Indonesia, Islam, dan Arab

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Oleh Azyumardi Azra

 

INDONESIA, dalam kaitannya dengan Islam, agaknya masih merupakan ‘misteri’ sekaligus eksotik bagi banyak kalangan Muslim Arab. Ketika sebuah lembaga mengundang seorang pembicara dari dunia Arab, yang pertama kali dia tanyakan adalah apakah di Jakarta ada hotel yang layak. Kawan dari lembaga tersebut sampai bingung untuk memberikan jawaban. Ada rasa geli, tapi juga kejengkelan karena pertanyaan seperti ini terlihat meremehkan seolah-olah Jakarta atau Indonesia masih sangat terbelakang.

 

Tapi, begitulah. Meski cerita ini mungkin kasuistik, pandangan seperti itu bukan tidak mungkin terdapat di banyak kalangan masyarakat Arab Timur Tengah dalam memandang Indonesia. Apalagi, banyak mereka lebih sering bertemu dengan para TKI, yang bekerja di hampir seantero dunia Arab, bahkan di Gaza sekalipun. Sehingga, tidak heran kalau dalam persepsi dan mispersepsi mereka, Indonesia adalah sebuah negeri yang jauh tertinggal dibandingkan negeri mereka sendiri.

 

Beruntung, pada saat yang sama, interaksi dan pertukaran juga kian meningkat di antara Indonesia dan banyak kalangan masyarakat serta negara Arab. Berbagai program, seperti konferensi, seminar, pelatihan, dan semacamnya, baik yang diselenggarakan kalangan Pemerintah Indonesia maupun organisasi semacam NU dan Muhammadiyyah, membawa semakin banyak kalangan Arab di Timur Tengah ke negeri ini. Dalam acara-acara seperti ini, mereka bukan hanya mendapatkan berbagai penjelasan tentang banyak aspek kehidupan Indonesia, tetapi juga tentang Islam Indonesia dengan segala ekspresinya.

 

Saya sendiri sering terlibat dalam program-program seperti itu. Misalnya, menjadi narasumber untuk topik-topik, seperti sejarah perkembangan dan dinamika Islam Indonesia, Islam dan politik Indonesia, Islam dalam kebijakan politik luar negeri Indonesia, dan seterusnya.

 

Saya merasa sangat beruntung bertemu, bercakap-cakap, dan berdialog dengan kalangan Arab Timur Tengah, yang umumnya datang untuk pertama kali ke Indonesia. Banyak dari mereka yang kaget melihat lingkungan hidup Indonesia yang menghijau, bertolak belakang dengan lingkungan dunia Arab yang kebanyakan gurun pasir kering kerotang dan sangat panas. Mereka lebih tercengang lagi melihat kehidupan sosial, budaya, agama, dan politik Indonesia yang begitu beragam dan kaya. Satu hal yang agak sulit bagi mereka pahami adalah hari Jumat yang tidak libur meski penduduk Indonesia mayoritas Muslim. Sebaliknya, hari Sabtu dan Minggu yang merupakan hari ritual penganut Kristen dan Katolik malah libur. Juga, hari-hari libur keagamaan mencakup tidak hanya hari-hari besar Islam, tetapi juga agama-agama lain meski jumlah penganutnya tidak berapa besar.

 

Memang, mereka juga melihat adanya masalah-masalah tertentu dalam kehidupan keagamaan, termasuk di kalangan Muslim sekalipun, yang dalam pengamatan mereka sangat longgar dalam menjalankan kewajiban-kewajiban keislaman mereka. Namun, mereka dengan segera mengakui bahwa gejala semacam ini bukanlah unik di kalangan kaum Muslim Indonesia belaka, tetapi gejala seperti itu juga terdapat di negeri mereka.

 

Karena itu, saya menimpali bahwa orang Muslim baik yang berusaha menjalankan ajaran Islam semaksimal mungkin tidak hanya terdapat di Makkah, Madinah, atau Kairo; tetapi juga bisa ditemukan di Jakarta dan di mana pun di Indonesia. Sebaliknya, terdapat orang Muslim yang tidak menjalankan ajaran-ajaran agamanya di mana pun, tanpa kecuali di dunia Muslim.

 

Satu hal lagi yang mereka kagumi adalah kedamaian di Indonesia. Mereka melihat Indonesia relatif tidak ada konflik, bahkan kekerasan dalam skala yang mencemaskan dan seolah tidak bisa diselesaikan. Sebaliknya, di kawasan mereka, konflik dan kekerasan terus terjadi berkepanjangan seperti tak ada ujungnya. Karena itu, mereka ingin belajar dari Indonesia, bahkan meminta Islam Indonesia agar dapat disebarkan di negeri-negeri mereka.

Merespons pandangan seperti itu, saya menyatakan, semuanya harus dimulai dengan kemauan kuat untuk mengembangkan sikap tasamuh, toleran, dan saling mengakomodasi. Perdamaian tidak akan pernah tercipta jika pihak-pihak yang bertikai di antara kaum Muslim, seperti Hamas dan Fatah, menuntut keinginan masing-masing dipenuhi 100 persen. Jika di antara kaum Muslim sendiri tidak pernah bisa berdamai, jelas sulit melangkah ke perdamaian dalam tingkat yang lebih luas. Dan, jika perdamaian dalam berbagai skala seperti tadi sulit diwujudkan kaum Muslim, ini merupakan kegagalan dalam mengejawantahkan salah satu tujuan Islam, yaitu kedamaian, seperti terkandung dalam kata ‘Islam’ itu sendiri.

 

Tulisan ini pernah dimuat di Republika, 15 April 2009

Penulis adalah Direktur Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

 

Indonesia, Islam, dan Arab

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Oleh Azyumardi Azra

 

INDONESIA, dalam kaitannya dengan Islam, agaknya masih merupakan ‘misteri’ sekaligus eksotik bagi banyak kalangan Muslim Arab. Ketika sebuah lembaga mengundang seorang pembicara dari dunia Arab, yang pertama kali dia tanyakan adalah apakah di Jakarta ada hotel yang layak. Kawan dari lembaga tersebut sampai bingung untuk memberikan jawaban. Ada rasa geli, tapi juga kejengkelan karena pertanyaan seperti ini terlihat meremehkan seolah-olah Jakarta atau Indonesia masih sangat terbelakang.

 

Tapi, begitulah. Meski cerita ini mungkin kasuistik, pandangan seperti itu bukan tidak mungkin terdapat di banyak kalangan masyarakat Arab Timur Tengah dalam memandang Indonesia. Apalagi, banyak mereka lebih sering bertemu dengan para TKI, yang bekerja di hampir seantero dunia Arab, bahkan di Gaza sekalipun. Sehingga, tidak heran kalau dalam persepsi dan mispersepsi mereka, Indonesia adalah sebuah negeri yang jauh tertinggal dibandingkan negeri mereka sendiri.

 

Beruntung, pada saat yang sama, interaksi dan pertukaran juga kian meningkat di antara Indonesia dan banyak kalangan masyarakat serta negara Arab. Berbagai program, seperti konferensi, seminar, pelatihan, dan semacamnya, baik yang diselenggarakan kalangan Pemerintah Indonesia maupun organisasi semacam NU dan Muhammadiyyah, membawa semakin banyak kalangan Arab di Timur Tengah ke negeri ini. Dalam acara-acara seperti ini, mereka bukan hanya mendapatkan berbagai penjelasan tentang banyak aspek kehidupan Indonesia, tetapi juga tentang Islam Indonesia dengan segala ekspresinya.

 

Saya sendiri sering terlibat dalam program-program seperti itu. Misalnya, menjadi narasumber untuk topik-topik, seperti sejarah perkembangan dan dinamika Islam Indonesia, Islam dan politik Indonesia, Islam dalam kebijakan politik luar negeri Indonesia, dan seterusnya.

 

Saya merasa sangat beruntung bertemu, bercakap-cakap, dan berdialog dengan kalangan Arab Timur Tengah, yang umumnya datang untuk pertama kali ke Indonesia. Banyak dari mereka yang kaget melihat lingkungan hidup Indonesia yang menghijau, bertolak belakang dengan lingkungan dunia Arab yang kebanyakan gurun pasir kering kerotang dan sangat panas. Mereka lebih tercengang lagi melihat kehidupan sosial, budaya, agama, dan politik Indonesia yang begitu beragam dan kaya. Satu hal yang agak sulit bagi mereka pahami adalah hari Jumat yang tidak libur meski penduduk Indonesia mayoritas Muslim. Sebaliknya, hari Sabtu dan Minggu yang merupakan hari ritual penganut Kristen dan Katolik malah libur. Juga, hari-hari libur keagamaan mencakup tidak hanya hari-hari besar Islam, tetapi juga agama-agama lain meski jumlah penganutnya tidak berapa besar.

 

Memang, mereka juga melihat adanya masalah-masalah tertentu dalam kehidupan keagamaan, termasuk di kalangan Muslim sekalipun, yang dalam pengamatan mereka sangat longgar dalam menjalankan kewajiban-kewajiban keislaman mereka. Namun, mereka dengan segera mengakui bahwa gejala semacam ini bukanlah unik di kalangan kaum Muslim Indonesia belaka, tetapi gejala seperti itu juga terdapat di negeri mereka.

 

Karena itu, saya menimpali bahwa orang Muslim baik yang berusaha menjalankan ajaran Islam semaksimal mungkin tidak hanya terdapat di Makkah, Madinah, atau Kairo; tetapi juga bisa ditemukan di Jakarta dan di mana pun di Indonesia. Sebaliknya, terdapat orang Muslim yang tidak menjalankan ajaran-ajaran agamanya di mana pun, tanpa kecuali di dunia Muslim.

 

Satu hal lagi yang mereka kagumi adalah kedamaian di Indonesia. Mereka melihat Indonesia relatif tidak ada konflik, bahkan kekerasan dalam skala yang mencemaskan dan seolah tidak bisa diselesaikan. Sebaliknya, di kawasan mereka, konflik dan kekerasan terus terjadi berkepanjangan seperti tak ada ujungnya. Karena itu, mereka ingin belajar dari Indonesia, bahkan meminta Islam Indonesia agar dapat disebarkan di negeri-negeri mereka.

Merespons pandangan seperti itu, saya menyatakan, semuanya harus dimulai dengan kemauan kuat untuk mengembangkan sikap tasamuh, toleran, dan saling mengakomodasi. Perdamaian tidak akan pernah tercipta jika pihak-pihak yang bertikai di antara kaum Muslim, seperti Hamas dan Fatah, menuntut keinginan masing-masing dipenuhi 100 persen. Jika di antara kaum Muslim sendiri tidak pernah bisa berdamai, jelas sulit melangkah ke perdamaian dalam tingkat yang lebih luas. Dan, jika perdamaian dalam berbagai skala seperti tadi sulit diwujudkan kaum Muslim, ini merupakan kegagalan dalam mengejawantahkan salah satu tujuan Islam, yaitu kedamaian, seperti terkandung dalam kata ‘Islam’ itu sendiri.

 

Tulisan ini pernah dimuat di Republika, 15 April 2009

Penulis adalah Direktur Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta