Ioanes Rakhmat: Sateriologi Salib Merendahkan Manusia

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Reporter: JamilahGedung FUF, UINJKT OnlinePenulis buku Sokrates dalam Tetralogi Plato Iones Rakmat berpendapat, sateriologi salib dalam keyakinan Kristen telah merendahkan sampai ke titik nol kemampuan manusia untuk meraih dan mengerjakan keselamatannya sendiri. Ioanes mengatakan hal ini saat bedah bukunya yang berjudul Membedah Soteriologi Salib: Sebuah Pergulatan Orang Dalam di ruang rapat Fakultas Usuluddin dan Filsafat, Selasa (2/6).“Sateriologi salib harus digugat, karena, sateriologi ini dibangun di atas sebuah asumsi etis antropoligis negatif bahwa manusia pada dirinya sendiri, secara moral, adalah makhluk yang pada kodratnya serba bobrok dan bejat, yang sama sekali tidak bisa berbuat baik, yang telah sepenuhnya kehilangan kemuliaan Allah. Kebobrokan dan kebejatan moralitas manusia ini pertama-tama adalah, kata gereja mengutip teks suci, akibat dari dosa Adam dan Hawa dulu di taman Eden yang terus menjalar ke seluruh manusia di seantero planet dan di segala zaman sampai dunia ini kiamat,” kata mantan pendeta ini menambahkan. Menurutnya kemampuan mengembangkan moralitas positif dalam diri manusia bukan dari intervensi ilahi apapun, melainkan dari gen manusia dan pendidikan yang mereka terima. “Gen yang baik, pendidikan moral yang benar dan kehidupan masyarakat yang sehat, akan menghasilkan manusia-manusia bermoral yang tangguh di dalam masyarakat. Bila aspek genetik yang baik dan aspek genetik yang altruis diberi tempat utama untuk berperan, berhadapan dengan aspek genetik yang buruk dan aspek genetik yang egois dan serakah, masa depan manusia akan lebih baik di tangan mereka sendiri,” katanya. []

Ioanes Rakhmat: Sateriologi Salib Merendahkan Manusia

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Reporter: JamilahGedung FUF, UINJKT OnlinePenulis buku Sokrates dalam Tetralogi Plato Iones Rakmat berpendapat, sateriologi salib dalam keyakinan Kristen telah merendahkan sampai ke titik nol kemampuan manusia untuk meraih dan mengerjakan keselamatannya sendiri. Ioanes mengatakan hal ini saat bedah bukunya yang berjudul Membedah Soteriologi Salib: Sebuah Pergulatan Orang Dalam di ruang rapat Fakultas Usuluddin dan Filsafat, Selasa (2/6).“Sateriologi salib harus digugat, karena, sateriologi ini dibangun di atas sebuah asumsi etis antropoligis negatif bahwa manusia pada dirinya sendiri, secara moral, adalah makhluk yang pada kodratnya serba bobrok dan bejat, yang sama sekali tidak bisa berbuat baik, yang telah sepenuhnya kehilangan kemuliaan Allah. Kebobrokan dan kebejatan moralitas manusia ini pertama-tama adalah, kata gereja mengutip teks suci, akibat dari dosa Adam dan Hawa dulu di taman Eden yang terus menjalar ke seluruh manusia di seantero planet dan di segala zaman sampai dunia ini kiamat,” kata mantan pendeta ini menambahkan. Menurutnya kemampuan mengembangkan moralitas positif dalam diri manusia bukan dari intervensi ilahi apapun, melainkan dari gen manusia dan pendidikan yang mereka terima. “Gen yang baik, pendidikan moral yang benar dan kehidupan masyarakat yang sehat, akan menghasilkan manusia-manusia bermoral yang tangguh di dalam masyarakat. Bila aspek genetik yang baik dan aspek genetik yang altruis diberi tempat utama untuk berperan, berhadapan dengan aspek genetik yang buruk dan aspek genetik yang egois dan serakah, masa depan manusia akan lebih baik di tangan mereka sendiri,” katanya. []

Ioanes Rakhmat: Sateriologi Salib Merendahkan Manusia

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone
Reporter: Jamilah

Gedung FUF, UINJKT Online – Penulis buku Sokrates dalam Tetralogi Plato Iones Rakmat berpendapat, sateriologi salib dalam keyakinan Kristen telah merendahkan sampai ke titik nol kemampuan manusia untuk meraih dan mengerjakan keselamatannya sendiri. Ioanes mengatakan hal ini saat bedah bukunya yang berjudul Membedah Soteriologi Salib: Sebuah Pergulatan Orang Dalam di ruang rapat Fakultas Usuluddin dan Filsafat, Selasa (2/6).

“Sateriologi salib harus digugat, karena, sateriologi ini dibangun di atas sebuah asumsi etis antropoligis negatif bahwa manusia pada dirinya sendiri, secara moral, adalah makhluk yang pada kodratnya serba bobrok dan bejat, yang sama sekali tidak bisa berbuat baik, yang telah sepenuhnya kehilangan kemuliaan Allah. Kebobrokan dan kebejatan moralitas manusia ini pertama-tama adalah, kata gereja mengutip teks suci, akibat dari dosa Adam dan Hawa dulu di taman Eden yang terus menjalar ke seluruh manusia di seantero planet dan di segala zaman sampai dunia ini kiamat,” kata mantan pendeta ini menambahkan.

Menurutnya kemampuan mengembangkan moralitas positif dalam diri manusia bukan dari intervensi ilahi apapun, melainkan dari gen manusia dan pendidikan yang mereka terima.

“Gen yang baik, pendidikan moral yang benar dan kehidupan masyarakat yang sehat, akan menghasilkan manusia-manusia bermoral yang tangguh di dalam masyarakat. Bila aspek genetik yang baik dan aspek genetik yang altruis diberi tempat utama untuk berperan, berhadapan dengan aspek genetik yang buruk dan aspek genetik yang egois dan serakah, masa depan manusia akan lebih baik di tangan mereka sendiri,” katanya. []

Ioanes Rakhmat: Sateriologi Salib Merendahkan Manusia

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone
Reporter: Jamilah

Gedung FUF, UINJKT Online – Penulis buku Sokrates dalam Tetralogi Plato Iones Rakmat berpendapat, sateriologi salib dalam keyakinan Kristen telah merendahkan sampai ke titik nol kemampuan manusia untuk meraih dan mengerjakan keselamatannya sendiri. Ioanes mengatakan hal ini saat bedah bukunya yang berjudul Membedah Soteriologi Salib: Sebuah Pergulatan Orang Dalam di ruang rapat Fakultas Usuluddin dan Filsafat, Selasa (2/6).

“Sateriologi salib harus digugat, karena, sateriologi ini dibangun di atas sebuah asumsi etis antropoligis negatif bahwa manusia pada dirinya sendiri, secara moral, adalah makhluk yang pada kodratnya serba bobrok dan bejat, yang sama sekali tidak bisa berbuat baik, yang telah sepenuhnya kehilangan kemuliaan Allah. Kebobrokan dan kebejatan moralitas manusia ini pertama-tama adalah, kata gereja mengutip teks suci, akibat dari dosa Adam dan Hawa dulu di taman Eden yang terus menjalar ke seluruh manusia di seantero planet dan di segala zaman sampai dunia ini kiamat,” kata mantan pendeta ini menambahkan.

Menurutnya kemampuan mengembangkan moralitas positif dalam diri manusia bukan dari intervensi ilahi apapun, melainkan dari gen manusia dan pendidikan yang mereka terima.

“Gen yang baik, pendidikan moral yang benar dan kehidupan masyarakat yang sehat, akan menghasilkan manusia-manusia bermoral yang tangguh di dalam masyarakat. Bila aspek genetik yang baik dan aspek genetik yang altruis diberi tempat utama untuk berperan, berhadapan dengan aspek genetik yang buruk dan aspek genetik yang egois dan serakah, masa depan manusia akan lebih baik di tangan mereka sendiri,” katanya. []