Inovasi Indonesia Diakui Dunia

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

PUSPIPTEK, BERITA UIN Online--Tak sedikit orang yang menabalkan Indonesia sebagai bangsa yang miskin inovasi dan teknologi. Ungkapan ini bisa jadi benar,  jika melihat banyak produk luar negeri yang membanjiri negeri ini. Tapi, jika kita melihat ke Pusat Pengembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (PUSPIPTEK) di Serpong, maka ungkapan itu keliru alias tidak tepat.

Di kawasan yang sejuk ini terdapat sejumlah inovasi (dan) teknologi karya anak-anak bangsa yang diakui dunia. Misalnya, Pusat Penelitian Sistem Mutu dan Pengujian Teknologi (P2SMPT). Lembaga riset milik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) ini dijadikan rujukan oleh berbagai perusahaan besar untuk menguji produk-produk elektromagnetik dari  dalam dan luar negeri.

“Banyak  produk-produk yang minta diuji di sini. Produk-produk dari Korea dan Jepang sebelum dipasarkan diuji di sini. Keunggulannya kita adalah pengujian tepat, tidak perlu waktu yang lama,”ujar Kepala Divisi Pengujian Mutu P2SMPT Andini kepada peserta Badan Koordinasi Humas (Bakohumas) di kantornya pada acara “Sosialisasi Program Kemenristek bertajuk “Satu Inovasi, Inovasi Indonesia”, Selasa (13/11).

Di pusat riset ini, terang dia, beragam daya elektromagnetik produk kelistrikan diuji. Dapat dipastikan produk-produk semacam radio, hand phone (HP), televisi, dan sejenisnya sebelum membanjiri di pasaran, harus diuji di laboratorium P2SMPT.  Bahkan, daya gelombang elektromagnetik pesawat juga dapat diuji di sini.

Untuk mengetahui sebuah produk lulus uji atau tidak, sambung dia, indikakatornya cukup sederhana. Jika ada alat yang ketika diuji mengalami gangguan atau mengganggu gelombang elektromagnetik benda lain, itu tandanya produk tersebut tidak lulus, atau belum berstandar internasional sari segi elektromagnetiknya.

Produk apa saja yang sering langganan mengujikan ketangguhan teknologi elektromagnetiknya di lab ini? “Banyak sekali,” tukas Andhini sembari meminta untuk tidak mempublikasikan produk-produk itu. “Ini rahasia perusahaan. Jadi kita tidak boleh menyebarkannya,”katanya beralasan.

Kecanggihan inovasi (dan) teknologi Indonesia tidak hanya itu. Bangsa ini juga mempunyai pesawat tanpa pilot. Namanya Pesawat Udara Nir Awak (PUNA). Terdapat tiga tipe PUNA, yaitu Sriti, Wulung, dan Pelatuk. Dari tiga jenis PUNA itu,  Sriti merupakan pesawat nir awak yang paling mungil dan dapat mendarat di mana saja.

Berbagai jenis PUNA itu dapat dilihat dan disaksikan kecanggihannya di Fasilitas Perekayasaan Pesawat Nir Awak Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) di komplek PUSPIPTEK. “Pesawat-pesawat itu kita kembangkan untuk menjaga kawasan Indonesia yang sulit dilalui transportasi umum. Pesawat-pesawat itu juga bisa digunakan untuk patrol keamanan,” kata insinyur rekayasa di BPPT, Ir Adrian Zulkifli.

Pengembangan inovasi teknologi Indonesia juga merambah di bidang alat persenjataan militer.  Melalui konsorsium sejumlah Badan Usaha Milik Negara (BUMN), antara lain PT Pindad, PT Dahana, dan PT DI bersama Lembaga Penerbagan dan Antariksa Nasional (LAPAN), kini sedang mengembangkan  roket-roket modern. Setidaknya terdapat dua sampai tiga jenis roket yang sedang diproduksi, antara lain roket tipe RX 1220 dan RX 2020. Roket-roket ini mempunyai daya jelajah 27-30 km.

Berbagai tipe roket itu telah diujicobakan beberapa kali di kawasan bibir laut Pangeumpeuk, Garut, Jawa Barat pada awal November 2012 lalu. Hasilnya, sebanyak 16 roket dapat meluncur dengan mulus. (da/Saifudin)