Hilmi Akmal: Stilistika Menjadi Sebuah Cabang Ilmu

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Reporter: Mukhlis

FITK, UIN Online – Jika sebelumnya stilistika belum menjadi kajian ilmiah, kini stilistika telah menjadi sebuah cabang ilmu yang berasal dari linguistik interdisipliner dan sastra. Hal itu dipaparkan pakar linguistik dan pendiri Linguistics Club Hilmi Akmal MHum pada Seminar Akbar bertema Stilistika: Mengurai Kaitan antara Bahasa dan Sastra, yang diselenggarakan Linguistics Club di Ruang Teater Lantai I Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) Rabu (9/6).

Hilmi menjelaskan, istilah stilistika berasal dari istilah stylistics dalam bahasa Inggris. Istilah stilistika terdiri dari dua kata style dan ics. Stylist adalah pengarang atau pembicara yang baik gaya bahasanya, perancang atau ahli dalam mode. Ics atau ika adalah ilmu, kaji, telaah. Stilistika adalah ilmu gaya atau ilmu gaya bahasa.

“Pada awalnya, sastrawan dan kritikus sastra memanfaatkan pengkajian linguistik terhadap karya sastra. Berbagai anggapan pengkajian demikian akan merusak keindahan seni karya sastra itu,” ungkap Hilmi.

Menurut Hilmi, semakin lama semakin disadari bahwa pendekatan linguistik merupakan salah satu pendekatan yang dapat ditempuh untuk menemukan makna karya sastra. Analisis stilistika berupaya mengganti subyektif dan impresionisme yang digunakan kritikus sastra sebagai pedoman dalam mengkaji karya sastra dengan suatu pengkajian yang relatif lebih obyektif dan ilmiah serta telah menjadi sebuah cabang ilmu.

“Banyak manfaat yang kita dapat dalam menelaah stilistika seperti mendapatkan atau membuktikan ciri-ciri keindahan bahasa yang universal dari segi bahasa dalam karya sastra lebih. Membimbing pembaca menikmati karya sastra dengan baik dan juga dapat membedakan bahasa yang digunakan dalam satu karya sastra dengan karya sastra yang lain,” tambahnya.

Dalam kesempatan yang sama Dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FITK Rosida Erowarti M.Hum mengutarakan hal yang berbeda. Ia mengangkat topik tentang Kwee Tek Howay sastrawan Melayu Tionghoa yang nyaris terlupakan di Nusantara.

“Selama ini jika kita membicarakan masalah sastrawan, yang sering kita dengar hanya itu-itu saja. Banyak sekali tokoh sastra yang terlupakan dan tidak diperdulikan,” kata Rosida. Ia menjelaskan Kwee Tek Howay merupakan salah satu sastrawan yang terlupakan dan bahkan tidak dipedulikan. Padahal  selama nyaris seabad (1870-1960) ia menghasilkan  tidak kurang dari 3.005 karya sastra dengan melibatkan 806 penulis yang jauh melampaui jumlah   karya dan penulis dalam sastra Indonesia Modern.

Ia juga menjelaskan Kwee Tek Howay adalah sastrawan Melayu Tionghoa terkenal dan tokoh ajaran Tridharma (Sam Kauw Hwee). Ia banyak menulis karya sastra, kehidupan sosial, dan agama masyarakat Tionghoa peranakan. Karyanya yang terkenal di antaranya adalah Drama di Boven Digoel, Boenga Roos dari Tjikembang, Atsal Moelahnja Timboel Pergerakan Tionghoa jang Modern di Indonesia, dan Drama dari Krakatau.

Selain diskusi, dalam acara tersebut panitia menyajikan hiburan berupa pembacaan puisi dari beberapa karya Rendra oleh Kitmahdi. Para peserta tampak sangat antusias mendengarkan penuh penghayatan. []

Hilmi Akmal: Stilistika Menjadi Sebuah Cabang Ilmu

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Reporter: Mukhlis

FITK, UIN Online – Jika sebelumnya stilistika belum menjadi kajian ilmiah, kini stilistika telah menjadi sebuah cabang ilmu yang berasal dari linguistik interdisipliner dan sastra. Hal itu dipaparkan pakar linguistik dan pendiri Linguistics Club Hilmi Akmal MHum pada Seminar Akbar bertema Stilistika: Mengurai Kaitan antara Bahasa dan Sastra, yang diselenggarakan Linguistics Club di Ruang Teater Lantai I Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) Rabu (9/6).

Hilmi menjelaskan, istilah stilistika berasal dari istilah stylistics dalam bahasa Inggris. Istilah stilistika terdiri dari dua kata style dan ics. Stylist adalah pengarang atau pembicara yang baik gaya bahasanya, perancang atau ahli dalam mode. Ics atau ika adalah ilmu, kaji, telaah. Stilistika adalah ilmu gaya atau ilmu gaya bahasa.

“Pada awalnya, sastrawan dan kritikus sastra memanfaatkan pengkajian linguistik terhadap karya sastra. Berbagai anggapan pengkajian demikian akan merusak keindahan seni karya sastra itu,” ungkap Hilmi.

Menurut Hilmi, semakin lama semakin disadari bahwa pendekatan linguistik merupakan salah satu pendekatan yang dapat ditempuh untuk menemukan makna karya sastra. Analisis stilistika berupaya mengganti subyektif dan impresionisme yang digunakan kritikus sastra sebagai pedoman dalam mengkaji karya sastra dengan suatu pengkajian yang relatif lebih obyektif dan ilmiah serta telah menjadi sebuah cabang ilmu.

“Banyak manfaat yang kita dapat dalam menelaah stilistika seperti mendapatkan atau membuktikan ciri-ciri keindahan bahasa yang universal dari segi bahasa dalam karya sastra lebih. Membimbing pembaca menikmati karya sastra dengan baik dan juga dapat membedakan bahasa yang digunakan dalam satu karya sastra dengan karya sastra yang lain,” tambahnya.

Dalam kesempatan yang sama Dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FITK Rosida Erowarti M.Hum mengutarakan hal yang berbeda. Ia mengangkat topik tentang Kwee Tek Howay sastrawan Melayu Tionghoa yang nyaris terlupakan di Nusantara.

“Selama ini jika kita membicarakan masalah sastrawan, yang sering kita dengar hanya itu-itu saja. Banyak sekali tokoh sastra yang terlupakan dan tidak diperdulikan,” kata Rosida. Ia menjelaskan Kwee Tek Howay merupakan salah satu sastrawan yang terlupakan dan bahkan tidak dipedulikan. Padahal  selama nyaris seabad (1870-1960) ia menghasilkan  tidak kurang dari 3.005 karya sastra dengan melibatkan 806 penulis yang jauh melampaui jumlah   karya dan penulis dalam sastra Indonesia Modern.

Ia juga menjelaskan Kwee Tek Howay adalah sastrawan Melayu Tionghoa terkenal dan tokoh ajaran Tridharma (Sam Kauw Hwee). Ia banyak menulis karya sastra, kehidupan sosial, dan agama masyarakat Tionghoa peranakan. Karyanya yang terkenal di antaranya adalah Drama di Boven Digoel, Boenga Roos dari Tjikembang, Atsal Moelahnja Timboel Pergerakan Tionghoa jang Modern di Indonesia, dan Drama dari Krakatau.

Selain diskusi, dalam acara tersebut panitia menyajikan hiburan berupa pembacaan puisi dari beberapa karya Rendra oleh Kitmahdi. Para peserta tampak sangat antusias mendengarkan penuh penghayatan. []