Hillary Clinton

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone
Menonton TV mancanegara sepanjang akhir Februari sampai hari-hari Maret ini, saya menyaksikan suatu bentuk baru diplomasi AS dalam kancah internasional. Setelah kunjungannya ke Indonesia dan tiga negara Asia lainnya, Hillary berkeliling di Timur Tengah; Mesir, Tepi Barat, dan Israel, yang kemudian dia lanjutkan ke beberapa negara Eropa. Itulah bagian dari diplomasi baru pemerintahan Barack Obama yang disebut Hillary sebagai smart diplomacy. Ketika berkenalan di holding room Gedung Arsip, Jakarta, sebelum bertemu dan makan malam dengan wakil-wakil civil society sempena kunjungannya ke Indonesia pada 18-19 Februari 2009 lalu, sambil bergurau saya menyatakan dia sangat smart ketika menggunakan istilah smart diplomacy tersebut; bukannya memakai istilah lain semacam offensive diplomacy atau sebaliknya soft diplomacy.

Hillary tidak memberikan definisi akademis tentang smart diplomacy tersebut. Tapi, bagian dari diplomasi seperti itu adalah lebih banyak mendengar daripada banyak bicara (do listening than do talking). Menurut dia, pemerintahan Presiden Obama lebih menekankan untuk mendengarkan aspirasi masyarakat dunia daripada lebih banyak berbicara sesuai kemauan Amerika sendiri kepada masyarakat dunia.

Bagaimana aktualisasi smart diplomacy AS sesungguhnya masih harus kita tunggu dalam langkah-langkah Menlu Hillary Clinton dan Presiden Obama berikutnya. Tetapi, dalam percakapan singkat dengan Hillary dan sepanjang pertemuan makan malam dengannya, saya mendapat kesan: Hillary punya bakat besar untuk mewujudkan diplomasi Amerika yang lebih human. Ia attentive kepada lawan bicaranya; bicara lepas tanpa kesan berhati-hati dan reserved; tidak mengambil jarak yang mengesankan sikap alooft; dan melangkahi protap keamanan, ia mendekati orang-orang yang menyambutnya. Semua ini, menurut saya, betul-betul smart diplomacy.

Sikap lepas dan cenderung bercanda itu juga saya rasakan ketika saya memperkenalkan diri sebagai satu almamater dengan Presiden Obama; saya belajar di Columbia University New York untuk program MA, MPhil, dan PhD, sedangkan Obama mendapatkan gelar BA (S1)-nya dari kampus yang sama. Dengan spontan Hillary berkata: ”Orang-orang mengaku punya koneksi dengan Presiden Obama; apalagi di Indonesia, yang Presiden Obama punya rasa kinship yang khusus dan kuat.

Hillary berulang kali menyatakan hal terakhir ini, bahwa Presiden Obama memiliki perasaan adanya ikatan khusus dengan Indonesia dan rakyatnya, yang begitu kuat memengaruhinya pada masa kanak-kanaknya. Obama sendiri juga berulang kali menyatakan, pengalaman hidupnya di Indonesia turut membentuk nilai-nilai kehidupannya. Dan juga, cara pandangnya terhadap sebuah dunia [Indonesia] di mana orang-orang yang memiliki latar belakang, identitas, dan agama yang berbeda dapat bersatu dalam harapan dan tujuan yang sama.

Hillary jelas memberikan apresiasi yang tinggi pada Indonesia. Dan, dia mendengar dari berbagai pihak tentang bagaimana di Indonesia, kaum Muslimin terus melakukan berbagai upaya untuk melanjutkan tradisi Islam yang toleran dan embracing (merangkul). Dengan corak Islam seperti itu, Hillary selalu teringat bahwa inilah salah satu kontribusi terpenting yang dapat diberikan Indonesia, bukan hanya kepada dunia Islam, tetapi kepada keseluruhan dunia atas dasar kemanusiaan yang sama.

Hillary juga memberikan penghargaan pada Indonesia atas peran semakin besar yang dimainkan kaum perempuan pada berbagai level masyarakat. Pengakuan terhadap peranan yang dapat dimainkan kaum perempuan, dan berbagai kesempatan bagi kaum perempuan untuk memikul tanggung jawab kepemimpinan, juga merupakan sebuah kontribusi lain yang sedang diberikan Indonesia kepada dunia.

Dengan apresiasi yang tinggi seperti itu, Hillary kemudian seolah memosisikan dirinya sebagai ‘juru bicara’ Indonesia. Seperti terlihat dalam pernyataannya: ”Ketika saya mengadakan perjalanan keliling dunia dalam tahun-tahun mendatang, saya bakal selalu menyatakan kepada orang-orang; jika anda ingin tahu tentang apakah Islam, demokrasi, modernitas, dan hak-hak kaum perempuan, maka datanglah ke Indonesia.”

Bagi sebagian orang, pernyataan Hillary itu bisa dianggap berlebihan. Tetapi, Hillary jelas adalah orang yang menyaksikan banyak masyarakat lain, yang pernah ia kunjungi sejak masa-masa ia merupakan first lady Amerika ketika suaminya, Bill Clinton, menjadi presiden AS. Karena itu, banyak kebenaran terkandung dalam pernyataannya. Namun jelas pula, masih banyak yang harus dilakukan seluruh masyarakat kita untuk terus memperkuat dan memberdayakan distingsi Indonesia agar negara ini dapat memberikan kontribusi lebih besar bagi masyarakat dunia.

 
Tulisan ini pernah dimuat di Republika,12 Februari 2009

Penulis adalah Direktur Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Hillary Clinton

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone
Menonton TV mancanegara sepanjang akhir Februari sampai hari-hari Maret ini, saya menyaksikan suatu bentuk baru diplomasi AS dalam kancah internasional. Setelah kunjungannya ke Indonesia dan tiga negara Asia lainnya, Hillary berkeliling di Timur Tengah; Mesir, Tepi Barat, dan Israel, yang kemudian dia lanjutkan ke beberapa negara Eropa. Itulah bagian dari diplomasi baru pemerintahan Barack Obama yang disebut Hillary sebagai smart diplomacy. Ketika berkenalan di holding room Gedung Arsip, Jakarta, sebelum bertemu dan makan malam dengan wakil-wakil civil society sempena kunjungannya ke Indonesia pada 18-19 Februari 2009 lalu, sambil bergurau saya menyatakan dia sangat smart ketika menggunakan istilah smart diplomacy tersebut; bukannya memakai istilah lain semacam offensive diplomacy atau sebaliknya soft diplomacy.

Hillary tidak memberikan definisi akademis tentang smart diplomacy tersebut. Tapi, bagian dari diplomasi seperti itu adalah lebih banyak mendengar daripada banyak bicara (do listening than do talking). Menurut dia, pemerintahan Presiden Obama lebih menekankan untuk mendengarkan aspirasi masyarakat dunia daripada lebih banyak berbicara sesuai kemauan Amerika sendiri kepada masyarakat dunia.

Bagaimana aktualisasi smart diplomacy AS sesungguhnya masih harus kita tunggu dalam langkah-langkah Menlu Hillary Clinton dan Presiden Obama berikutnya. Tetapi, dalam percakapan singkat dengan Hillary dan sepanjang pertemuan makan malam dengannya, saya mendapat kesan: Hillary punya bakat besar untuk mewujudkan diplomasi Amerika yang lebih human. Ia attentive kepada lawan bicaranya; bicara lepas tanpa kesan berhati-hati dan reserved; tidak mengambil jarak yang mengesankan sikap alooft; dan melangkahi protap keamanan, ia mendekati orang-orang yang menyambutnya. Semua ini, menurut saya, betul-betul smart diplomacy.

Sikap lepas dan cenderung bercanda itu juga saya rasakan ketika saya memperkenalkan diri sebagai satu almamater dengan Presiden Obama; saya belajar di Columbia University New York untuk program MA, MPhil, dan PhD, sedangkan Obama mendapatkan gelar BA (S1)-nya dari kampus yang sama. Dengan spontan Hillary berkata: ”Orang-orang mengaku punya koneksi dengan Presiden Obama; apalagi di Indonesia, yang Presiden Obama punya rasa kinship yang khusus dan kuat.

Hillary berulang kali menyatakan hal terakhir ini, bahwa Presiden Obama memiliki perasaan adanya ikatan khusus dengan Indonesia dan rakyatnya, yang begitu kuat memengaruhinya pada masa kanak-kanaknya. Obama sendiri juga berulang kali menyatakan, pengalaman hidupnya di Indonesia turut membentuk nilai-nilai kehidupannya. Dan juga, cara pandangnya terhadap sebuah dunia [Indonesia] di mana orang-orang yang memiliki latar belakang, identitas, dan agama yang berbeda dapat bersatu dalam harapan dan tujuan yang sama.

Hillary jelas memberikan apresiasi yang tinggi pada Indonesia. Dan, dia mendengar dari berbagai pihak tentang bagaimana di Indonesia, kaum Muslimin terus melakukan berbagai upaya untuk melanjutkan tradisi Islam yang toleran dan embracing (merangkul). Dengan corak Islam seperti itu, Hillary selalu teringat bahwa inilah salah satu kontribusi terpenting yang dapat diberikan Indonesia, bukan hanya kepada dunia Islam, tetapi kepada keseluruhan dunia atas dasar kemanusiaan yang sama.

Hillary juga memberikan penghargaan pada Indonesia atas peran semakin besar yang dimainkan kaum perempuan pada berbagai level masyarakat. Pengakuan terhadap peranan yang dapat dimainkan kaum perempuan, dan berbagai kesempatan bagi kaum perempuan untuk memikul tanggung jawab kepemimpinan, juga merupakan sebuah kontribusi lain yang sedang diberikan Indonesia kepada dunia.

Dengan apresiasi yang tinggi seperti itu, Hillary kemudian seolah memosisikan dirinya sebagai ‘juru bicara’ Indonesia. Seperti terlihat dalam pernyataannya: ”Ketika saya mengadakan perjalanan keliling dunia dalam tahun-tahun mendatang, saya bakal selalu menyatakan kepada orang-orang; jika anda ingin tahu tentang apakah Islam, demokrasi, modernitas, dan hak-hak kaum perempuan, maka datanglah ke Indonesia.”

Bagi sebagian orang, pernyataan Hillary itu bisa dianggap berlebihan. Tetapi, Hillary jelas adalah orang yang menyaksikan banyak masyarakat lain, yang pernah ia kunjungi sejak masa-masa ia merupakan first lady Amerika ketika suaminya, Bill Clinton, menjadi presiden AS. Karena itu, banyak kebenaran terkandung dalam pernyataannya. Namun jelas pula, masih banyak yang harus dilakukan seluruh masyarakat kita untuk terus memperkuat dan memberdayakan distingsi Indonesia agar negara ini dapat memberikan kontribusi lebih besar bagi masyarakat dunia.

 
Tulisan ini pernah dimuat di Republika,12 Februari 2009

Penulis adalah Direktur Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta