Harun Nasution Resmi Menjadi Nama Auditorium Utama

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Auditorium Utama, UIN Online – Prof Dr Harun Nasution, mantan Rektor IAIN Jakarta, secara resmi diabadikan namanya sebagai nama Auditorium Utama. Peresmian dilakukan oleh mantan Rektor UIN Jakarta Prof Dr Azyumardi Azra bersamaan dengan perayaan puncak sewindu UIN Jakarta di Auditotium Utama, Kamis (20/5).

Turut hadir pada peresmian itu Rektor UIN Jakarta Prof Dr Komaruddin Hidayat, sejumlah pinisepuh, serta para guru besar. “Kita ingin abadikan nama almarhum Harun Nasution sebagai nama Auditorium Utama karena beliau turut banyak berjasa dalam pengembangan kampus IAIN/UIN Jakarta,” ujar Rektor.

Azyumardi Azra menyatakan, Harun Nasution dikenal sebagai tokoh yang gigih mengembangkan dunia akademik. Hampir selama hidupnya ia abdikan di kampus, baik sebagai rektor maupun direktur program pascasarjana. Selain itu, Harun Nasution juga dinilai sebagai tokoh Islam moderat dan sangat menghargai perbedaan mazhab.

“Harun Nasution adalah tokoh pendidikan yang membuka lintas mazhab. Bahkan, ia juga sosok luar biasa karena telah menumbuhkan tradisi akademik yang toleran,” ujarnya. Harun Nasution, menurut Azyumardi, juga sangat menguasai bahasa Arab karena pernah belajar di Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir.

Harun Nasution lahir di Pematangsiantar, Sumatera Utara, tahun 1919 dan wafat di Jakarta pada 18 September 1998. Sebelum mengabdi di kampus IAIN Jakarta, Harun Nasution pernah menjadi pegawai Deplu RI di Brussels dan Kairo (1953-1960). Dia meraih gelar doktor di Universitas McGill di Kanada (1968). Setelah itu ia menjabat Rektor IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta selama dua periode (1973-1984), dan pada tahun 1982 menjabat Direktur Program Pascasarjana (sekarang Sekolah Pascasarjana, Red).

Harun Nasution dikenal sebagai tokoh yang memuji aliran Muktazilah (rasionalis), yang berdasar pada peran akal dalam kehidupan beragama. Dalam berbagai ceramahnya, Harun selalu menekankan agar kaum Muslim Indonesia berpikir secara rasional.

Harun Nasution juga dikenal sebagai tokoh yang berpikiran terbuka. Ketika ramai dibicarakan tentang hubungan antaragama pada tahun 1975, Harun Nasution lalu mengusulkan pembentukan wadah musyawarah antaragama, yang bertujuan untuk menghilangkan rasa saling curiga. (ns)

 

 

 

Harun Nasution Resmi Menjadi Nama Auditorium Utama

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Auditorium Utama, UIN Online – Prof Dr Harun Nasution, mantan Rektor IAIN Jakarta, secara resmi diabadikan namanya sebagai nama Auditorium Utama. Peresmian dilakukan oleh mantan Rektor UIN Jakarta Prof Dr Azyumardi Azra bersamaan dengan perayaan puncak sewindu UIN Jakarta di Auditotium Utama, Kamis (20/5).

Turut hadir pada peresmian itu Rektor UIN Jakarta Prof Dr Komaruddin Hidayat, sejumlah pinisepuh, serta para guru besar. “Kita ingin abadikan nama almarhum Harun Nasution sebagai nama Auditorium Utama karena beliau turut banyak berjasa dalam pengembangan kampus IAIN/UIN Jakarta,” ujar Rektor.

Azyumardi Azra menyatakan, Harun Nasution dikenal sebagai tokoh yang gigih mengembangkan dunia akademik. Hampir selama hidupnya ia abdikan di kampus, baik sebagai rektor maupun direktur program pascasarjana. Selain itu, Harun Nasution juga dinilai sebagai tokoh Islam moderat dan sangat menghargai perbedaan mazhab.

“Harun Nasution adalah tokoh pendidikan yang membuka lintas mazhab. Bahkan, ia juga sosok luar biasa karena telah menumbuhkan tradisi akademik yang toleran,” ujarnya. Harun Nasution, menurut Azyumardi, juga sangat menguasai bahasa Arab karena pernah belajar di Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir.

Harun Nasution lahir di Pematangsiantar, Sumatera Utara, tahun 1919 dan wafat di Jakarta pada 18 September 1998. Sebelum mengabdi di kampus IAIN Jakarta, Harun Nasution pernah menjadi pegawai Deplu RI di Brussels dan Kairo (1953-1960). Dia meraih gelar doktor di Universitas McGill di Kanada (1968). Setelah itu ia menjabat Rektor IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta selama dua periode (1973-1984), dan pada tahun 1982 menjabat Direktur Program Pascasarjana (sekarang Sekolah Pascasarjana, Red).

Harun Nasution dikenal sebagai tokoh yang memuji aliran Muktazilah (rasionalis), yang berdasar pada peran akal dalam kehidupan beragama. Dalam berbagai ceramahnya, Harun selalu menekankan agar kaum Muslim Indonesia berpikir secara rasional.

Harun Nasution juga dikenal sebagai tokoh yang berpikiran terbuka. Ketika ramai dibicarakan tentang hubungan antaragama pada tahun 1975, Harun Nasution lalu mengusulkan pembentukan wadah musyawarah antaragama, yang bertujuan untuk menghilangkan rasa saling curiga. (ns)