Aula Madya, BERITA UIN Online— Kaum muda minim literasi keislaman menjadi kelompok paling rentan yang disasar sebaran radikalisasi keagamaan yang melahirkan berbagai aksi terorisme. Psikologi kaum muda yang berada dalam fase pencarian jati diri menambah sebaran ide radikalisasi begitu efektif menyasar mereka.

Demikian disampaikan Yudi Zulfahri S.STP, Direktur Yayasan Jalan Perdamaian, saat menjadi narasumber Diskusi Publik dan Bedah Buku Deradikalisasi Terorisme: Menimbang Perlawanan Muhammadiyah dan Loyalitas Nahdlatul Ulama. Kegiatan digelar di Aula Madya, UIN Jakarta, Kamis (19/4/2018).

Merujuk pengalaman pribadinya, Yudi mengisahkan, dirinya menjadi mudah disasar sebaran radikalisasi menyusul latarbelakang literasi keislamannya yang minim. Pencarian jati diri berupa dorongan ‘berhijrah’ menjadi seorang Muslim yang taat mendorongnya terjebak dalam berbagai aktifitas pengkajian keislaman radikal.

Berbagai kegiatan pengajian ini mendorongnya memiliki keyakinan bahwa keislaman yang paripurna adalah dengan pemurnian tauhid dan hidup dalam manhaj salaf. Apapun luar itu, ia memandangnya sebagai thogut yang harus diperangi.

“Saya yang kuliah di perguruan tinggi pemerintahan dengan wawasan kebangsaan sebagai makanan sehari-hari akhirnya juga berkeyakinan bahwa pemerintah Indonesia adalah bagian dari thogut yang harus diperangi,” kisahnya.

Keyakinan keagamaan seperti demikian, lanjutnya, membawa Yudi terlibat dalam jaringan terorisme pimpinan Dulmatin. Diantara keterlibatannya dalam jaringan ini adalah pelatihan militer para pelaku terorisme di Perbukitan Jalin, Jantho, Aceh, hingga dirinya ditangkap aparat Kepolisian RI pada 22 Februari 2010.

Di tepi lain, Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama DKI Jakarta KH Ahmad Syafi’i Mufid menyatakan, maraknya aksi radikalisasi keagamaan yang berbuntut aksi terorisme termotivasi oleh keyakinan bahwa pemenuhan kewajiban agama (iqomah al-din) baru akan sempurna jika telah mendirikan kekuasaan (iqomah al-daulah) berupa khilafah. Tanpa adanya kekuasaan ini, maka pelaksanaan kewajiban keislaman seperti shalat, puasa, zakat belum dianggap sempurna.

Keyakinan demikian, lanjutnya, bersanding dengan solidaritas saudara seiman yang tertindas baik secara ekonomi maupun politik seperti pengalaman Afghanistan dan Muslim di Myanmar. Realitas ketimpangan ekonomi juga menambah menguatnya sebaran radikalisasi yang melahirkan berbagai aksi teror. “Kondisi ini yang membuat mereka merasa perlu membangunkan Islam Kaaffah,” urainya.

Sementara itu, Direktur SAS Institute Dr. M. Imdadun Rahmat mendorong berbagai elemen civil society Islam melakukan penguatan literasi keislaman moderat (wasathiyah). Literasi keislaman ini diperlukan guna membekali generasi muda memiliki pemahaman keislaman yang memadai sekaligus penghargaan terhadap kebangsaan sehingga tidak mudah terjebak dalam arus radikalisasi. (farah nh/yuni nk/zm)

Share This