Oleh Dede Rosyada

MENJELANG berakhirnya Ramadan pun umat Islam di seluruh pelosok dunia masih memperlihatkan gairah keberagamaan yang terjaga.

Gairah keberagamaan ini tampak sebagai manifestasi nilai-nilai Ramadan yang dijalani selama satu bulan. Sebuah nilai yang mewujud da – lam laku sehari-hari. Dan kini Idul Fitri menjemput. Puasa adalah ibadah spe – sial. Karena itu, melalui Rasul- Nya, Tuhan mene gas kan bahwa seluruh amal dan karya iba – dah umat manusia adalah untuk mereka, ke cua li puasa, karena ibadah puasa mus – limin itu adalah untuk Aku, dan hanya Aku-lah yang bisa mengukur imbalan pa ha la – nya.

Bersamaan dengan itu ibadah puasa juga sangat spesial. Tuhan pun meng gu na – kan kata al-shiyam, ketika menyampaikan perintah-Nya itu, yang artinya, umat Islam diperintahkan tidak hanya melaksanakan ibadah puasa dengan baik, tapi juga men – trans formasikan nilai-nilai spi ritual puasa pada aspek ke – hidupan profesi dan sosial se – hingga mencapai ke tak waan yang holistik dan sem purna. Setidaknya ada dua nilai spiritual yang amat berharga dari ibadah puasa, untuk ditransformasikan pada kehidupan profesi dan sosial, yaitu integritas, dan persaudaraan universal. Keduanya amat berharga untuk pem – ba ngunan bangsa saat ini.

Integritas

Ibadah puasa dikerjakan oleh setiap muslim karena diperintahkan oleh Tuhan, dikerjakan dalam pengawasan Tuhan, dan didedikasikan hanya untuk mendapatkan rida-Nya. Dalam rentang waktu 14 jam berpuasa, sela – lu ada kesempatan untuk me ru sak ibadah tersebut, tapi kita mampu menjaga itu se mua. Berbagai godaan yang akan membatalkan pua sa selalu ada, godaan yang akan mengurangi nilai ibadah puasa selalu datang menghampiri, bahkan ter – akhir godaan datang dari da – lam diri sendiri, dengan keingin an hawa nafsu untuk men dapat penilaian positif dari orang lain.

Tapi, kita mam pu menahan semua godaan tersebut, hanya karena Allah SWT. Pada titik inilah nilai spiritual ibadah puasa amat ber – harga dan diperintahkan Tu – han untuk ditrans for ma si – kan pada profesi dan kegiat – an sosial. Sebagai profesio – nal, setiap manusia selalu bekerja agar berprestasi yang diukur dengan capaian tar – get kinerja, sehingga tunjangannya naik dan promosi jabatan terbuka. Jika ada di antara umat Islam memiliki frame of thinking seperti ini, mereka akan merugi karena reward dunia akan diperoleh sesuai capaiannya, tetapi secara eskatologis dia tidak memperoleh apa-apa.

Oleh sebab itu, Tuhan me merintahkan untuk spi ri – tualisasi profesi, yakni bekerja dari Tuhan, bersama Tuhan, dan untuk Tuhan. Sistem berpikir seperti ini pu lalah yang akan menjadikan pekerjaan profesi dan sosial bernilai spiritual, bahkan dapat menjauhkan negara dan bangsa ini dari gratifikasi, korupsi, tidak berdisiplin, dan sebaliknya akan mendorong kreativitas serta invasi. Hal itu karena Tuhan itu selalu ada di hati mereka, mendorong mereka berkarya serius, dan mengontrol ber bagai penyimpangan yang mungkin terjadi.

Persaudaraan Universal

Dalam menyempurnakan ibadah puasa, umat Islam diperintahkan untuk berbagi, baik dalam konteks berbuka maupun pembayaran zakat fitrah sebagai wujud cinta kasih dalam bingkai per saudaraan. Berbagi sangat penting dalam Islam dan Tuhan menjadikannya se bagai kualifikasi keimanan seseorang. Bahkan untuk zakat fitrah, boleh didistribusikan pada masyarakat non-muslim yang tidak mampu. Nilai agung Ramadan ini diperintahkan Tuhan untuk ditransformasikan pada kehidupan berbangsa dan bernegara, bahwa sesama seagama harus saling kasih, tidak boleh saling membenci, apalagi menakut-nakuti, mengancam, bahkan membunuh tanpa alasan hukum.

Islam adalah agama kasih, bukan agama permusuhan. Dalam ajaran Islam, “Seluruh umat Islam adalah saudara dan belum beriman seseorang sebe lum bisa mencintai saudaranya sebagaimana dia mencintai diri nya sendiri.” Demikian pula dengan saudara-saudara yang tidak segama, harus saling kasih dan saling melindungi satu sama lain, karena semua umat manusia terlahir dari leluhur yang sama. Dengan demikian, mengembangkan per satuan dan kesatuan, tanpa mem perhatikan perbedaan agama, etnik, dan bu daya yang men – jadi modal dasar pem ba ngun – an adalah perintah Tuhan.

Pada akhirnya, momentum Idul Fitri ini menjadi sangat penting untuk introspeksi diri dalam rangka kembali pada asal kejadian manusia, yakni mengabdi ha nya kepada Tuhan, baik melalui ibadah ritual, profesional, maupun sosial, serta mengembangkan persatuan dan kesatuan yang keduanya menjadi modal dasar dalam pemajuan bangsa ke depan.

Prof Dr Dede Rosyada,MA
Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta. Tulisan ini dimuat rubrik Opini Koran Sindo, 12 Juni2018 (lrf/eae)

Share This