IKALUIN Dituntut Ikut Berperan dalam Pembangunan Bangsa

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Auditorium Utama, UINJKT Online – Sebagai salah satu organisasi sosial kemasyarakatan, Ikatan Alumni UIN (IKALUN) Syarif Hidayatullah Jakarta dituntut untuk lebih berperan dalam pembangunan bangsa. Hal itu dikarenakan selain jumlah anggota IKALUIN yang cukup besar juga banyak memiliki potensi di berbagai bidang kehidupan.

Demikian rangkuman hasil Temu Alumni dan Saresehan IKALUIN yang berlangsung di Auditorium Utama, Kamis (22/5). Sarasehan dihadiri oleh sedikitnya 400 alumni dari berbagai daerah di Indonesia dan dengan latar belakang profesi. Sejumlah alumni UIN Jakarta turut berbicara. Antara lain AM Fatwa (Wakil Ketua MPR RI), Badriyah Fayumi (Anggota DPR), Hadimulyo (Anggota DPR), dan Prof Dr Bakhtiar Effendy (dosen Sekolah Pascasarjana UIN Jakarta).

Bakhtiar mengungkapkan, alumni UIN Jakarta (dahulu IAIN, Red) saat ini banyak mengambil peranan di berbagai sektor kehidupan. Dari banyaknya alumni itu, sebagian besar berprofesi sebagai guru. Dijelaskan, alumni UIN Jakarta sebenarnya tak perlu risau karena banyak sektor kehidupan yang bisa dimasuki. Bahkan, selama 25 tahun ini hampir tak ada di antara alumni UIN Jakarta yang menganggur, meski minimal sebagai guru ngaji atau menjadi khatib Jumat. “Waktu itu (semasa IAIN, Red) memang masih empat fakultas dan semua agama, yakni Fakultas Tarbiyah, Fakultas Adab, Fakultas Syariah, dan Fakultas Ushuluddin. Jadi, lulusan IAIN rata-rata tidak ada yang menganggur,” katanya seraya menambahkan bahwa tak ada hubungan antara jumlah angka pengangguran dengan para lulusan IAIN Jakarta waktu itu.

Hal yang sama dikemukakan Anggota DOR dari Fraksi Kebangkitan Bangsa Badriyah Fayumi. Ia mengatakan, lulusan UIN Jakarta kini masih banyak berperan di ranah sosial seperti menjadi guru atau mubaligh. Oleh karena besarnya jumlah lulusan UIN Jakarta di ranah itu, ia lantas mengajukan sejumlah saran. Antara lain perlunya lulusan UIN Jakarta menjelaskan tentang Islam moderat kepada masyarakat luas. Selain itu, UIN Jakarta melalui IKALUIN diharapkan dapat memberikan peran dalam pendidikan di sekolah dengan mengajarkan pluralisme dan multikultural untuk menciptakan kerukunan antarumat beragama. “Saya pernah mendapat keluhan dari guru TK di Depok, yang juga alumni UIN Jakarta. Dia bilang bahwa ada anak-anak TK asuhannya yang mengatakan bahwa darah non-Muslim itu halal. Nah, ini kan berbahaya,” katanya.

Ambil alih wisuda
Sementara itu, sejumlah alumni UIN Jakarta yang dihubungi UINJKT Online juga mengusulkan beberapa saran. Nana Supriyatna misalnya, sempat mengusulkan agar IKALUIN terus memerankan dirinya secara lebih luas. Guna mendata alumni UIN Jakarta, yang setiap tahunnya mencapai sekitar 2.000 orang, IKALUIN di antaranya perlu terlibat dalam pelaksanaan wisuda. Artinya, ke depan pelaksanaan wisuda tidak lagi harus dilakukan oleh pihak UIN Jakarta tetapi oleh IKALUIN dalam bentuk outsourcing. “Itu tak lain untuk menambah pemasukan kas IKALUIN yang memang sangat membutuhkan dada kegiatan. Pelaksanaannya bisa satu kali dan diadakan di luar kampus UIN Jakarta, di Jakarta Hall Convention Center misalnya,” katanya. Selama ini, wisuda sarjana baru lulusan UIN Jakarta dilaksanakan selama tiga kali dalam setahun dengan sekali wisuda rata-rata mencapai 700 orang.

Berbeda dengan Nana, alumnus lain seperti Prof Dr Ihsan Tanggok, yang kini menjadi pengajar di Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Jakarta, mengusulkan pemasukan kas IKALUIN bisa diperoleh melalui iuran alumni yang mau diwisuda. “Jika setiap orang dipungut Rp 2.000, maka dikalikan sekitar 2.000 lulusan sudah bisa meraup Rp 4 juta. Itu kan lumayan,” ujarnya. Di luar itu, usul lain yang dikemukakannya adalah bagaimana IKALUIN menyosialisasikan diri dengan para calon anggotanya secara efektif. Misalnya melalui pemanfaatan momentum gladik resik wisuda. “Di situ (gladik resik wisuda, Red) IKALUIN bisa berpromosi bahwa ada organisasi sebagai wadah alumni,” jelasnya.* (ns)

IKALUIN Dituntut Ikut Berperan dalam Pembangunan Bangsa

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Auditorium Utama, UINJKT Online – Sebagai salah satu organisasi sosial kemasyarakatan, Ikatan Alumni UIN (IKALUN) Syarif Hidayatullah Jakarta dituntut untuk lebih berperan dalam pembangunan bangsa. Hal itu dikarenakan selain jumlah anggota IKALUIN yang cukup besar juga banyak memiliki potensi di berbagai bidang kehidupan.

Demikian rangkuman hasil Temu Alumni dan Saresehan IKALUIN yang berlangsung di Auditorium Utama, Kamis (22/5). Sarasehan dihadiri oleh sedikitnya 400 alumni dari berbagai daerah di Indonesia dan dengan latar belakang profesi. Sejumlah alumni UIN Jakarta turut berbicara. Antara lain AM Fatwa (Wakil Ketua MPR RI), Badriyah Fayumi (Anggota DPR), Hadimulyo (Anggota DPR), dan Prof Dr Bakhtiar Effendy (dosen Sekolah Pascasarjana UIN Jakarta).

Bakhtiar mengungkapkan, alumni UIN Jakarta (dahulu IAIN, Red) saat ini banyak mengambil peranan di berbagai sektor kehidupan. Dari banyaknya alumni itu, sebagian besar berprofesi sebagai guru. Dijelaskan, alumni UIN Jakarta sebenarnya tak perlu risau karena banyak sektor kehidupan yang bisa dimasuki. Bahkan, selama 25 tahun ini hampir tak ada di antara alumni UIN Jakarta yang menganggur, meski minimal sebagai guru ngaji atau menjadi khatib Jumat. “Waktu itu (semasa IAIN, Red) memang masih empat fakultas dan semua agama, yakni Fakultas Tarbiyah, Fakultas Adab, Fakultas Syariah, dan Fakultas Ushuluddin. Jadi, lulusan IAIN rata-rata tidak ada yang menganggur,” katanya seraya menambahkan bahwa tak ada hubungan antara jumlah angka pengangguran dengan para lulusan IAIN Jakarta waktu itu.

Hal yang sama dikemukakan Anggota DOR dari Fraksi Kebangkitan Bangsa Badriyah Fayumi. Ia mengatakan, lulusan UIN Jakarta kini masih banyak berperan di ranah sosial seperti menjadi guru atau mubaligh. Oleh karena besarnya jumlah lulusan UIN Jakarta di ranah itu, ia lantas mengajukan sejumlah saran. Antara lain perlunya lulusan UIN Jakarta menjelaskan tentang Islam moderat kepada masyarakat luas. Selain itu, UIN Jakarta melalui IKALUIN diharapkan dapat memberikan peran dalam pendidikan di sekolah dengan mengajarkan pluralisme dan multikultural untuk menciptakan kerukunan antarumat beragama. “Saya pernah mendapat keluhan dari guru TK di Depok, yang juga alumni UIN Jakarta. Dia bilang bahwa ada anak-anak TK asuhannya yang mengatakan bahwa darah non-Muslim itu halal. Nah, ini kan berbahaya,” katanya.

Ambil alih wisuda
Sementara itu, sejumlah alumni UIN Jakarta yang dihubungi UINJKT Online juga mengusulkan beberapa saran. Nana Supriyatna misalnya, sempat mengusulkan agar IKALUIN terus memerankan dirinya secara lebih luas. Guna mendata alumni UIN Jakarta, yang setiap tahunnya mencapai sekitar 2.000 orang, IKALUIN di antaranya perlu terlibat dalam pelaksanaan wisuda. Artinya, ke depan pelaksanaan wisuda tidak lagi harus dilakukan oleh pihak UIN Jakarta tetapi oleh IKALUIN dalam bentuk outsourcing. “Itu tak lain untuk menambah pemasukan kas IKALUIN yang memang sangat membutuhkan dada kegiatan. Pelaksanaannya bisa satu kali dan diadakan di luar kampus UIN Jakarta, di Jakarta Hall Convention Center misalnya,” katanya. Selama ini, wisuda sarjana baru lulusan UIN Jakarta dilaksanakan selama tiga kali dalam setahun dengan sekali wisuda rata-rata mencapai 700 orang.

Berbeda dengan Nana, alumnus lain seperti Prof Dr Ihsan Tanggok, yang kini menjadi pengajar di Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Jakarta, mengusulkan pemasukan kas IKALUIN bisa diperoleh melalui iuran alumni yang mau diwisuda. “Jika setiap orang dipungut Rp 2.000, maka dikalikan sekitar 2.000 lulusan sudah bisa meraup Rp 4 juta. Itu kan lumayan,” ujarnya. Di luar itu, usul lain yang dikemukakannya adalah bagaimana IKALUIN menyosialisasikan diri dengan para calon anggotanya secara efektif. Misalnya melalui pemanfaatan momentum gladik resik wisuda. “Di situ (gladik resik wisuda, Red) IKALUIN bisa berpromosi bahwa ada organisasi sebagai wadah alumni,” jelasnya.* (ns)