Homo Festivus

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone
MARI amati apa saja yang dilakukan manusia di seantero jagad? Salah satunya adalah mengadakan festival. Sebuah pesta perayaan dengan beragam pertunjukan dan permainan. Ada yang sifatnya religius dan ada pula yang non-religius. Tetapi semuanya memiliki kemiripan. Yaitu aktivitas sosial yang bersifat massal, warna-warni, untuk mengenang dan mengawetkan nilai-nilai yang dijunjung tinggi oleh masyarakat sebagai penguat diri menatap hari esuk.  Dalam konteks kehidupan bernegara, sangat banyak acara pesta dan perayaan yang diselenggarakan dengan beaya yang amat tinggi. Misalnya upacara peringatan hari kemerdekaan dan upacara lain yang secara rutin diagendakan oleh negara. Bahkan yang namanya pemilihan umum pun sesungguhnya merupakan pesta rakyat, pesta demokrasi dan ritual bernegara yang secara teoritis diselenggarakan setiap lima tahunan.

Layaknya sebuah festival, maka dalam pemilu pasti muncul keragaman. Tanpa adanya keragaman dan keramaian maka bukan festival. Lihat saja suasana pemilu. Beragam partai, tanda gambar, panggung kampanye, dan seni membujuk calon pemilih kesemuanya dikemas dan ditampilkan sedemikian rupa sehingga suasana menjadi hingar bingar. Sejak dari goyang dangdut, taushiyah agama, bagi kaos dan makanan sampai janji-janji pembangunan ditawarkan agar rakyat terpikat. Meriah, indah, norak, lucu, cerdas, heboh, memalukan, simpatik dan entah apa lagi semuanya ada dan ditampilkan dalam pesta pemilu. Layaknya menonton opera sabun, kita diajak untuk jangan terlalu kritis agar bisa menikmati tontonan.

Ragam Festifal Kehidupan

Negara, umat beragama dan masyarakat senang sekali menyelenggarakan festival. Dalam festival selalu terdapat ritual untuk mengenang dan menampilkan tokoh dan peristiwa-peristiwa penting di masa lalu agar nilai dan pesan yang terkandung tetap aktual. Di lingkungan umat Islam, acara haji merupakan festival tahunan yang tergolong akbar. Di situ terasa sekali adanya unsur keragaman etnis, suku dan bangsa. Ada lagi ritual layaknya bermain-main, namun karena diberi makna spiritual maka ungkapan “bermain” menjadi tidak tepat meskipun secara lahiriah kesan itu tetap ada. Lihat saja, bagaimana mereka membuat tenda seperti pramuka menyelengarakan camping. Pakaiannya pun memiliki disain yang khas. Ada lagi adegan mencari batu kerikil lalu ramai-ramai melempar tugu, symbol sosok syaitan. Dan masih banyak adegan lain dalam ibadah haji yang bagi umat Islam memiliki makna yang sangat spiritual, namun bagi orang lain yang tidak beragama bisa jadi akan dipandang tak lebih sebagai tradisi festival agama yang sangat fenomenal.

Festival serupa tentu akan dijumpai dalam tradisi agama lain karena salah satu ciri agama adalah sikapnya yang konsisten menjaga tradisi dalam bentuk ritual dan festival. Dalam festival selalu terdapat simbol-simbol yang dijadikan sarana untuk mengekspresikan idea, gagasan dan emosi serta memiliki fungsi untuk mengikat komunitas pendukungnya. Oleh karena itu semua agama mesti memiliki simbol-simbol yang disakralkan.

Yang tidak kalah fenomenalnya adalah festival olahraga semisal perebutan juara sepak bola dunia. Masing-masing group memiliki simbol bendera dan warna yang khas yang kemudian menjadi pengikat para pendukungnya. Makanya dalam festival pertandingan bola selalu tampak warna-warni, gegap gempita, euphoria, di luar persoalan kalah atau menang. Di situ nilai-nilai sportivitas dan persahabatan sangat dijunjung tinggi agar tidak merusak suasana festival.

Karena festival merupakan agenda peradaban dari zaman ke zaman, meski bentuk dan materinya beragam, maka siapapun yang mengganggu jalannya festival dianggap mengkhianati nilai-nilai sejarah dan sosial. Oleh karena itu dalam ranah sepak bola dunia hukumannya sangat tegas dan keras bagi siapa yang merusak aturan dan keindahan pertandingan. Dalam ranah agama dikenal istilah dosa dan batal ibadahnya kalau tidak taat aturan yang standar.

Bayangkan kalau kehidupan manusia tidak ada festival, hidup pasti akan menjemukan. Kegiatan hidup yang berlangsung monoton tanpa ada selingan perayaan sangat tidak menarik dijalani. Manusia lalu menjadi mesin. Dalam kehidupan berkeluarga pun mesti ada selingan festival, entah besar atau kecil. Sekali-sekali ada perayaan ulangtahun, pesta pindah rumah, syukuran kelahiran bayi, pesta pernikahan dan sekian acara ritual keluarga lain.

Tetapi hidup terlalu banyak dengan acara festival dan  hura-hura juga tidak sehat. Mubazir. Terlebih ketika aspek kedamaian, keindahan dan kecerdasan hilang dari panggung festival, maka panggung kehidupan yang diharapkan menjadi tempat bersosialisasi, hiburan dan menghidupkan kembali kebajikan lama untuk bekal membangun hari esuk akan berubah menjadi kekonyolan. Bahkan bisa menjadi ajang konflik dan perkelahian. Itulah yang kadang terjadi ketika muncul holiganisme. Dan itu bisa terjadi dalam berbagai panggung festival, termasuk festival pemilu. Oleh karena itu perlu dicegah munculnya premanisme dan holiganisme politik.

Mereka itu orang-orang yang tidak siap kalah dan menang. Ketika menang akan sombong dan ketika kalah akan mengamuk. Masyarakat nusantara ini sesungguhnya  senang pada festival budaya dan agama. Sekian banyak etnis, suku dan agama masing-masing memiliki tradisi pesta dan festival yang unik. Jika ini semua dikelola dengan cerdas maka akan menjadi kekayaan bangsa, bahkan menjadi sumber devisa. Tetapi kalau tidak, asset itu akan menguap dan hilang.

Kini kita memiliki tradisi baru, terutama festival pilkada dan pemilu. Sehingga bangsa ini sah-sah saja disebut sebagai negera pilkada. Namun perlu juga dicermati, apakah semua ini berlangsung sebagai festival politik yang indah, menyenangkan dan memberikan pengharapan untuk perbaikan bangsa ini ke depan ataukah hanya sekedar gegap gempita  dengan beaya yang sangat mahal namun tidak memberikan hasil yang kita harapkan.

Lebih menyakitkan lagi kalau festival kolosal ini malah berubah menjadi ajang konflik dan perkelahian akibat tampilnya premanisme dan holiganisme politik dikarenakan tidak siap kalah, atau mereka yang mengaku menang namun bermain secara culas dan curang. Semoga kita bisa menjaga suasana festival pemilu ini dengan aman, damai dan menghibur.*                  

           

             

Homo Festivus

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone
MARI amati apa saja yang dilakukan manusia di seantero jagad? Salah satunya adalah mengadakan festival. Sebuah pesta perayaan dengan beragam pertunjukan dan permainan. Ada yang sifatnya religius dan ada pula yang non-religius. Tetapi semuanya memiliki kemiripan. Yaitu aktivitas sosial yang bersifat massal, warna-warni, untuk mengenang dan mengawetkan nilai-nilai yang dijunjung tinggi oleh masyarakat sebagai penguat diri menatap hari esuk.  Dalam konteks kehidupan bernegara, sangat banyak acara pesta dan perayaan yang diselenggarakan dengan beaya yang amat tinggi. Misalnya upacara peringatan hari kemerdekaan dan upacara lain yang secara rutin diagendakan oleh negara. Bahkan yang namanya pemilihan umum pun sesungguhnya merupakan pesta rakyat, pesta demokrasi dan ritual bernegara yang secara teoritis diselenggarakan setiap lima tahunan.

Layaknya sebuah festival, maka dalam pemilu pasti muncul keragaman. Tanpa adanya keragaman dan keramaian maka bukan festival. Lihat saja suasana pemilu. Beragam partai, tanda gambar, panggung kampanye, dan seni membujuk calon pemilih kesemuanya dikemas dan ditampilkan sedemikian rupa sehingga suasana menjadi hingar bingar. Sejak dari goyang dangdut, taushiyah agama, bagi kaos dan makanan sampai janji-janji pembangunan ditawarkan agar rakyat terpikat. Meriah, indah, norak, lucu, cerdas, heboh, memalukan, simpatik dan entah apa lagi semuanya ada dan ditampilkan dalam pesta pemilu. Layaknya menonton opera sabun, kita diajak untuk jangan terlalu kritis agar bisa menikmati tontonan.

Ragam Festifal Kehidupan

Negara, umat beragama dan masyarakat senang sekali menyelenggarakan festival. Dalam festival selalu terdapat ritual untuk mengenang dan menampilkan tokoh dan peristiwa-peristiwa penting di masa lalu agar nilai dan pesan yang terkandung tetap aktual. Di lingkungan umat Islam, acara haji merupakan festival tahunan yang tergolong akbar. Di situ terasa sekali adanya unsur keragaman etnis, suku dan bangsa. Ada lagi ritual layaknya bermain-main, namun karena diberi makna spiritual maka ungkapan “bermain” menjadi tidak tepat meskipun secara lahiriah kesan itu tetap ada. Lihat saja, bagaimana mereka membuat tenda seperti pramuka menyelengarakan camping. Pakaiannya pun memiliki disain yang khas. Ada lagi adegan mencari batu kerikil lalu ramai-ramai melempar tugu, symbol sosok syaitan. Dan masih banyak adegan lain dalam ibadah haji yang bagi umat Islam memiliki makna yang sangat spiritual, namun bagi orang lain yang tidak beragama bisa jadi akan dipandang tak lebih sebagai tradisi festival agama yang sangat fenomenal.

Festival serupa tentu akan dijumpai dalam tradisi agama lain karena salah satu ciri agama adalah sikapnya yang konsisten menjaga tradisi dalam bentuk ritual dan festival. Dalam festival selalu terdapat simbol-simbol yang dijadikan sarana untuk mengekspresikan idea, gagasan dan emosi serta memiliki fungsi untuk mengikat komunitas pendukungnya. Oleh karena itu semua agama mesti memiliki simbol-simbol yang disakralkan.

Yang tidak kalah fenomenalnya adalah festival olahraga semisal perebutan juara sepak bola dunia. Masing-masing group memiliki simbol bendera dan warna yang khas yang kemudian menjadi pengikat para pendukungnya. Makanya dalam festival pertandingan bola selalu tampak warna-warni, gegap gempita, euphoria, di luar persoalan kalah atau menang. Di situ nilai-nilai sportivitas dan persahabatan sangat dijunjung tinggi agar tidak merusak suasana festival.

Karena festival merupakan agenda peradaban dari zaman ke zaman, meski bentuk dan materinya beragam, maka siapapun yang mengganggu jalannya festival dianggap mengkhianati nilai-nilai sejarah dan sosial. Oleh karena itu dalam ranah sepak bola dunia hukumannya sangat tegas dan keras bagi siapa yang merusak aturan dan keindahan pertandingan. Dalam ranah agama dikenal istilah dosa dan batal ibadahnya kalau tidak taat aturan yang standar.

Bayangkan kalau kehidupan manusia tidak ada festival, hidup pasti akan menjemukan. Kegiatan hidup yang berlangsung monoton tanpa ada selingan perayaan sangat tidak menarik dijalani. Manusia lalu menjadi mesin. Dalam kehidupan berkeluarga pun mesti ada selingan festival, entah besar atau kecil. Sekali-sekali ada perayaan ulangtahun, pesta pindah rumah, syukuran kelahiran bayi, pesta pernikahan dan sekian acara ritual keluarga lain.

Tetapi hidup terlalu banyak dengan acara festival dan  hura-hura juga tidak sehat. Mubazir. Terlebih ketika aspek kedamaian, keindahan dan kecerdasan hilang dari panggung festival, maka panggung kehidupan yang diharapkan menjadi tempat bersosialisasi, hiburan dan menghidupkan kembali kebajikan lama untuk bekal membangun hari esuk akan berubah menjadi kekonyolan. Bahkan bisa menjadi ajang konflik dan perkelahian. Itulah yang kadang terjadi ketika muncul holiganisme. Dan itu bisa terjadi dalam berbagai panggung festival, termasuk festival pemilu. Oleh karena itu perlu dicegah munculnya premanisme dan holiganisme politik.

Mereka itu orang-orang yang tidak siap kalah dan menang. Ketika menang akan sombong dan ketika kalah akan mengamuk. Masyarakat nusantara ini sesungguhnya  senang pada festival budaya dan agama. Sekian banyak etnis, suku dan agama masing-masing memiliki tradisi pesta dan festival yang unik. Jika ini semua dikelola dengan cerdas maka akan menjadi kekayaan bangsa, bahkan menjadi sumber devisa. Tetapi kalau tidak, asset itu akan menguap dan hilang.

Kini kita memiliki tradisi baru, terutama festival pilkada dan pemilu. Sehingga bangsa ini sah-sah saja disebut sebagai negera pilkada. Namun perlu juga dicermati, apakah semua ini berlangsung sebagai festival politik yang indah, menyenangkan dan memberikan pengharapan untuk perbaikan bangsa ini ke depan ataukah hanya sekedar gegap gempita  dengan beaya yang sangat mahal namun tidak memberikan hasil yang kita harapkan.

Lebih menyakitkan lagi kalau festival kolosal ini malah berubah menjadi ajang konflik dan perkelahian akibat tampilnya premanisme dan holiganisme politik dikarenakan tidak siap kalah, atau mereka yang mengaku menang namun bermain secara culas dan curang. Semoga kita bisa menjaga suasana festival pemilu ini dengan aman, damai dan menghibur.*