In Memoriam Rosihan Anwar

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Oleh: Nanang Syaikhu

WARTAWAN senior Rosihan Anwar meninggal pada Kamis, 14 April 2011. Ia meninggal dalam usia 89 tahun saat dalam perjalanan dari rumah duka ke Rumah Sakit Metro Medical Center, Kuningan, Jakarta Selatan.

Kepergian Rosihan Anwar tentu mengejutkan kalangan insan pers nasional, termasuk saya, yang sempat menjadi “murid” kilat beliau. Tulisan ini sekadar untuk mengenang almarhum sebagai sosok wartawan, budayawan, dan pejuang, yang tak pernah berhenti berkarya.

Secara pribadi, saya sebetulnya kurang begitu dekat dengan beliau. Pertemuan saya dengan Rosihan Anwar pertama kali adalah saat melakukan wawancara khusus di rumahnya di Jalan Surabaya (nomornya saya lupa), Menteng, Jakarta Pusat, pada tahun 1992. Waktu itu saya menjadi wartawan Panji Masyarakat, majalah Islam tua yang mulai terbit tahun 1956. Wawancara dilakukan untuk sekadar menggali pemikiran Rosihan Anwar mengenai kehidupan pers dan masalah-masalah kebudayaan. Setelah itu, pertemuan secara tidak sengaja selalu saya alami dengan beliau di beberapa tempat di Jakarta, seperti di Gedung Dewan Pers, Gedung YTKI, dan sejumlah hotel. Di luar kontak langsung tersebut, saya juga kerap rajin membaca tulisan-tulisan beliau di sejumlah koran atau majalah, termasuk beberapa karya bukunya.

Bagi saya Rosihan Anwar adalah guru sekaligus orang tua. Selama ini saya telah banyak memperoleh ilmu dan pengalaman berharga dari beliau meski tidak diajari secara khusus. Nasihat dan petuah beliau selalu saya ingat, terutama selama berkarier sebagai wartawan, dan bahkan sampai kini sebagai dosen.

Saat wawancara khusus di rumahnya, sambil duduk santai dan menyelonjorkan kakinya di atas meja, dia mengatakan: “Anda anak muda harus kreatif menulis. Jadi wartawan jangan cengeng!” Nadanya keras seperti marah dan kadang juga ketus. Namun hal itu tak membuat setiap orang membencinya. Sebaliknya justru menjadi pelecut bagi wartawan untuk lebih banyak berkarya dan mengembangkan ide.

Rosihan Anwar lahir di Kubangan Dua, Sumatera Barat, 10 Mei 2022. Selama hidupnya ia abdikan untuk bangsa. Kariernya sebagai wartawan dimulai saat berumur 20 tahun. Selain pernah memimpin Siasat (1947-1957) dan Pedoman (1948-1961), ia juga musuh Orde Lama dan Orde Baru. Dengan ketajaman penanya, tulisan Rosihan kadang membuat kuping orang jadi panas. Meskipun begitu rezim Orde Lama dan Orde Baru tetap menyimpan rasa love-hate kepadanya. Setidaknya, itulah menurut Abdullah Alamudi –wartawan senior dan instruktur pada Lembaga Pers Dr Sutomo—ketika menggambarkan sosok Rosihan Anwar dalam tulisannya di Kompas (10 Mei 2005). Abdullah Alamudi selengkapnya menulis: “Rezim Orde Lama dan Orde Baru tampak menyimpan rasa love-hate. Sebagian besar karena dia selalu mengikuti instink jurnalistiknya, menyuarakan isi hatinya, mengungkapkan kebenaran, ketidakadilan, yang tidak satu gembok pun bisa mengunci kebebasan berpikirnya.”

Rosihan Anwar memang sosok wartawan langka. Meskipun di usianya yang makin senja, ia masih diberi kemampuan untuk menulis dan sekaligus daya ingat yang kuat. Tidak hanya itu, Rosihan Anwar adalah wartawan yang konsisten menggunakan ketajaman penanya dan bahkan lebih banyak berbicara dengan suara hati nuraninya. Tak peduli apakah rezim yang berkuasa –dulu dan kini—membencinya ataukah mencintainya.

Karena itu tak berlebihan pula jika Jacob Oetama, Pemimpin Umum Kompas,  ketika memberikan kata pengantar dalam buku H. Rosihan Anwar: Wartawan dengan Aneka Citra mengatakan: “…wartawan sejati, bukanlah man of power melainkan man of conscience and of culture, lebih cenderung kepada suara hati dan kebudayaan (baca: kemanusiaan) daripada kekuasaan”.

Spirit hati nurani ini pula, saat saya berwawancara dengannya, ia tak segan-segan menasihati saya agar tetap mengabdi kepada kebenaran dan harus menjadikan ujung pena sebagai senjata pembunuh terhadap rezim –atau siapa pun—yang zalim dan represif. Bukan kebenaran apa yang dimaui oleh rezim, melainkan kebenaran yang dimaui oleh rakyat kebanyakan, lebih-lebih bagi rakyat yang tertindas. Dan, Rosihan Anwar sendiri merupakan representasi dari ketertindasan rezim itu selama tiga zaman yang dilaluinya.

Saya barangkali termasuk yang beruntung dan bersyukur ketika “Haji Waang” –nama julukan Rosihan Anwar yang diambil dari tokoh lugu dan polos dalam tajuk-tajuk rencana Pedoman yang muncul setiap Jumat—dinaugerahi Doktor Honouris Causa (HC) atau Doktor Kehormatan, yang menurutnya sendiri bukan Doktor bener-beneran, oleh Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta dalam bidang Jurnalistik dan Komunikasi pada 6 Mei 2006 lalu. Rasa syukur itu saya ungkapkan setelah –menurut pengakuan Rosihan Anwar—gagal dianugerahi Doktor HC oleh sebuah universitas negeri terkemuka di Makassar cuma karena alasan dia tak memiliki karya tulis memadai yang menjadi prasyarat tradisi akademik dalam penerimaan gelar Doktor HC. Kalaupun pernah “menerima” gelar itu, konon dilakukan dengan cara yang unik.

Adalah Prof Nurdin Sjahadat, Rektor Universitas Sawiregading, juga di Makassar, datang ke rumah beliau seraya membawa toga dan piagam dari universitasnya. Profesor itu mengatakan bahwa Rosihan Anwar mendapat gelar Doktor HC dalam bidang Politik dan Kesusasteraan. Aneh memang.

Tapi apa yang diberikan UIN Jakarta kepada Rosihan Anwar lima tahun lalu itu tidak aneh, melainkan memang pantas dan layak. Pemberian gelar itu sekaligus merupakan hadiah ulang tahunnya ke-84.

Bagi UIN Jakarta, penghargaan kepada orang luar dalam bidang jurnalistik dan komunikasi, selain baru pertama kali tejadi juga penting untuk dicatat dalam sejarah bahwa universitas tersebut telah memiliki “sense of journalism”. UIN Jakarta telah menangkap makna pentingnya ilmu jurnalistik dan komunikasi bagi kehidupan, yang di era globalisasi sekarang ini tidak dapat ditawar-tawar lagi. Makna penting lainnya, momentum ini sekaligus sebagai starting point UIN Jakarta guna menguatkan bidang komunikasi ke depan, khususnya bagi penguatan Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi yang sampai saat ini masih dalam (kalau boleh dikatakan) taraf “experimental”.

Dr Rosihan Anwar itu kini telah meninggalkan kita bersama. Sekali lagi, ia bukan saja sosok sebagai wartawan teladan tetapi juga eksiklopedi berjalan. Sebagaimana yang dibaca dalam beragam tulisannya di media massa, seperti laporan mengenai perjalanan dari sejumlah negara yang dikunjunginya, Rosihan Anwar tak cuma menyodorkan fakta-fakta sejarah tetapi juga gagasan baru dan kritik yang mengalir. Tak peduli apakah kritik itu membuat orang love atau hate. Selamat jalan Haji Awang, semoga Allah SWT memberkati dan hidup abadi di sisi-Nya. Amin.

Penulis adalah wartawan dan dosen Ilmu Komunikasi/Jurnalistik Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.