Ideologi Radikalisme Pengaruhi Beberapa Mesjid di Solo

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

 

Reporter: Irma Wahyuni

Hotel Ambhara Jakarta, UIN Online – Solo, yang dikenal sebagai kota yang sangat ramah penduduknya dan  halus tutur katanya, ternyata ideologi beberapa Masjid di dalamnya sudah banyak dipengaruhi oleh faham radikalisme.

Hal itu telah dibuktikan oleh para peneliti dari Center for the Study of Religion and Culture (CSRC) UIN Jakarta yang terjun langsung ke Solo selama 4 bulan (September- Desember 2009).

Penelitian dilakukan terhadap masyarakat dan 10 masjid di Solo,  meliputi Masjid Kottabarat, Masjid Al-Islam, Masjid Al-Firdaus, Masjid al-kahfi, Masjid Kampus UNS Nurul Huda, Masjid Komplek Al-Hikmah, Masjid Agung Solo, Masjid Pesantren Jamsaren, Masjid Besar Lawean dan Masjid al-Muttaqien Kartopuran.

“Solo, yang kita kenal sebagai kota yang ramah-ramah penduduknya dengan bahasa jawanya yang sangat halus, ternyata juga radikal. Ini merupakan suatu fenomena yang sangat unik”, kata salah satu peneliti, Irfan Abubakar MA dalam Seminar Hasil Penelitian Pemetaan Ideologi Masjid-Masjid di Solo yang digelar CSRC di Hotel Ambhara Jakarta, Kamis (7/01).

Seminar tersebut dihadiri oleh para peneliti CSRC, Sidney Jones dari International Crisis Group dan Dr Abdul Mufti M Ed  dari IAIN Walisongo. Turut hadir Rektor UIN Prof Dr Komaruddin Hidayat, Ketua Dewan Masjid Indonesia Dr Tarmizi Taher, dan Direktur CSRC Dr Amelia Fauziah.

Menurut para peneliti, penelitian dilakukan dengan cara observasi langsung dan wawancara mendalam terhadap beberapa tokoh masyarakat yang dianggap berpengaruh, seperti aktifis organisasi kemasyarakatan Islam, organisasi kepemudaan pemuda Islam, masjid, dan khatib.

Dalam seminar itu disebutkan beberapa Masjid di Solo yang memiliki level radikalisme yang tinggi adalah masjid-masjid yang terkenal eksklusif dan berafiliasi dengan ormas Islam garis keras, yakni Masjid Gumuk LPIS dan Al-Kahfi, Hidayatullah.

Menurut Irfan, contoh dari implementasi faham radikalisme tersebut di antaranya ada suatu masjid yang sangat dikuasai oleh Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) yang mengklaim keras demokrasi adalah ideologi kafir. Selain itu, faham radikalisme juga memengaruhi beberapa masjid yang berada di wilayah terbuka, di antaranya Masjid al-Muttaqien, Kartoporan.

Rita, salah satu peneliti lapangan dari CSRC yang terlibat dalam penelitian di Solo menambahkan, masjid-masjid yang diasumsikan terbuka dan moderat seperti masjid kampus umum, masjid pesantren tradisional dan masjid komunitas heterogen juga ternyata tak luput dari faham radikalisme meskipun dengan level yang lebih rendah.

 

Ideologi Radikalisme Pengaruhi Beberapa Mesjid di Solo

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

 

Reporter: Irma Wahyuni

Hotel Ambhara Jakarta, UIN Online – Solo, yang dikenal sebagai kota yang sangat ramah penduduknya dan  halus tutur katanya, ternyata ideologi beberapa Masjid di dalamnya sudah banyak dipengaruhi oleh faham radikalisme.

Hal itu telah dibuktikan oleh para peneliti dari Center for the Study of Religion and Culture (CSRC) UIN Jakarta yang terjun langsung ke Solo selama 4 bulan (September- Desember 2009).

Penelitian dilakukan terhadap masyarakat dan 10 masjid di Solo,  meliputi Masjid Kottabarat, Masjid Al-Islam, Masjid Al-Firdaus, Masjid al-kahfi, Masjid Kampus UNS Nurul Huda, Masjid Komplek Al-Hikmah, Masjid Agung Solo, Masjid Pesantren Jamsaren, Masjid Besar Lawean dan Masjid al-Muttaqien Kartopuran.

“Solo, yang kita kenal sebagai kota yang ramah-ramah penduduknya dengan bahasa jawanya yang sangat halus, ternyata juga radikal. Ini merupakan suatu fenomena yang sangat unik”, kata salah satu peneliti, Irfan Abubakar MA dalam Seminar Hasil Penelitian Pemetaan Ideologi Masjid-Masjid di Solo yang digelar CSRC di Hotel Ambhara Jakarta, Kamis (7/01).

Seminar tersebut dihadiri oleh para peneliti CSRC, Sidney Jones dari International Crisis Group dan Dr Abdul Mufti M Ed  dari IAIN Walisongo. Turut hadir Rektor UIN Prof Dr Komaruddin Hidayat, Ketua Dewan Masjid Indonesia Dr Tarmizi Taher, dan Direktur CSRC Dr Amelia Fauziah.

Menurut para peneliti, penelitian dilakukan dengan cara observasi langsung dan wawancara mendalam terhadap beberapa tokoh masyarakat yang dianggap berpengaruh, seperti aktifis organisasi kemasyarakatan Islam, organisasi kepemudaan pemuda Islam, masjid, dan khatib.

Dalam seminar itu disebutkan beberapa Masjid di Solo yang memiliki level radikalisme yang tinggi adalah masjid-masjid yang terkenal eksklusif dan berafiliasi dengan ormas Islam garis keras, yakni Masjid Gumuk LPIS dan Al-Kahfi, Hidayatullah.

Menurut Irfan, contoh dari implementasi faham radikalisme tersebut di antaranya ada suatu masjid yang sangat dikuasai oleh Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) yang mengklaim keras demokrasi adalah ideologi kafir. Selain itu, faham radikalisme juga memengaruhi beberapa masjid yang berada di wilayah terbuka, di antaranya Masjid al-Muttaqien, Kartoporan.

Rita, salah satu peneliti lapangan dari CSRC yang terlibat dalam penelitian di Solo menambahkan, masjid-masjid yang diasumsikan terbuka dan moderat seperti masjid kampus umum, masjid pesantren tradisional dan masjid komunitas heterogen juga ternyata tak luput dari faham radikalisme meskipun dengan level yang lebih rendah.