Hatta Rajasa: Nilai Agama Harus Jadi Pilar Bangsa

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Reporter: Hamzah Farihin

Auditorium, Berita UIN Online Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Ir M Hatta Rajasa mengatakan, dalam dunia peradaban baru saat ini, hidup berbangsa dan bernegara harus mengintroduksi agama, yakni bagaimana nilai-nilai agama dapat menjadi pilar bangsa. Pasalnya, saat ini cenderung nilai-nilai agama diabaikan yang mengakibatkan bobroknya suatu institusi.

Hal itu dikatakan Hatta Rajasa dalam pidato tertulis Halal bil Halal Keluarga Besar UIN Jakarta yang dibacakan Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan SE MM di Auditorium Prof Dr Harun Nasution, Kamis (8/9).

“Kalau kita lihat sejarah pada abad ketujuh, Islam telah memainkan peran yang signifikan dalam peradaban dunia, hingga akhirnya disebut the golden ages. Saat itu, peradaban Islam sangat pesat mulai dari bidang ilmu kedokteran, ilmu kimia, ilmu astronomi, hingga ilmu filsafat dan ilmu sejarah. Untuk itu saatnya kita bangkitkan kembali peradaban Islam yang dulu pernah jaya di abad modern ini” katanya.

Dengan hal itu, lanjut dia, semangat Islam saat ini meski dibangkitkan kembali dengan beberapa cara. Misalnya berkompetisi dan berinovasi di berbagai aspek dalam kehidupan berbangsa dan bernegara dengan mengkajinya kembali, seperti  menciptakan pusat keunggulan riset dan kajian-kajian keislaman.

Hatta juga mengajak kepada sivitas akademika agar kajian-kajian Islam dapat digerakkan kembali, guru-guru agama, serta para peneliti terus ditingkatkan untuk menempati pos-pos institusi dan lembaga di setiap bidang. Hal ini guna mengambil kembali kejayaan Islam di masa lalu untuk menciptakan nilai-nilai universal Islam.

Sementara itu, Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan berharap kementerian yang dipimpinnya tidak lagi memainkan peran, sebagaimana di masa lalu, yang mengeluarkan izin penebangan hutan dengan maksud menyelamatkan kawasan hutan di Indonesia.

“Sekitar 40 tahun silam tugas Kementerian Kehutanan memberikan izin penebangan hutan,” kata Zulkifli.

Menurut Zulkifli, pemberian izin untuk menebang pohon di berbagai kawasan hutan juga mengakibatkan jumlah hutan primer atau hutan yang bagus di Indonesia berkurang dari 130 juta hektare menjadi tinggal 45 juta hektare.

“Saya tidak lagi memberikan izin menebang pohon yang baru,” katanya di hadapan sivitas akademika.

Rektor Prof Dr Komarudin Hidayat dalam sambutannya mengatakan, sivitas akademika sebagai orang berilmu berharap aset intelektualnya meski dimanfaatkan untuk menghasilkan sesuatu seperti kerja sama dengan lembaga pemerintahan.

“Kami punya aset intelektual, maka kami mengundang kepada lembaga pemerintah, khususnya kementerian, apa yang bisa kami kerjasamakan pasti kami akan lakukan jika bermanfaat bagi kedua belah pihak. Namun, kami bukan berarti harus datang ke kementerian untuk mengajak kerja sama, karena menurut para ulama, orang berilmu harus menjaga diri kewibawaannya,”  kilahnya.

Halal bi Halal dihadiri mantan Rektor UIN Jakarta Prof Dr Konaruddin Hidayat serta para dosen, karyawan, dan pinisepuh.