Iran Junjung Tinggi Martabat Perempuan

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Reporter: Abdullah Suntani

Ruang Teater FUF, BERITA UIN Online – Perempuan Iran kini mulai bangkit dan aktif di ruang publik. Hal itu terjadi setelah runtuhnya rezim monarki ke sistem demokrasi Republik Islam Iran. Bahkan sejak Ayatullah Imam Khomeini berkuasa menggantikan rezim korup Shah Reza Pahlevi, Iran sangat menjunjung tinggi harkat dan martabat perempuan dengan, misalnya, memberikan kesempatan sama dengan kaum pria bekerja di sektor-sektor publik termasuk pemerintahan.

Demikian dikemukakan dosen Imam Sadiq University Iran, Dr Sayyid Sakhai, dalam seminar bertema “Wanita Iran Masa Kini” yang diselenggarakan Fakutas Ushuludin (FU) bekerja sama dengan Iranian Corner di Ruang Teater FU, Rabu (2/9). Selain Sayyid Sakhai, pembicara lain adalah Dr Insiyah Khaz Ali dari Azzahra Iran University.

Jika menilik sejarah, lanjut Sayyid Sakhai, sebenarnya perempuan memiliki peranan penting dalam Revolusi Iran. Karena sebelumnya Iran saat di bawah kepemimpinan  Shah Mohammad Reza Pahlevi perempuan untuk mendapatkan kesempatan berkiprah di ruang public selalu terhalang. Potret marginalisasi peran perempuan ini melahirkan tindakan dari para kaum perempuan untuk membebaskan diri dari kebijakan-kebijakan yang bertentangan dengan ajaran Islam. Akhirnya, revolusi terjadi yang mengubah Iran dari monarki di bawah Shah Reza Pahlevi menjadi Republik Islam Iran yang dipimpin oleh Ayatullah Imam Khomeini.

“Shah menjalankan rezimnya secara brutal, korup, dan kebijakan-kebijakannya terkesan ambisius serta berupaya sekuat-kuatnya melakukan westernisasi. Sementara hal ini berbenturan dengan identitas Muslim Iran, sehingga pemberontakan terhadap rezimnya tidak dapat dielakkan,” ujarnya.

Setelah Shah berhasil diturunkan, kepemimpinan pun beralih ke tangan Ayatullah Imam Khomeini, pemimpin revolusi dan pendiri Republik Islam Iran. Revolusinya sering disebut juga sebagai revolusi besar ketiga dalam sejarah setelah Perancis dan Revoluasi Bolshevi. Pada masa Khomeini-lah perempuan kembali mendapatkan ruang bebas dan bergerak dalam berbagai bidang serta hak-hak perempuan lebih diperhatikan.

Sementara menurut Dr Insiyah Khaz Ali dari Azzahra Iran University, sebagai muslim yang percaya secara konsisten, Islam agama yang selalu mengakomodasi kebutuhan khusus perempuan. Dia mencontohkan istri Nabi Muhammad SAW, yakni Siti Khadijah, tidak ingin agama yang dianutnya melakukan diskriminasi terhadap perempuan. Perempuan juga bisa berperan sebagai penasihat dan orang kepercayaan sebagaimana Siti Khadijah dan Siti Aisyah.

“Jadi, jika hendak kembali ke kejayaan masa lalu, itu berarti perempuan punya alasan kuat untuk bisa berkiprah di ruang publik yang luas, karena revolusi Iran pun tak terlepas dari peran perempuan, dan mengembalikan harkat dan martabatnya,” tuturnya.

Seminar yang dimoderatori Dr Sri Mulyati MA ini dilanjutkan dengan pemutaran dan bedah film Iran berjudul M Like Mother. Tampil sebagai pembicara seniman dan pelukis tembikar dari Iran Insiyah Shah Husaini, pegiat seni kaligrafi Zahro Bahrowi, dan aktor senior yang juga sekaligus alumnus Fakultas Ushuluddin.

Film berdurasi sekitar satu setengah jam itu menceritakan tentang kehidupan perempuan yang harus menanggung seluruh beban hidup karena memiliki kelainan (abnormal) dan orang tuanya tidak menyukai atas kelahirannya. Meski serba kekurangan, perempuan itu kemudian bekerja demi mengurusi diri dan adik kesayanganya.

“Para sineas Indonesia dan Iran dapat beker jasama membangkitkan budaya Islam dan menjaga prinsip-prinsip yang telah dimiliki melalui produksi film agar ajaran Islam dan peradabanya tetap terjaga dan berkembang,” kata Alex Komang.