Ilmu Munasabah Penting untuk Pahami al-Qur’an

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Reporter: Jaenuddin Ishaq

Aula SPs, BERITA UIN Online - Kajian tentang Munasabah (ketersambungan) pada sistematika urutan ayat dengan ayat atau surah dengan surah yang terdapat dalam Mushaf Usmani, kini tidak berdasarkan pada kronologis turunya al-Qur’an. Padahal ada sejumlah indikasi yang menunjukan bahwa al-Qur’an, memiliki satu kesatuan arti dengan lainnya.

Demikian pernyataan Hasani Ahmad Said saat mempertahankan disertasinya yang berjudul Diskursus Munasabah al-Qur’an: Kajian Atas Tafsir al-Misbah dalam sidang promosi doktor di Aula Sekolah Pascasarjana (Sps) UIN Jakarta, Senin (28/3).

“Disertasi ini menolak sejumlah pemikir seperti ‘Izz al-Din ‘Abd al-Salman, Salwa MS El-Awa, W Montgomery Watt, dan Richar Bell yang berpandangan al-Qur’an tidak memiliki ilmu Munasaba,” kata Hasani.

Hasani menjelaskan, metode Munasabah al-Qur’an dalam Tafsir al-Misbah karya Prof Dr M Quraish Shihab memberikan gambaran menarik mengenai penilaian baik dan buruk sistematika uraian arti Munasabah.

“Jika Anda memiliki tiga orang saudara dan seseorang ada yang bertanya, ingin mengetahui siapa anak tertua sewajarnya Anda menjawab si-A, B, dan C sesuai dengan urutan masa kelahirannya. Tetapi, jika seseorang ingin mengetahui siapa yang termuda, penyebutan nama-nama tersebut harus dibalik,” jelas Hasani sebagaimana dijelaskan di Tafsir al-Misbah.

Diakui Hasani, meski tidak semua orang mengakui urgensi ilmu Munasabah, akan tetapi keberadaannya sebagai salah satu cabang dari ilmu-ilmu al-Qur’an tidak dapat dibantah oleh siapa pun.

“Keberadaan ilmu Munasabah sama sekali tidak mengurangi kualitas penafsiran, sebaliknya ilmu Munasabah akan memperkaya dan meningkatkan bobot kualitas daya tafsir,” ujar Hasani yang juga dosen Fakultas Syariah IAIN Raden Intan Lampung.

Al-Zarkashi menilai, ilmu Munasabah didasarkan keyakinan bahwa al-Qur’an ibarat bangunan yang bagian-bagiannya saling mengkuatkan. Di antaranya yaitu berfungsi untuk menguji struktur kalimat, menjadikan setiap bagian kalimat atau surah berkaitan, dan saling menyempurnakan dengan lainnya.

Lebih lanjut, Hasani juga menguraikan ada empat arti Munasabah sebagai salah satu metode untuk memahami al-Qur’an. Pertama, dari sisi Balaghoh. Korelasi antara ayat dengan ayat menjadikan keutuhan yang indah dalam tata bahasa al-Qur’an, dan bila dihilangkan maka keserasian ayat akan hilang.

“Kebanyakan kehalusan dan keindahan al-Qur’an dibuang begitu saja, dalam tartib hubungan dan susunannya,” tukas Hasani sebagaimana menurut al-Zarkashi yang mengutip Imam al-Razi.

Kedua, ilmu Munasabah memudahkan orang dalam memahami makna surah dan ayat. Sebab penafsiran al-Qur’an dengan ragamnya, membutuhkan ilmu Munasabah. Ketiga, membantu pembaca agar dapat memperoleh petunjuk dalam waktu singkat tanpa membaca seluruh ayat al-Qur’an.

Keempat, dengan ilmu Munasabah semakin memperkaya cakrawala pemahaman. Sebab akan semakin banyak dan beragam pula seseorang mendapat petujuk dari Allah SWT. Sehingga al-Qur’an dapat memberikan sumber hidayah yang tidak pudar.

“Disertasi ini mendukung pendapat seperti al-Nasyaburi, al-Farahi, al-Biqa’i, al-Zarkashi, Fazlur Rahman, dan Mustafa Azami bahwa al-Qur’an mempunyai hubungan erat antara surah dengan surah dan antara ayat dengan ayat lainnya,” tutur Hasani yang memperoleh nilai memuaskan IPK 3,38 pada bidang Doktor Kajian Tafsir yang juga sebagai imam tetap di Masjid Fathullah UIN Jakarta. []