Ibadah Kepada Allah Punya Ciri Khas

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone


Reporter: Hamzah Farihin

 

Masjid Al Jamiah, UINJKT Online - Ibadah kepada Allah SWT dalam agama Islam mempunyai ciri khas yang sangat berbeda, di mana perbedaan itu terletak pada sisi pelaksanaan, ada yang langsung berhubungan dengan Allah SWT dan ada pula yang melalui perantara manusia atau yang lainnya.

 

“Ciri khas itu dapat dilihat misalnya ibadah yang langsung pada Allah di antaranya shalat lima waktu, puasa dan ibadah haji, sedangkan yang melalui perantara contohnya perkataan di saat ngobrol dengan orang lain dan perbuatan yang dilakukan setiap hari,” ujar Dr Abdul Rauf saat memberikan tausyahnya pada sivitas akademika dalam Khutbah Jumat di Masjid Al Jamiah Student Center, Jumat (12/6).

 

Menurutnya, ibadah merupakan perintah Allah SWT yang harus dilakukan manusia dan Jin setiap saatnya, kapan saja dan di mana saja dan hal itu tujuan manusia serta jin diciptakan Allah SWT, karena sudah menjadi ketetapannya. Hal ini seperti tertuang dalam Al Quran surat Adz-Dzariyat ayat 56.

Adapun ibadah yang langsung kepada Allah atau mahdah yaitu ibadah inti yang ketentuannya sudah ditetapkan syariat syarat dan rukun yang membatalkannya. Sedangkan ibadah yang melalui perantara atau ghairu mahdah ada dalilnya, akan tetapi pelaksanaannya diserahkan pada umat. Dan ibadah ghairu mahdah ini biasanya lebih ke habluminannas, muamalah, hubungan antar manusia, sehingga pelaksanaan bisa berubah wujudnya walaupun esensinya sama yaitu ibadah.

 

Untuk ibadah ghairu mahdah lanjut dia, tata caranya tidak seketat ibadah mahdah, akan tetapi untuk ibadah ghairu mahdah ada dalilnya yaitu berupa Al Quran, perkataan dan perbuatan Muhammad SAW.

 

Allah SWT memberikan perintah beribadah pada makhluknya tidak memberatkan, misal pada shalat lima waktu yang merupakan ibadah mahdah. Seandainya seseorang sakit akan tetapi harus melaksanakan shalat, Allah SWT membolehkannya dengan duduk, jika tidak bisa dengan berbaring, masih tidak bisa juga dengan tiduran dan yang bergerak tangan atau kedipan mata. Hal ini  keringan Allah SWT dalam menjalankan perintahnya.

 

Sedangkan ibadah ghairu mahdah, misal dengan perkataan yang baik, dan bermanfaat buat orang lain sudah termasuk ibadah, begitu pula dengan perbuatan yang bermanfaat sudah termasuk ibadah.

 

“Sesungguhnya kedua ibadah ini kita punya kesempatan untuk melakukannya, baik itu mahasiswa, dosen, pejabat dan yang lainnya dapat pahala yang sama di mata Allah SWT,” tutur dosen Fakultas Syariah dan Hukum. []

Ibadah Kepada Allah Punya Ciri Khas

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone


Reporter: Hamzah Farihin

 

Masjid Al Jamiah, UINJKT Online - Ibadah kepada Allah SWT dalam agama Islam mempunyai ciri khas yang sangat berbeda, di mana perbedaan itu terletak pada sisi pelaksanaan, ada yang langsung berhubungan dengan Allah SWT dan ada pula yang melalui perantara manusia atau yang lainnya.

 

“Ciri khas itu dapat dilihat misalnya ibadah yang langsung pada Allah di antaranya shalat lima waktu, puasa dan ibadah haji, sedangkan yang melalui perantara contohnya perkataan di saat ngobrol dengan orang lain dan perbuatan yang dilakukan setiap hari,” ujar Dr Abdul Rauf saat memberikan tausyahnya pada sivitas akademika dalam Khutbah Jumat di Masjid Al Jamiah Student Center, Jumat (12/6).

 

Menurutnya, ibadah merupakan perintah Allah SWT yang harus dilakukan manusia dan Jin setiap saatnya, kapan saja dan di mana saja dan hal itu tujuan manusia serta jin diciptakan Allah SWT, karena sudah menjadi ketetapannya. Hal ini seperti tertuang dalam Al Quran surat Adz-Dzariyat ayat 56.

Adapun ibadah yang langsung kepada Allah atau mahdah yaitu ibadah inti yang ketentuannya sudah ditetapkan syariat syarat dan rukun yang membatalkannya. Sedangkan ibadah yang melalui perantara atau ghairu mahdah ada dalilnya, akan tetapi pelaksanaannya diserahkan pada umat. Dan ibadah ghairu mahdah ini biasanya lebih ke habluminannas, muamalah, hubungan antar manusia, sehingga pelaksanaan bisa berubah wujudnya walaupun esensinya sama yaitu ibadah.

 

Untuk ibadah ghairu mahdah lanjut dia, tata caranya tidak seketat ibadah mahdah, akan tetapi untuk ibadah ghairu mahdah ada dalilnya yaitu berupa Al Quran, perkataan dan perbuatan Muhammad SAW.

 

Allah SWT memberikan perintah beribadah pada makhluknya tidak memberatkan, misal pada shalat lima waktu yang merupakan ibadah mahdah. Seandainya seseorang sakit akan tetapi harus melaksanakan shalat, Allah SWT membolehkannya dengan duduk, jika tidak bisa dengan berbaring, masih tidak bisa juga dengan tiduran dan yang bergerak tangan atau kedipan mata. Hal ini  keringan Allah SWT dalam menjalankan perintahnya.

 

Sedangkan ibadah ghairu mahdah, misal dengan perkataan yang baik, dan bermanfaat buat orang lain sudah termasuk ibadah, begitu pula dengan perbuatan yang bermanfaat sudah termasuk ibadah.

 

“Sesungguhnya kedua ibadah ini kita punya kesempatan untuk melakukannya, baik itu mahasiswa, dosen, pejabat dan yang lainnya dapat pahala yang sama di mata Allah SWT,” tutur dosen Fakultas Syariah dan Hukum. []