Indonesia Butuh Presiden Radikal

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Auditorium Utama, UINJKT Online Indonesia butuh pemimpin atau presiden yang radikal, bukan pemimpin yang ketika negara ditimpa krisis menjual BUMN, menarik subidi, dan lainnya. Demikian penuturan Direktur Eksekutif Lingkar Madani Ray Rangkuti ketika menjadi narasumber Talk Show bertajuk Economic and Political Balances for The Development of Nation: Youth Responsibility Perspective di Auditorium Utama, Selasa (3/6).

 

 Talk show tersebut terselenggara atas kerjasama gabungan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) yang ada di Fakultas Ekonomi dan Ilmu Sosial (FEIS), baik reguler maupun ekstensi dalam rangka puncak selebrasi hari ulang FEIS keenam.

“Rata-rata presiden kita tidak bekerja dan kepemimpinannya tidak jelas semuanya,” tutur Ray. Karena itu, imbuhnya, bangsa ini butuh kepala negara yang radikal untuk mengatasi permasalahan bangsa yang kompleks. Dia juga harus berani untuk tidak membayar hutang luar negeri seperti yang telah dilakukan Argentina.

Menurut mantan aktivis Lingkar Studi dan Aksi Demokrasi Indonesia (LS-ADI) ini, problem yang dihadapi bangsa Indonesia adalah pada pembuatan kebijakan yang dilakukan para pemimpin. Akhirnya, dia menghimbau agar pemimpin negara mendatang harus kaum muda. “Kita harus ada kepercayaan kepada kaum muda untuk menjadi pemimpin bangsa ini,” himbaunya.

Dia menjelaskan, kaum muda merupakan penentu untuk membangun bangsa ini. “Hanya semangat dari diri kitalah bangsa ini bisa dibangun,” jelasnya. Sedangkan menurut dosen FISIP Universitas Indonesia Syamsul Hadi yang juga menjadi narasumber menuturkan, kaum muda bisa bangkit jika ia mau bermuhasabah dan bertaubat.

Sementara itu, pembicara lain Adi Masardi mengatakan, sistem ekonomi maupun politik negeri ini tidak jelas. “Sistem yang mau dipakai apakah sekuler atau tidak. Ini belum jelas,” katanya.  [Nif/Ed]

Indonesia Butuh Presiden Radikal

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Auditorium Utama, UINJKT Online Indonesia butuh pemimpin atau presiden yang radikal, bukan pemimpin yang ketika negara ditimpa krisis menjual BUMN, menarik subidi, dan lainnya. Demikian penuturan Direktur Eksekutif Lingkar Madani Ray Rangkuti ketika menjadi narasumber Talk Show bertajuk Economic and Political Balances for The Development of Nation: Youth Responsibility Perspective di Auditorium Utama, Selasa (3/6).

 

 Talk show tersebut terselenggara atas kerjasama gabungan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) yang ada di Fakultas Ekonomi dan Ilmu Sosial (FEIS), baik reguler maupun ekstensi dalam rangka puncak selebrasi hari ulang FEIS keenam.

“Rata-rata presiden kita tidak bekerja dan kepemimpinannya tidak jelas semuanya,” tutur Ray. Karena itu, imbuhnya, bangsa ini butuh kepala negara yang radikal untuk mengatasi permasalahan bangsa yang kompleks. Dia juga harus berani untuk tidak membayar hutang luar negeri seperti yang telah dilakukan Argentina.

Menurut mantan aktivis Lingkar Studi dan Aksi Demokrasi Indonesia (LS-ADI) ini, problem yang dihadapi bangsa Indonesia adalah pada pembuatan kebijakan yang dilakukan para pemimpin. Akhirnya, dia menghimbau agar pemimpin negara mendatang harus kaum muda. “Kita harus ada kepercayaan kepada kaum muda untuk menjadi pemimpin bangsa ini,” himbaunya.

Dia menjelaskan, kaum muda merupakan penentu untuk membangun bangsa ini. “Hanya semangat dari diri kitalah bangsa ini bisa dibangun,” jelasnya. Sedangkan menurut dosen FISIP Universitas Indonesia Syamsul Hadi yang juga menjadi narasumber menuturkan, kaum muda bisa bangkit jika ia mau bermuhasabah dan bertaubat.

Sementara itu, pembicara lain Adi Masardi mengatakan, sistem ekonomi maupun politik negeri ini tidak jelas. “Sistem yang mau dipakai apakah sekuler atau tidak. Ini belum jelas,” katanya.  [Nif/Ed]