Haryatmoko: Dekonstruksi untuk Dapatkan Penafsiran Baru

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Reporter: Elly Afriani

Kampus I, UIN Online - Pemberian tidak ada yang tulus. Setiap pemberian mengharapkan pengembalian, meskipun hanya ucapan terimakasih. Maka, sebenarnya pemberian bukanlah pemberian, tetapi pinjaman yang hanya menunggu jeda waktu untuk adanya pengembalian. Ada satu memberi yang tulus, yaitu ketika lupa memberi.

Ini merupakan petikan dari penjelasan Dr Haryatmoko, tentang konsep pemberian yang didekonstruksi Jacques Derrida. Memberi memiliki makna positif sebagai bentuk kesalehan dan ketulusan. Namun, dominasi makna tersebut dipertanyakan Derrida. Melalui kritiknya terhadap potlatch yang dimaknai sebagai pemberian tulus oleh Marcel Mauss, dia menyatakan pemberian itu sebenarnya hanya memberi waktu untuk adanya pengembalian dari pemberian.

“Dekonstruksi mampu menunjukkan bahwa teks, tradisi, atau praktik-praktik masyarakat tidak mempunyai makna yang dibakukan. Derrida mengingatkan kita bahwa makna tidak dapat didominasi, karena ada keterbatasan pemikiran,” jelas Haryatmoko yang juga dosen Pascasarjana Universitas Indonesia pada Pelatihan Metode Hermeneutik dan Dekonstruksi yang diadakan Fakultas Ushuluddin (FU) di Meeting Room FU, Sabtu (12/12).

Dekonstruksi, tambah Haryatmoko, menghidupkan kembali suatu teks dengan pemaknaan baru, tidak mengganti makna, hanya menambahkan makna baru.

“Karena, teks memberi tanpa batas, tetapi juga menyembunyikan, menahan, tidak pernah selesai diterjemahkan, dan terbuka untuk dibaca,” imbuhnya.

Dekonstruksi merupakan sebuah metode pembacaan teks. Dengan dekonstruksi ditunjukkan bahwa dalam setiap teks selalu hadir anggapan-anggapan yang dianggap absolut. Padahal, setiap anggapan selalu kontekstual tidak ada makna final.

Sedangkan, potlatch yang maknanya didekonstruksi oleh Derrida, adalah acara-acara sosial yang diberikan untuk membangun posisi statusnya dalam masyarakat. Biasanya dengan cara pesta, memberikan hadiah atau pembayaran kepada orang lain. []

 

Haryatmoko: Dekonstruksi untuk Dapatkan Penafsiran Baru

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Reporter: Elly Afriani

Kampus I, UIN Online - Pemberian tidak ada yang tulus. Setiap pemberian mengharapkan pengembalian, meskipun hanya ucapan terimakasih. Maka, sebenarnya pemberian bukanlah pemberian, tetapi pinjaman yang hanya menunggu jeda waktu untuk adanya pengembalian. Ada satu memberi yang tulus, yaitu ketika lupa memberi.

Ini merupakan petikan dari penjelasan Dr Haryatmoko, tentang konsep pemberian yang didekonstruksi Jacques Derrida. Memberi memiliki makna positif sebagai bentuk kesalehan dan ketulusan. Namun, dominasi makna tersebut dipertanyakan Derrida. Melalui kritiknya terhadap potlatch yang dimaknai sebagai pemberian tulus oleh Marcel Mauss, dia menyatakan pemberian itu sebenarnya hanya memberi waktu untuk adanya pengembalian dari pemberian.

“Dekonstruksi mampu menunjukkan bahwa teks, tradisi, atau praktik-praktik masyarakat tidak mempunyai makna yang dibakukan. Derrida mengingatkan kita bahwa makna tidak dapat didominasi, karena ada keterbatasan pemikiran,” jelas Haryatmoko yang juga dosen Pascasarjana Universitas Indonesia pada Pelatihan Metode Hermeneutik dan Dekonstruksi yang diadakan Fakultas Ushuluddin (FU) di Meeting Room FU, Sabtu (12/12).

Dekonstruksi, tambah Haryatmoko, menghidupkan kembali suatu teks dengan pemaknaan baru, tidak mengganti makna, hanya menambahkan makna baru.

“Karena, teks memberi tanpa batas, tetapi juga menyembunyikan, menahan, tidak pernah selesai diterjemahkan, dan terbuka untuk dibaca,” imbuhnya.

Dekonstruksi merupakan sebuah metode pembacaan teks. Dengan dekonstruksi ditunjukkan bahwa dalam setiap teks selalu hadir anggapan-anggapan yang dianggap absolut. Padahal, setiap anggapan selalu kontekstual tidak ada makna final.

Sedangkan, potlatch yang maknanya didekonstruksi oleh Derrida, adalah acara-acara sosial yang diberikan untuk membangun posisi statusnya dalam masyarakat. Biasanya dengan cara pesta, memberikan hadiah atau pembayaran kepada orang lain. []