, Islam mengajarakan umatnya bertindak sesuai dengan nilai-nilai Islami, seperti profesional dan berintegritas. “Tapi secara empiris, orang Indonesia belum tergolong Islami,” katanya.

Alasannya, papar dia,  justru sejumlah orang Baratlah yang mempraktikkan sikap profesional itu. Misalnya, soal kebersihan, antikorupsi, dan kedisiplinan, itu sangat dijunjung tinggi di negara-negara nonmuslim. “Sebuah survei internasional menyebutkan, negara terbersih dari korupsi dan bersih lingkungannya itu New Zealand,” tandasnya.

Acara yang digelar Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) ini dihadiri sejumlah dosen, mahasiswa, dan para tamu undangan.

Kegiatan tersebut dihelat untuk memperingati milad ke-11 FEB. Dirgahayu FEB. (D Antariksa/ Saifudin)