Reporter: Rizka

Gedung FDK, UINJKT Online – Aktifis KAPAL Perempuan Sri Edras Iswani SH MA mengungkapkan, representasi perempuan dalam berbagai iklan di televisi mayoritas sebagai obyek seksualitas, komoditas untuk memelihara kecantikan serta makhluk konsumtif.

Berdasarkan data yang didapat dari Komisi Penyiaran Indonesia pada tahun 2008 terdapat 2.357 kasus pengaduan masyarakat terhadap siaran yang tidak layak tayang.

Hal tersebut disampaikan Sri Edras Iswani dalam  talkshow bertajuk Perempuan dalam Tayangan Iklan Televisi yang digelar Badan Eksekutif Mahasiwa (BEMJ) Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) Fakultas Dakwah dan Komunikasi bekerjasama dengan KAPAL Perempuan di Teater Lantai 2 FDK, Kamis (14/5). Talkshow ini dihadiri lebih dari 30 mahasiswa untuk menjalin interen Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) sekaligus merayakan ulang tahun KPI ke-19.

“Guna mewujudkan iklan-iklan yang bermutu bagi pemirsa, mahasiswa harus belajar membuat iklan sesuai yang dipelajari di kampus bukan mengikuti arus yang tidak jelas. Sudah seharusnya kaum muda lah yang membuat perubahan,” ungkap Sri.*

Reporter: Rizka

Gedung FDK, UINJKT Online – Aktifis KAPAL Perempuan Sri Edras Iswani SH MA mengungkapkan, representasi perempuan dalam berbagai iklan di televisi mayoritas sebagai obyek seksualitas, komoditas untuk memelihara kecantikan serta makhluk konsumtif.

Berdasarkan data yang didapat dari Komisi Penyiaran Indonesia pada tahun 2008 terdapat 2.357 kasus pengaduan masyarakat terhadap siaran yang tidak layak tayang.

Hal tersebut disampaikan Sri Edras Iswani dalam  talkshow bertajuk Perempuan dalam Tayangan Iklan Televisi yang digelar Badan Eksekutif Mahasiwa (BEMJ) Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) Fakultas Dakwah dan Komunikasi bekerjasama dengan KAPAL Perempuan di Teater Lantai 2 FDK, Kamis (14/5). Talkshow ini dihadiri lebih dari 30 mahasiswa untuk menjalin interen Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) sekaligus merayakan ulang tahun KPI ke-19.

“Guna mewujudkan iklan-iklan yang bermutu bagi pemirsa, mahasiswa harus belajar membuat iklan sesuai yang dipelajari di kampus bukan mengikuti arus yang tidak jelas. Sudah seharusnya kaum muda lah yang membuat perubahan,” ungkap Sri.*
(more…)