Teater Aqib Suminto, Berita UIN Online— Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) menggelar bedah buku Problematika Komunikasi Politik karya Dr Gun Gun Heryanto, Senin (23/04), bertempat di ruang teater Prof Dr Aqib Suminto lantai 2, Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi (FIDIK) UIN Jakarta.

Hadir dalam acara yang dimulai pukul 13.00-16.00 Wib tersebut, Dosen FISIP UIN Jakarta Iding Rosyidin SAg MSi sebagai pembahas, Dr Lely Arrianie MSi (analis dan dosen sekaligus Ketua Program Magister Ilmu Komunikasi Universitas Bengkulu), serta penulis buku Dr Gun Gun Heryanto MSi (Dosen Komunikasi Politik UIN Jakarta sekaligus Direktur Utama The Political Literacy Institute), kemudian Dirga Maulana SSos sebagai moderator dalam acara tersebut.

Dalam pembahasannya, Dr Lely mengapresiasi dan menyambut baik terbitnya buku yang mengupas tentang berbagai permasalahan yang terjadi dalam ranah komunikasi politik tersebut. Dirinya mengaku, bahwa buku setebal 604 halaman tersebut sarat akan teori-teori yang mampu menjawab sekaligus menjadi solusi atas problematika komunikasi politik yang terjadi belakangan ini.

“Buku ini layak dan harus dibaca oleh mahasiswa komunikasi dan politik khususnya. Tidak hanya itu, bagi kalangan umum pun saya rasa buku ini mampu mencerahkan dan memberi kontribusi keilmuan terutama dalam khazanah komunikasi dan politik,” pungkas Lely.

Di tempat yang sama, Iding Rosyidin mengatakan, bahwa isi buku tersebut mampu mengantarkan ingatan kita pada kasus-kasus di pusaran politik bukan hanya dalam kurun waktu yang sama, akan tetapi pada tahun-tahun yang berbeda.

“Buku ini kaya akan teori. Dalam satu kasus misalnya, penulis mengupas dan membahasnya tidak hanya menggunakan satu teori, dua bahkan tiga teori,” kata Iding.

Masih menurutnya, hal ini membuktikan bahwa, buku tersebut tentunya kaya akan perspektif dan tinjauan, pasalnya banyak teori yang membahasnya, sehiingga membuka cakrawala berfikir para pembaca.

Selain apresiasi yang diungkapkan oleh para pembahas, saran dan masukan pun turut dilontarkan. Lely Arrianie misalnya, dirinya mengatakan bahwa untuk kalangan mahasiswa terutama yang masih tahap awal mengenal ilmu komunikasi politik, bahasa yang digunakan terasa cukup berat. Hal ini didapatkan, sambung Lely, dari pengakuan para mahasiswa ketika membaca buku tersebut.

Menanggapi hal tersebut, penulis menjelaskan dalam pemaparannya, bahwa bahasa yang digunakan merupakan ciri khas atau gaya menulisnya. Dirinya berharap, dengan bahasa yang digunakan dalam buku tersebut mampu menjadi motivasi pembaca, terutama mahasiswa untuk terus membaca sumber-sumber yang lain, dalam rangka memecahkan ketidaktahuannya selama ini, dan menjadi tabungan kekayaan intelektual mahasiswa itu sendiri.

Sebagai informasi, buku Problematika Komunikasi Politik tersebut, secara garis besar mengangkat enam dimensi problematika komunikasi politik. Keenam dimensi tersebut diantaranya, dimensi problematika politik aktor, partai politik, pemerintah, legislatif, media massa dan media sosial, dan yang terakhir problematika kontestasi elektoral.

Dari pantauan BERITA UIN Online di tempat acara terlihat, peserta begitu antusias mengikuti jalannya bedah buku tersebut. Beberapa dari peserta mengajukan pertanyaan dan tanggapan mengenai buku tersebut, sehingga acara berjalan hangat dan interaktif. (lrf)