Idul Fitri Momen Penting Saling Memaafkan

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Auditorium, UIN Online – Perayaan Idul Fitri merupakan momen yang sangat penting bagi umat Islam. Dalam Idul Fitri setiap umat Islam terbuka untuk saling memaafkan antarsesama dari perbuatan khilaf dan dosa.

Hal itu dikatakan Walikota Jakarta Pusat Prof Dr Sylviana Murni saat menyampaikan ceramah Halal bi Halal di depan warga sivitas akademika UIN Jakarta di Auditorium Prof Dr Harun Nasution, Senin (20/9). Silaturahmi Halal bi Halal dihadiri Rektor Prof Dr Komaruddin Hidayat, Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama Prof Dr Nasaruddin Umar, dan Inspektur Jenderal Kementerian Agama Abdullah Suparta. Hadir pula sejumlah pinisepuh UIN Jakarta serta pengurus Dharma Wanita Persatuan

“Idul Fitri merupakan momen penting untuk saling memaafkan, baik secara individu maupun kelompok,” kata Walikota.

Ia menadaskan, Halal bi Halal adalah budaya saling memaafkan yang sudah lama menjadi fenomena di Tanah Air, dan telah menjadi tradisi di negara-negara rumpun melayu. Halal bi Halal juga merupakan refleksi ajaran Islam yang menekankan sikap persaudaraan, persatuan, dan saling memberi kasih sayang atau silaturahmi.

Silaturahmi, menurut mantan none Jakarta tahun 1981 tersebut, berasal dari bahasa Arab, yang secara harfiah berarti menyambungkan kasih sayang. Kata shilah berasal dari kata washala yang memiliki makna sampai atau menyambung. Sementara rahim berasal dari akar kata rahima yang memiliki arti kasih sayang, saling berlaku lemah lembut, kekerabatan, atau kekeluargaan.

“Silaturahim juga bermakna menghubungkan mereka yang sebelumnya terputus hubungan atau interaksi, dan memberi kepada orang yang tidak memberi kepada kita,” urainya.

Mengutip al-Qur’an surat an-Nissa ayat 1, Walikota Sylviana mengatakan bahwa memutuskan tali silaturahmi di antara sesama Muslim hukumnya dilarang agama. Bahkan, baik Allah maupun Rasul-Nya sangat mengecam keras bagi siapa yang memutuskan tali silaturahmi tersebut.

Dalam sejumlah hadis, katanya, Rasulullah secara jelas menjelaskan mengenai pentingnya makna silaturahmi bagi umat Islam. Misalnya dalam hadis Muttafaqun ‘Alaih, Rasulullah pernah bersabda, ”Tidak ada satu kebaikan pun yang pahalanya lebih cepat diperoleh daripada silaturahmi, dan tidak aka satu dosa pun yang azabnya lebih cepat diperoleh di dunia, di samping akan diperoleh di akhirat, melebihi kezaliman dan memutuskan tali silaturahmi.” Serta hadis lain yang berbunyi, “Barangsiapa yang suka dilapangkan rezekinya dan dilamakan bekas telapak kakinya (dipanjangkan umurnya), hendaknya ia menyambung tali silaturahmi.

“Karena itu silaturahmi tak lain adalah kunci terbukanya rahmat dan pertolongan Allah SWT,” ujar ibu dua anak dan satu cucu ini.

Di sisi lain ceramahnya, dalam memaknai Idul Fitri dan Halal bi Halal tersebut, Walikota Sylviana juga menekankan perlunya umat Islam mengembangkan lima jenis pikiran di masa depan. Kelima jenis pikiran itu adalah pikiran terdisiplin, pikiran menyintesis, pikiran mencipta, pikiran merespek, dan pikiran etis. “Kelima pikiran tersebut harus tergambar dalam sikap dan perilaku umat Islam di masa depan selepas kita merayakan Idul Fitri sekarang,” kata guru besar ilmu manajemen pendidikan pada Universitas Muhammadiyah Prof Dr Hamka (Uhamka) Jakarta itu. (ns)