Yogyakarta, BERITA UIN Online— Kepala Sub Bagian Dokumentasi dan Publikasi UIN Jakarta Feni Arifiani MH mengikuti workshop Membangun Branding Syariah PTKIN, Selasa-Jumat (10-13/04), bertempat di Hotel Cavinton Yogyakarta.

Acara yang diselenggarakan atas kerjasama Biro Humas, Data, dan Informasi Sekretariat Jenderal Kementerian Agama dengan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ini, diikuti seluruh pimpinan humas PTKIN se-Indonesia, dan dibuka secara resmi oleh Rektor UIN Yogyakarta Prof Yudian Wahyudi.

Dalam sambutannya, rektor mengapresiasi terselenggaranya kegiatan tersebut. Dirinya berharap kepada seluruh peserta untuk dapat mengikuti dan mengambil ilmu sebanyak-banyaknya dari materi yang disampaikan para narasumber.

“Syarat utama hidup di dunia ini adalah ilmu. Ilmu merupakan alat terkuat untuk beradaptasi dengan perubahan yang semakin cepat. Kadang kita tidak bisa bedakan antara promosi dengan takabbur. Bangsa Indonesia itu lemah dipromosi. Hukum dunia itu positif dan negatif sekaligus,” ujarnya.

Untuk itu, masih menurut rektor, sebuah institusi harus memiliki branding yang sederhana dan menyenangkan. Tentu ukurannya selaras dengan budaya lokal. Tak kalah penting adalah PTKIN mesti akrab dengan digital teknologi.

Pengertian Brand Equity

Ada banyak sekali pengetahuan yang harus diserap oleh seorang marketer, namun terkadang mereka menyepelekan tentang brand equity. Padahal, mereka harus tahu bagaimana membangun serta memperkuat sebuah brand karena dengan itulah bisnis apapun yang mereka jalankan akan sukses.

Ada banyak sekali pakar marketing yang memberikan definisi tentang Brand Equity. Namun, setidaknya ada dua peran penting dari sebuah brand. Yang pertama, brand sebagai identitas. Masyarakat sekarang ini sudah tidak perlu berpikir panjang untuk menentukan lambang apakah “F” berwarna biru yang biasa muncul di interent karena sekali mereka melihat maka mereka langsung tahu bahwa itu adalah lambang Facebook. Ini hanya salah satu contoh betapa Mark Zuckerberg sangat memperhatikan Brand Equity karena ia tidak perlu terus menerus menjelaskan apa itu Facebook. Orang akan langsung tahu walaupun hanya ada satu huruf “F”. itulah mengapa brand itu dianggap sebagai identitas.

Kedua, brand berperan sebagai pengendali pasar. Apakah Anda tahu kenapa para wisatawan yang berlibur di Jogja kebanyakan memburu pakaian Dagadu? Karena yang ada dibenak mereka, Dagadu merupakan brand pakaian khas Kota Jogjakarta. Padahal, tahukah Anda ada banyak sekali brand yang tidak kalah bagus selain Dagadu di Jogjakarta? Atau contoh lain ketika anda ke Bali apakah anda tahu brand kaos lain selain Joger? nah itu dia artinya masing-masing brand tersebut (Dagadu maupun Joger) sudah memiliki brand equity yang sangat kuat. Hal ini persis seperti apa yang dikatakan Prof. Kevin Keller (Osborn Professor of Marketing) tentang definisi brand equity: Brand equity adalah keinginan dari seseorang untuk melanjutkan menggunakan suatu brand atau tidak.

Dari paparan singkat tersebut di atas, jelaslah sudah bahwa membangun Brand Equity itu sangat penting. Dari dua peran penting tersebut, Hermawan Kertajaya, seorang pakar pemasaran asal Indonesia mendifinisikan Brand Equity sebagai aset yang menciptakan value bagi pelanggan dengan meningkatkan kepuasan dan menghargai kualitas (sumber, buku Hermawan Kartajaya on Brand (Seri 9 Elemen Marketing #1))

Dari definisi tersebut, ada dua hal yang sangat harus Anda garis bawahi; yaitu meningkatkan kepuasan dan menghargai kualitas. Mengingkatkan kepuasan artinya bagi pemilik brand, tidak ada kata ‘selesai’ untuk berinovasi karena hanya dengan selalu berinovasilah mereka bisa selalu memuaskan pelanggan. Dan yang kedua, menghargai kualitas.

Membangun Merek yang Kuat Dengan Brand Equity

Philip Kotler dan Keller mendefinisikan brand equity sebagai sejumlah aset yang berhubungan dengan merek, nama, dan simbol, yang dapat mempengaruhi nilai sebuah produk serta memberikan manfaat bagi pelanggan.

Ekuitas merek adalah nilai tambah yang diberikan pada produk dan jasa. Nilai ini dapat dicerminkan dalam cara konsumen berpikir, merasa, dan bertindak terhadap merek, harga, dan profitabilitas yang dimiliki perusahaan. Ini menggambarkan peran merek yang tidak hanya sebagai representasi dari produk yang dimiliki, tapi juga harus dapat berfungsi untuk menciptakan nilai bagi pelanggan.

Manfaat brand equity bagi pelanggan adalah untuk memberikan keyakinan pelanggan terhadap merek, meningkatkan keyakinan pelanggan dalam keputusan pembelian, dan meningkatkan kepuasan mereka dalam menggunakan produk atau jasa.

Manfaat brand equity bagi perusahaan atau lembaga adalah untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas program pemasaran perusahaan/lembaga, meningkatkan kesetiaan terhadap merek, meningkatkan harga keuntungan, meningkatkan keunggulan bersaing. Brand equity yang kuat akan lebih mudah dalam mendongkrak produk atau unit lain dari perusahaan.

Demikian penjelasan singkat tentang membangun merek (brand) yang kuat dengan brand equity. Hal tersebut, kiranya dapat diaplikasikan dalam sebuah perguruan tinggi dengan branding syariah. Dengan hal tersebut, maka PTKIN memiliki identitas diri yang kuat dan diharapkan mampu memuaskan konsumen (stakeholder) yaitu masyarakat. (lrf)