Harun Nasution, Cak Nur, dan Fachry Ali Terima Penghargaan FISIP UIN 2009

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Auditorium Utama, UIN OnlineFakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UIN memberikan “Penghargaan FISIP 2009” kepada tiga cendekiawan muslim terkemuka Prof Dr Harun Nasution, Prof Dr Nurcholish Madjid, dan Fachry Ali MA. Penghargaan yang diselenggarakan untuk pertama kalinya ini diberikan oleh Menteri Agama RI Drs Suryadharma Ali MSi didampingi Rektor UIN Jakarta Prof Dr Komaruddin Hidayat dan Dekan FISIP Prof Dr Bahtiar Effendy di Auditorium Utama, Senin (14/12).

Tiga cendekiawan itu dianggap layak menerima penghargaan karena telah meletakkan dasar-dasar pendekatan ilmu sosial dalam studi keagamaan di Indonesia, khususnya di kalangan perguruan tinggi Islam di Indonesia. “Kontribusi dan sumbangan mereka sangat besar dalam perkembangan pemikiran keislaman dan kemodernan. Mereka memperkenalkan pendekatan ilmu-ilmu sosial dalam mendekati masalah-masalah keagamaan,” kata Bahtiar.

Tampak hadir dalam acara tersebut sejumlah tokoh nasional seperti Dawam Raharjo, Sulastomo, Indria Samego, dan Siti Musdah Mulia. Selain pemberian penghargaan, acara juga dilanjutkan dengan seminar bertema Islam dan Masyarakat: Dasar-dasar Pemikiran Politik Islam Kontemporer Indonesia dengan pembicara Direktur Sekolah Pascasarjana UIN Prof Dr Azyumardi Azra, Rektor UIN Prof Dr Komaruddin Hidayat, Dekan FISIP Prof Dr Bahtiar Effendy, dan Ketua LSAF Prof Dr Dawam Raharjo.

Dalam sambutan pertamanya sebagai Menteri Agama RI di UIN Jakarta, Suryadharma Ali menilai, para tokoh tersebut layak mendapatkan penghargaan karena mereka telah membentuk tradisi keilmuan dan intelektual di IAIN. Selain itu, kiprah mereka diterima oleh masyarakat Indonesia. Bagi Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP), kehadiran tiga tokoh cendekiawan itu membuat UIN menjadi pencetus pemikiran politik Islam kontemporer. “Semoga penghargaan ini dapat menjadi pemantik bagi para tokoh lainnya untuk mengembangkan kajian Islam di Indonesia,” harapnya. []

Harun Nasution, Cak Nur, dan Fachry Ali Terima Penghargaan FISIP UIN 2009

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Auditorium Utama, UIN OnlineFakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UIN memberikan “Penghargaan FISIP 2009” kepada tiga cendekiawan muslim terkemuka Prof Dr Harun Nasution, Prof Dr Nurcholish Madjid, dan Fachry Ali MA. Penghargaan yang diselenggarakan untuk pertama kalinya ini diberikan oleh Menteri Agama RI Drs Suryadharma Ali MSi didampingi Rektor UIN Jakarta Prof Dr Komaruddin Hidayat dan Dekan FISIP Prof Dr Bahtiar Effendy di Auditorium Utama, Senin (14/12).

Tiga cendekiawan itu dianggap layak menerima penghargaan karena telah meletakkan dasar-dasar pendekatan ilmu sosial dalam studi keagamaan di Indonesia, khususnya di kalangan perguruan tinggi Islam di Indonesia. “Kontribusi dan sumbangan mereka sangat besar dalam perkembangan pemikiran keislaman dan kemodernan. Mereka memperkenalkan pendekatan ilmu-ilmu sosial dalam mendekati masalah-masalah keagamaan,” kata Bahtiar.

Tampak hadir dalam acara tersebut sejumlah tokoh nasional seperti Dawam Raharjo, Sulastomo, Indria Samego, dan Siti Musdah Mulia. Selain pemberian penghargaan, acara juga dilanjutkan dengan seminar bertema Islam dan Masyarakat: Dasar-dasar Pemikiran Politik Islam Kontemporer Indonesia dengan pembicara Direktur Sekolah Pascasarjana UIN Prof Dr Azyumardi Azra, Rektor UIN Prof Dr Komaruddin Hidayat, Dekan FISIP Prof Dr Bahtiar Effendy, dan Ketua LSAF Prof Dr Dawam Raharjo.

Dalam sambutan pertamanya sebagai Menteri Agama RI di UIN Jakarta, Suryadharma Ali menilai, para tokoh tersebut layak mendapatkan penghargaan karena mereka telah membentuk tradisi keilmuan dan intelektual di IAIN. Selain itu, kiprah mereka diterima oleh masyarakat Indonesia. Bagi Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP), kehadiran tiga tokoh cendekiawan itu membuat UIN menjadi pencetus pemikiran politik Islam kontemporer. “Semoga penghargaan ini dapat menjadi pemantik bagi para tokoh lainnya untuk mengembangkan kajian Islam di Indonesia,” harapnya. []