Intan Saputri, Raih Sarjana Terbaik

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Reporter: Luthfi Destianto

RASA haru bercampur gembira menyelimuti Intan Saputri. Pasalnya, ia baru saja menerima penghargaan sebagai sarjana terbaik pada Wisuda Sarjana ke-74 yang digelar pada 10 Januari 2009 lalu. Sarjana Pertanian (SP) lulusan Program Studi Agribisnis Fakultas Sains dan Teknologi angkatan 2004 ini lulus dengan IPK Yusidium 3,82 atau cumlaude di tingkat universitas. “Alhamdulillah, ternyata aku bisa juga berprestasi,” ujar dara manis kelahiran Jakarta, 9 Oktober 1986 ini.

Intan, demikian sapaan akrabnya, berterima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung dan memberikan doa restu, terutama kedua orang tua yang selama ini mendorongnya untuk kuliah. Mereka, menurut Intan, tiada henti mendoakan dan memberi dukungan. “Saya bangga bisa memberikan hasil yang positif kepada mereka (orang tua, Red),” imbuhnya.

Putri sulung dari tiga saudara pasangan H Syamsuddin BA dan Hj Ruchamah BA ini menambahkan, kunci keberhasilan dalam prestasi itu tak lain dengan membagi waktu belajar. Yang terpenting senantiasa bersikap disiplin, selalu berdoa kepada Allah SWT dan meminta restu dari orang tua. Disiplin dalam arti kata setiap hari harus memiliki rencana yang fleksibel namun dijalankan. “Setelah itu, kita introspeksi jika tidak berhasil seraya tetap optimis,” tuturnya.

Disiplin, menurutnya, seseorang itu mampu membagi waktu dengan baik. “Kalau ada tugas ya dikerjakan, jangan meninggalkan kewajiban,” tuturnya. Selanjutnya, Intan senantiasa meminta doa restu kepada orang tua dan menjaga hubungan baik dengan keduanya. “Walaupun kita berusaha mati-matian menggapai cita-cita sedikit saja durhaka itu tidak akan berhasil dan ga berarti apa-apa,” ujarnya. Kunci sukses selanjutnya adalah selalu berpikir optimis dan menjaga hubungan baik dengan orang lain.

Intan Saputri dapat lulus setelah berhasil mempertahankan Skripsinya di hadapan penguji dengan judul “Analisis Asosiasi Merek Tepung Terigu PT Indofood Sukses Makmur, Tbk Bogasari Flour Mills (Studi Tentang Merek Tepung Terigu Segitiga Biru Pada Paguyuban Martabak King’s Selaras Jakarta)”. Skripsi itu ia tulis dilatarbelakangi dengan ketertarikannya pada kekuatan merek dari suatu perusahaan. Karena menurutnya, salah satu aset dari suatu perusahaan yang bernilai dan terpenting ialah merek atau brand,

Mantan Sekretaris Badan Eksekutif Jurusan (BEMJ) Agribisnis periode 2005-2006 ini mengatakan, merek harus dipertahankan. Untuk mengetahui eksistensi dari suatu merek di tengah masyarakat sebagai konsumen, ia melakukan research ke perusahaan yang memproduksi tepung terigu terkemuka, PT Bogasari Flour Mills. Salah satu merek tepung yang dihasilkan dari anak perusahaan PT Indofood Sukses Makmur Tbk ini bernama Segitiga Biru.

Eksistensi Segitiga Biru pada perusahaan tersebut harus dijaga. Untuk melihatnya, harus dilihat konsumennya langsung. Dalam skripsi perempuan penyuka musik yang easy listening seperti pop ini tercatat, pengguna terbanyak sekitar 70% dari total produksi segitiga biru ialah segmen UKM. Secara khusus ia meneliti eksistensi segitiga biru pada Paguyuban Martabak King’s Selaras Jakarta. “Saya meneliti sejauh mana UKM Paguyuban Martabak King’s Selaras Jakarta memahami dan menancapkan dalam benak mereka mengenai merek tepung terigu Segitiga Biru,” kilahnya.

Hasil penelitian itu, lanjut peraih rangking lima besar saat sekolah di SMAN 90 Jakarta ini, ditemukan merek Segitiga Biru masih memiliki kekurangan untuk diketahui UKM martabak walau sedikit. Salah satunya, dari sembilan asosiasi yang dibutuhkan agar merek dapat tertancap dibenak UKM martabak, masih ada satu yang belum. “Ternyata, UKM martabak belum memahami Segitiga biru yang multipurpose. Artinya, UKM martabak menilai segitiga biru belum cocok digunakan untuk membuat berbagai jenis makanan,” tandas Intan yang memiliki hobi mengoleksi foto ini.

Di sisi lain. tambahnya, Bogasari mengklaim sudah multipurpose, namun dari segi UKM martabak, berdasarkan kuesioner yang disebarkan mengaku belum semua mengetahuinya. “Dari skripsi ini, diharapkan informasi yang diberikan perusahaan atas penjualan produknya ke masyarakat dapat tepat dan menyeluruh,” tukasnya. Sembilan asosiasi yang diklaim Bogasari untuk tepung terigu merek Segitiga Biru di antaranya berprotein sedang, halal, mengandung vitamin dan mineral, mudah diperoleh, mudah diolah, harga sesuai kualitas, merek yang terkenal, mudah diolah, dan multipurpose.

Intan menceritakan, selama di kuliah Ia pernah menjadi Ketua Kuliah Kerja Nyata (KKN) yang digabung bersama Praktek Kerja Lapang (PKL) pada tahun 2007 bersama teman se-angkatan tahun 2004. Sebanyak 17 orang mahasiswa agribisnis mengikuti KKN yang diadakan di Desa Cibodas, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung.

Untuk KKN, kegiatan yang diadakan pada pemberdayaan masyarakat berupa Pendidikan dan Latihan (diklat) Perkoperasian sekaligus seminar “Peran Penting Koperasi Diterapkan di Pedesaan” yang menghadirkan pembicara perwakilan dari Kementrian Negara Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (KUKM) dan Ketua Koperasi Susu di Bandung. PKL difokuskan ke perusahaan lokal bidang pertanian, terutama komoditas sayuran dan buah-buahan.

Intan Saputri pernah menjadi Mahasiswa Terbaik Prodi Agribisnis dalam ajang Scince Tech Award pada bulan Agustus 2007. Awalnya, cerita Intan, panitia Science Tech Award menyebarkan kuesioner kepada mahasiswa FST. Masing-masing mahasiswa mengisi kuesioner dengan menuliskan kandidat mahasiswa favoritnya sesuai dengan program studinya berdasarkan kriteria-kriteria tertentu. Proses selanjutnya, Ia dihubungi pihak panitia untuk masuk dalam nominasi empat besar. “Saya Dikontak dengan panitia lolos nominasi, kemudian diminta membuat tulisan tentang “Peran UIN Jakarta di Tengah Globalisasi”. “Saya diberi waktu dua hari untuk dikumpulkan. Seminggu kemudian, ada informasi bahwa saya berhasil menjadi pemenang,” ujarnya. Atas penelitiannya itu, ia pun diberi penghargaan berupa sebuah tropi.

Saat ditanya mengenai rencana ke depan setelah menjadi sarjana, ia mengaku tidak ingin yang muluk-muluk. “Ke depan saya akan berkarier mencari kerja. Apabila ada kesempatan, saya ingin melanjutkan studi mengambil S2 dengan biaya sendiri. Saya ingin pula menikah dan membahagiakan orang tua,” tukasnya.*

Intan Saputri, Raih Sarjana Terbaik

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Reporter: Luthfi Destianto

RASA haru bercampur gembira menyelimuti Intan Saputri. Pasalnya, ia baru saja menerima penghargaan sebagai sarjana terbaik pada Wisuda Sarjana ke-74 yang digelar pada 10 Januari 2009 lalu. Sarjana Pertanian (SP) lulusan Program Studi Agribisnis Fakultas Sains dan Teknologi angkatan 2004 ini lulus dengan IPK Yusidium 3,82 atau cumlaude di tingkat universitas. “Alhamdulillah, ternyata aku bisa juga berprestasi,” ujar dara manis kelahiran Jakarta, 9 Oktober 1986 ini.

Intan, demikian sapaan akrabnya, berterima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung dan memberikan doa restu, terutama kedua orang tua yang selama ini mendorongnya untuk kuliah. Mereka, menurut Intan, tiada henti mendoakan dan memberi dukungan. “Saya bangga bisa memberikan hasil yang positif kepada mereka (orang tua, Red),” imbuhnya.

Putri sulung dari tiga saudara pasangan H Syamsuddin BA dan Hj Ruchamah BA ini menambahkan, kunci keberhasilan dalam prestasi itu tak lain dengan membagi waktu belajar. Yang terpenting senantiasa bersikap disiplin, selalu berdoa kepada Allah SWT dan meminta restu dari orang tua. Disiplin dalam arti kata setiap hari harus memiliki rencana yang fleksibel namun dijalankan. “Setelah itu, kita introspeksi jika tidak berhasil seraya tetap optimis,” tuturnya.

Disiplin, menurutnya, seseorang itu mampu membagi waktu dengan baik. “Kalau ada tugas ya dikerjakan, jangan meninggalkan kewajiban,” tuturnya. Selanjutnya, Intan senantiasa meminta doa restu kepada orang tua dan menjaga hubungan baik dengan keduanya. “Walaupun kita berusaha mati-matian menggapai cita-cita sedikit saja durhaka itu tidak akan berhasil dan ga berarti apa-apa,” ujarnya. Kunci sukses selanjutnya adalah selalu berpikir optimis dan menjaga hubungan baik dengan orang lain.

Intan Saputri dapat lulus setelah berhasil mempertahankan Skripsinya di hadapan penguji dengan judul “Analisis Asosiasi Merek Tepung Terigu PT Indofood Sukses Makmur, Tbk Bogasari Flour Mills (Studi Tentang Merek Tepung Terigu Segitiga Biru Pada Paguyuban Martabak King’s Selaras Jakarta)”. Skripsi itu ia tulis dilatarbelakangi dengan ketertarikannya pada kekuatan merek dari suatu perusahaan. Karena menurutnya, salah satu aset dari suatu perusahaan yang bernilai dan terpenting ialah merek atau brand,

Mantan Sekretaris Badan Eksekutif Jurusan (BEMJ) Agribisnis periode 2005-2006 ini mengatakan, merek harus dipertahankan. Untuk mengetahui eksistensi dari suatu merek di tengah masyarakat sebagai konsumen, ia melakukan research ke perusahaan yang memproduksi tepung terigu terkemuka, PT Bogasari Flour Mills. Salah satu merek tepung yang dihasilkan dari anak perusahaan PT Indofood Sukses Makmur Tbk ini bernama Segitiga Biru.

Eksistensi Segitiga Biru pada perusahaan tersebut harus dijaga. Untuk melihatnya, harus dilihat konsumennya langsung. Dalam skripsi perempuan penyuka musik yang easy listening seperti pop ini tercatat, pengguna terbanyak sekitar 70% dari total produksi segitiga biru ialah segmen UKM. Secara khusus ia meneliti eksistensi segitiga biru pada Paguyuban Martabak King’s Selaras Jakarta. “Saya meneliti sejauh mana UKM Paguyuban Martabak King’s Selaras Jakarta memahami dan menancapkan dalam benak mereka mengenai merek tepung terigu Segitiga Biru,” kilahnya.

Hasil penelitian itu, lanjut peraih rangking lima besar saat sekolah di SMAN 90 Jakarta ini, ditemukan merek Segitiga Biru masih memiliki kekurangan untuk diketahui UKM martabak walau sedikit. Salah satunya, dari sembilan asosiasi yang dibutuhkan agar merek dapat tertancap dibenak UKM martabak, masih ada satu yang belum. “Ternyata, UKM martabak belum memahami Segitiga biru yang multipurpose. Artinya, UKM martabak menilai segitiga biru belum cocok digunakan untuk membuat berbagai jenis makanan,” tandas Intan yang memiliki hobi mengoleksi foto ini.

Di sisi lain. tambahnya, Bogasari mengklaim sudah multipurpose, namun dari segi UKM martabak, berdasarkan kuesioner yang disebarkan mengaku belum semua mengetahuinya. “Dari skripsi ini, diharapkan informasi yang diberikan perusahaan atas penjualan produknya ke masyarakat dapat tepat dan menyeluruh,” tukasnya. Sembilan asosiasi yang diklaim Bogasari untuk tepung terigu merek Segitiga Biru di antaranya berprotein sedang, halal, mengandung vitamin dan mineral, mudah diperoleh, mudah diolah, harga sesuai kualitas, merek yang terkenal, mudah diolah, dan multipurpose.

Intan menceritakan, selama di kuliah Ia pernah menjadi Ketua Kuliah Kerja Nyata (KKN) yang digabung bersama Praktek Kerja Lapang (PKL) pada tahun 2007 bersama teman se-angkatan tahun 2004. Sebanyak 17 orang mahasiswa agribisnis mengikuti KKN yang diadakan di Desa Cibodas, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung.

Untuk KKN, kegiatan yang diadakan pada pemberdayaan masyarakat berupa Pendidikan dan Latihan (diklat) Perkoperasian sekaligus seminar “Peran Penting Koperasi Diterapkan di Pedesaan” yang menghadirkan pembicara perwakilan dari Kementrian Negara Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (KUKM) dan Ketua Koperasi Susu di Bandung. PKL difokuskan ke perusahaan lokal bidang pertanian, terutama komoditas sayuran dan buah-buahan.

Intan Saputri pernah menjadi Mahasiswa Terbaik Prodi Agribisnis dalam ajang Scince Tech Award pada bulan Agustus 2007. Awalnya, cerita Intan, panitia Science Tech Award menyebarkan kuesioner kepada mahasiswa FST. Masing-masing mahasiswa mengisi kuesioner dengan menuliskan kandidat mahasiswa favoritnya sesuai dengan program studinya berdasarkan kriteria-kriteria tertentu. Proses selanjutnya, Ia dihubungi pihak panitia untuk masuk dalam nominasi empat besar. “Saya Dikontak dengan panitia lolos nominasi, kemudian diminta membuat tulisan tentang “Peran UIN Jakarta di Tengah Globalisasi”. “Saya diberi waktu dua hari untuk dikumpulkan. Seminggu kemudian, ada informasi bahwa saya berhasil menjadi pemenang,” ujarnya. Atas penelitiannya itu, ia pun diberi penghargaan berupa sebuah tropi.

Saat ditanya mengenai rencana ke depan setelah menjadi sarjana, ia mengaku tidak ingin yang muluk-muluk. “Ke depan saya akan berkarier mencari kerja. Apabila ada kesempatan, saya ingin melanjutkan studi mengambil S2 dengan biaya sendiri. Saya ingin pula menikah dan membahagiakan orang tua,” tukasnya.*