Ibnu Faris Miliki Sumbangsih Besar dalam Pengembangan Bahasa Arab

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Gedung Sekolah Pascasarjana, UINJKT Online – Sebagai ahli lingustik Arab klasik, Ibnu Faris memiliki sumbangsih besar dalam melahirkan teori-teori kebahasan. Teori-teori tersebut memiliki banyak persamaan dengan teori-teori yang dihasilkan para linguis modern. Kesimpulan ini menguatkan teori yang dihasilkan Abdul Mujahid dalam al-Dilalah al-Lughawiyyah ‘Inda al-’Arab yang menyatakan bahwa perhatian orang Arab terhadap kajian makna, jauh lebih awal bila dibandingkan dengan Barat yang perhatiannya pada masalah ini baru muncul pada akhir abad ke-19.

Hal itu dikatakan Muhammad Yusuf, dosen Fakultas Adab dan Humaniora, ketika mempertahankan disertasinya berjudul Relasi Tanda Bahasa dan Makna dalam Bahasa Arab: Kajian atas Pemikiran Ibnu Faris dalam al-Shahibi di depan tim penguji, terdiri atas Prof Dr HD Hidayat, Dr Muhammad Lufhfi Zuhdi, Prof Dr Moh Matsna HS, dan Prof Dr Ahmad Syatori Ismail yang diketuai Prof Dr Azyumardi Azra di gedung Sekolah Pascasarjana UIN Jakarta, Kamis (3/7).

Muhammad Yusuf dalam penelitiannya tentang relasi tanda bahasa dan makna dalam bahasa Arab dalam kitab al-Shahibi karya Ibnu Faris, memperoleh kesimpulan bahwa Ibnu Faris merupakan seorang yang menerima adanya sinonim dalam bahasa Arab. Temuan ini, menurutnya, meruntuhkan pendapat para linguis Arab kontemporer, seperti Ahmad Mukhtar ‘Umar, al-Thawwab, dan al-Ziyadi yang memasukkan Ibnu Faris sebagai salah seorang klasik yang menolak adanya sinonim dalam bahasa Arab. “Temuan penelitian ini sebaliknya mendukung pendapat Amin Muhammad Fakhir yang menyatakan bahwa Ibnu Faris adalah seorang yang mengakui adanya sinonim dalam bahasa Arab,” kata Yusuf. Namun, lanjutnya, Fakhir nampaknya belum menjelaskan posisi Ibnu Faris secara mendetail jika dilihat dari perspektif linguistik modern.

“Ibnu Faris memang benar merupakan seorang yang mengakui adanya sinonim dalam bahasa Arab, namun yang dimaksud di sini adalah sinonim proposisional yang terwujud dalam perbedaan dialek seperti kata halafa/aqsama dan sinonim menyepi seperti arada/raghiba fi,” jelasnya.

Sementara itu, jika mengenai sinonim mutlak, pendapat Ibnu Faris tak jauh berbeda dengan linguis-linguis modern, baik Barat seperti Cruse dan Lyons maupun Arab seperti al-Thawwab dan Ya’kub. Mereka menyatakan bahwa sinonim mutlak merupakan barang mahal yang sangat sulit untuk dihidangkan oleh suatu bahasa.

Muhammad Yusuf dalam ujian promosi tersebut memperoleh predikat cumlaude dengan IPK 3,66. Ia merupakan doktor ke-563 sejak Sekolah Pascasarjana didirikan tahun 1982.

Ibnu Faris Miliki Sumbangsih Besar dalam Pengembangan Bahasa Arab

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Gedung Sekolah Pascasarjana, UINJKT Online – Sebagai ahli lingustik Arab klasik, Ibnu Faris memiliki sumbangsih besar dalam melahirkan teori-teori kebahasan. Teori-teori tersebut memiliki banyak persamaan dengan teori-teori yang dihasilkan para linguis modern. Kesimpulan ini menguatkan teori yang dihasilkan Abdul Mujahid dalam al-Dilalah al-Lughawiyyah ‘Inda al-’Arab yang menyatakan bahwa perhatian orang Arab terhadap kajian makna, jauh lebih awal bila dibandingkan dengan Barat yang perhatiannya pada masalah ini baru muncul pada akhir abad ke-19.

Hal itu dikatakan Muhammad Yusuf, dosen Fakultas Adab dan Humaniora, ketika mempertahankan disertasinya berjudul Relasi Tanda Bahasa dan Makna dalam Bahasa Arab: Kajian atas Pemikiran Ibnu Faris dalam al-Shahibi di depan tim penguji, terdiri atas Prof Dr HD Hidayat, Dr Muhammad Lufhfi Zuhdi, Prof Dr Moh Matsna HS, dan Prof Dr Ahmad Syatori Ismail yang diketuai Prof Dr Azyumardi Azra di gedung Sekolah Pascasarjana UIN Jakarta, Kamis (3/7).

Muhammad Yusuf dalam penelitiannya tentang relasi tanda bahasa dan makna dalam bahasa Arab dalam kitab al-Shahibi karya Ibnu Faris, memperoleh kesimpulan bahwa Ibnu Faris merupakan seorang yang menerima adanya sinonim dalam bahasa Arab. Temuan ini, menurutnya, meruntuhkan pendapat para linguis Arab kontemporer, seperti Ahmad Mukhtar ‘Umar, al-Thawwab, dan al-Ziyadi yang memasukkan Ibnu Faris sebagai salah seorang klasik yang menolak adanya sinonim dalam bahasa Arab. “Temuan penelitian ini sebaliknya mendukung pendapat Amin Muhammad Fakhir yang menyatakan bahwa Ibnu Faris adalah seorang yang mengakui adanya sinonim dalam bahasa Arab,” kata Yusuf. Namun, lanjutnya, Fakhir nampaknya belum menjelaskan posisi Ibnu Faris secara mendetail jika dilihat dari perspektif linguistik modern.

“Ibnu Faris memang benar merupakan seorang yang mengakui adanya sinonim dalam bahasa Arab, namun yang dimaksud di sini adalah sinonim proposisional yang terwujud dalam perbedaan dialek seperti kata halafa/aqsama dan sinonim menyepi seperti arada/raghiba fi,” jelasnya.

Sementara itu, jika mengenai sinonim mutlak, pendapat Ibnu Faris tak jauh berbeda dengan linguis-linguis modern, baik Barat seperti Cruse dan Lyons maupun Arab seperti al-Thawwab dan Ya’kub. Mereka menyatakan bahwa sinonim mutlak merupakan barang mahal yang sangat sulit untuk dihidangkan oleh suatu bahasa.

Muhammad Yusuf dalam ujian promosi tersebut memperoleh predikat cumlaude dengan IPK 3,66. Ia merupakan doktor ke-563 sejak Sekolah Pascasarjana didirikan tahun 1982.